Beranda Lifestyle Balada Pemikat Burung Perkutut

Balada Pemikat Burung Perkutut

41
0
BERBAGI

KENDAL, (Obyektif.com) – Begitulah, Pak Kamsuri (72) dan Pak Kamin (64) penduduk Desa Sumur Wetan, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, pekerjaan sehari-harinya adalah menangkap burung perkutut, di hutan-hutan jati di sekitar tempat tinggalnya. Tetapi kadang juga menangkap di ladang, atau tempat-tempat sepi lain, yang banyak burung perkututnya. Saat ditemui, keduanya sedang berada di ladang Perumahan Kaliwungu Indah, Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Diwawancara Wartawan Obyektif.com, Aries Kunarto, MK, baru-baru ini, dua lelaki sepuh yang sedang istirahat itu menuturkan, pekerjaan aneh itu sudah dilakoninya sejak tahun 1966. Berarti sudah 50 tahunan, mereka berdua setia dengan profesinya. Pekerjaan menangkap burung, di masyarakat Jawa, sudah ada sejak zaman kuno, dinamakan tukang “pemikat burung”. Namun para “pemikat” ini, bukan menangkap burung untuk dimasak dan dimakan, tetapi dijual ke para penggemar burung, guna dipelihara.

Ditambahkan, seminggu kalau pas sepi, terkadang hanya dapat “memikat” seekor saja, dan bila dijual bisa laku Rp. 200rb. Tapi kalau sedang ramai, bisa dapat lima ekor lebih. Jadi lumayan juga pendapatannya. Disebutkan, nilai harga jual burung, tergantung jenis perkutut yang diperoleh. Kalau perkututnya dalam “karagori” bagus, “kung” nya panjang dan mampu berkali-kali dalam sekali kung, termasuk perkutut bagus dan kalau dijual bisa laku sampai Rp.1,5 jt per ekornya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan perkutut yang bagus, kadang mereka beroperasi di wilayah kawasan Hutan Resort Darupono, Palir, Mijen, KPH Kendal, dan ke kebun-kebun di mana ada suara perkutut manggung.

Dijelaskan, alat untuk memikat burung liar, digunakan cara sebagai berikut. Burung perkutut yang untuk memikat, sebagai pancingan, ditaruh di kurungan kecil, lalu diletakkan di pohon jati. Ketika perkutut pancingan ini manggung, otomatis akan mengundang perkutut liar, untuk datang, dan akan bertengger di “pangkringan” yang sudah tersedia. Di atasnya sudah ada jaring perangkap, sehingga begitu burung liar “menclok”, langsung jaring ngrukup sendiri, dan burung liar terjebak di dalamnya, sehingga dengan mudah ditangkap. Dan orang yang memikat tadi, biasanya menunggu agak jauh, kurang lebih 250 meter dari tempat yang dipasang pikat (jebakan).

Ketika ditanya suka dukanya selama jadi “tukang pikat”, dua lelaki sepuh wong ndeso itu, mengkaitkannya dengan kisah mistik. Katanya, saat memikat di Hutan Wuluh Lanjar Kaliwesi, Desa Ngarianak, Kecamatan Singorojo, Kendal, saat masang alat pikatnya di pohon jati yang tinggi, mendadak tidak bisa turun dari pohon, anehnya langsung tiba-tiba mengantuk berat, dan langsung tertidur di atas pohon. “Padahal memanjat pohon setinggi apa pun, saya sudah terbiasa. Lama saya tertidur, begitu bangun cepat-cepat saya turun, dan burung perkutut yang sudah terjaring, saya lepaskan. Saya yakin, itu burung perkutut “tingginya”. Itulah kejadian aneh yang pernah kualami,” katanya menutup wawancara. Mulai saat itu, para pemikat itu tidak berani memikat burung di tempat keramat, seperti di pepohonan makam Eyang Pakuwojo, Sunan Katong, dan lain-lain, tambahnya. (Aries Kunarto, MK).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here