Beranda Sastra Budaya Balai Bahasa Jateng dan Sajak Kaki

Balai Bahasa Jateng dan Sajak Kaki

19
0
BERBAGI

Salut dengan gerakan Balai Bahasa Jateng, yang begitu gencar mengadakan kegiatan seni budaya, khususnya bidang sastra. Di berbagai kota di Jateng, melibatkan berbagai seniman setempat. Baru-baru ini, ikut terlibat salah satu kegiatan “Merawat Kebhinekaan” dengan dua pembicara handal, Ketua Dewan Kesenian Semarang, Handry Tm dan Ketua Gerakan Moral Puisi Menolak Korupsi (PMK) Jenderal Sosiawan Leak, dipandu Suryo Handono, dari Balai Bahasa Jateng. Tentu saja acara cukup hangat, mendapatkan sambutan dari semua yang hadir.

Ada Penyair dari Jakarta Na Dhien, dari Balai Bahasa Jateng Kahar Dp, lalu Anggoro Suprapto, Jumari Hs, Didiek WS, Didit Jeepee, Sulis Bambang, Wage Teguh Wiyono, Joshua Igho, Heru Mugiarso, Setia Naka Adrian, Imam Subagio, Arya Sutha, Es Cao Dewi, Pia Cipta, Kristiani Ambar, Bre Pramono, Lukas Jono, dan para sastrawan serta seniman yang tidak dapat disebut satu persatu di sini.

Kesimpulannya, Kebhinekaan, sejak dari dulu sampai sekarang, sudah tidak ada masalah. Kebudayaan Nusantara sejak dulu selalu luwes dan lentur dalam menerima serbuan kebudayaan dari luar, baik Barat maupun Timur. Selalu bisa memilah, yang baik dipakai, dan yang jelek dibuang. Begitu papar Handry Tm.

Sedangkan Leak menyoroti, ricuhnya keadaan sekarang ini, karena sejak digulirkannya Era Reformasi, nafasnya selalu nafas politik, bukan kebudayaan. Akhirnya, kericuhan demi kericuhan selalu terjadi. Diskusi semakin hidup, setelah dapat tanggapan dan masukan dari para peserta. Pendapatnya memang beragam, tetapi hampir semuanya sama, tetap mencintai NKRI dengan Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda dan beragam, tetapi tetap satu juga, Indonesia Raya.

Dalam kesempatan itu, juga diselingi baca puisi dari para Penyair yang hadir. Diawali Penyair Wage Teguh Wiyono yang atraktif dan teatrikal. Apik membaca puisinya, sebagai seni deklamasi. Setelah itu, penonton jadi terhenyak dan kaget ketika giliran Didit Jeepee membaca puisinya: Kaki-kaki. Ia seperti jalan di tempat, menghentak-hentakkan kakinya. Berputar-putar, sambil bergumam: Kaki, kaki, kaki….dan kedua kakinya menghentak-hentak di lantai, seperti ayam mendongker-dongker tanah mencari cacing.

Hampir seharian para seniman dan sastrawan berkumpul. Di samping diskusi formal, mereka juga beramah tamah, dan kangen-kangenan. Ah, indahnya kebersamaan. Akhirnya, salut buat Balai Bahasa Jateng sebagai pemrakarsa. Lanjutkan, mengutip ucapan pejabat. Maksudnya, agar kegiatan seperti itu sering diadakan dan terus berlanjut.
(Aries Kunarto, MK)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here