Beranda Sastra Budaya Bambang Sadono, Penyair Politisi & Sumpah Setyaki

Bambang Sadono, Penyair Politisi & Sumpah Setyaki

39
0

SOLO, (Obyektif.com) – Suatu siang yang panas, aku jumpa Pak Bambang Sadono di acara PWI di Monumen Pers Solo. Selesai acara Pak BS sengaja duduk di kursi di belakangku, menungguku. “Wonten dawuh Pak?” kataku sangat sopan. Aku sadar berbicara dengan Pejabat Tinggi Negara, tidak boleh sembarangan. Apalagi sampai cengengesan, haha….”Mau titip buku,” katanya sambil menyerahkan beberapa buku kumpulan puisi terbarunya: Sumpah Setyaki. Sebetulnya, aku mau merogoh dompet untuk membayar ganti cetaknya, tapi tidak berani. Kalah awu, uang beliau, sssstttt….sudah em-eman, hehe….

Buku dengan format yang bagus ini, memuat 52 puisi Pak BS yang dikumpulkan nya dengan susah payah. Bahkan ada puisi dari tahun lawas, 1977, 40 tahun silam. Bayangkan, ketika adik-adik sastrawan zaman now belum lahir, beliau sudah menulis puisi. Di jagat sastra Semarang dan Jateng, nama Pak BS tidak asing lagi. Dia termasuk salah satu pendiri Keluarga Penulis Semarang (KPS) yang banyak melahirkan para sastrawan muda, pada waktu itu. Menjadi aktivis sastra yang militan bersama saya, Handry Tm, Timur Suprabana, Mukti Sutarman, dan teman-teman yang lain.

Menyimak puisi-puisinya, masih tetap indah dengan diksi yang terjaga baik. Lihatlah puisi terbarunya, bertahun 2017:

MUSIM SEMI DI BEIJING

Aku termangu di sini
di lorong-lorong kota terlarang
pilar-pilar beton dingin dan sunyi
di pinggir lapangan merah galau membara
aku bertanya
sambil menikmati ubi bakar di kaki lima
apa guna partai dan ideologi
kalau hanya membuat kita tersesat
dungu, gagu, lumpuh
dan cerai berai
……………………
(dst)

Bandingkan dengan puisi lawasnya, yang bertanda tahun 1977, sekitar 40 tahun lalu, masih tidak tergeser jauh. Masih bagus dan kuat imajinasinya. Simak di bawah ini:

Yang Mendesak
KITA CINTAI ADALAH

kita tak punya lagi waktu
untuk gobag sodoran
tempat bermain gundu kita adalah tanah
yang dulu menjadi pelimbahan darah
tempat petak umpet kita adalah air
yang di dalamnya penuh lintah
mengusir ikan-ikan mujahir
………………..

yang mendesak kita cintai adalah
tanah air yang terukir
dengan pena tulang kering
dan tinta warna darah
yang kita butuhkan adalah
arsitek yang berwajah air wudu
hingga bening untuk bercermin
teduh untuk bersimpuh

Puisi-puisi Pak BS masih tetap bagus, walau Penyairnya digerus waktu, diharu biru kesibukan padat yang memburu. Beliau tetap “bertahan” dengan karya-karya indahnya. Meski sekarang sudah jadi anggota DPD dan tergolong Pejabat Tinggi, tetapi dia tidak lupa asal-usulnya, dari marga wartawan dan sastrawan. Di waktu luangnya yang sempit, tetap menulis puisi. Politisi senior yang bergelar Dr. Haji Bambang Sadono, SH, MH ini, tetap rendah hati. Selalu meluangkan waktu mengunjungi teman-teman lamanya, termasuk datang ke rumahku, hehe….

Mungkin saya tidak akan membahas Puisi Sumpah Setyaki, karena bagi seorang kesatria mencintai negaranya adalah hal yang wajar, merupakan keharusan. Justeru yang menarik perhatianku adalah ucapan Pak BS di kata pengantar, yang menyebut dirinya sebagai “Penyair yang Gagal”. Mungkin karena berhenti lama untuk menulis puisi, ketika menjalani karier sebagai politisi. Haha…Pak BS menterjemahkan “puisi” sebagai “aktif menulis puisi”. Padahal menurut Penyair Sang Bayang, lelaku hidup kita yang baik adalah puisi juga. Okre, selamat malam para sahabat, salam laos, hehe….
(Anggoro Suprapto)

Foto: Koleksi pribadi BS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here