Beranda Hot News Bangunan PG Colomadu Dirobohkan

Bangunan PG Colomadu Dirobohkan

27
0
BERBAGI

SOLO, (Obyektif.com) – Perobohan bangunan Pabrik Gula (PG) Colomadu oleh Kementrian BUMN mirip Kasus Sari Petojo, waktu zaman Gubernur Jateng, Bibit Waluyo.

Oleh karena itu Kelompok Masyarakat Sipil menilai perobohan bangunan PG Colomadu oleh Kementrian BUMN seharusnya melalui konsultasi dengan pihak-pihak terkait. Soalnya, keberadaan PG Colomadu dinilai sarat dengan sejarah. Demikian dilansir http://mentari.online belum lama ini.

Penggiat Soeracarta Heritage Society (SHS) Ratna mengungkapkan,  bahwa saat ini di atas tanah bekas PG Colomadu sudah banyak bangunan yang dirobohkan, termasuk  bangunan pabrik.Tinggal, bangunan untuk administraturnya yang masih disisakan.

Seharusnya, sebelum PG Colomadu dirobohkan pihak konsorsium BUMN, dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan Balai Pelestatarian Cagar Budaya (BPCB). “Patut diduga perobohan itu tanpa konsultasi.” kata Ratna dalam diskusi membahas nasib bekas PG Colomadu, baru-baru ini.

Diakui Ratna pihaknya tidak bisa melakukan apa-apa atas perobohan bangunan PG Colomadu yang penuh sejarah tersebut. Sampai saat ini pun belum ada dokumen yang menunjuk bangunan PG Colomadu itu masuk dalam kategori cagar budaya atau tidak.

Sementara itu, Fendi, penggiat sejarah Laku Lampah, mengatakan, pola pencaplokan tanah ini mirip dengan kasus pabrik es Sari Petojo. Bangunan untuk administraturnya, kata dia, dibiarkan berdiri, tapi pabrik esnya yang dirobohkan. Pola ini, lanjutnya, juga terjadi di PG Colomadu

“Hanya bedanya tanah di Sari Petojo dikuasai pemerintah provinsi, sedangkan tanah di PG Colomadu meski dikuasi oleh PTPN IX, tapi ada kata eks Mangkunagaran. Maka kepemilikan tanahnya memang perlu ditelusur lebih dalam,” tandasnya.

Sementara itu, Ndari, dari BPCB, mengatakan bahwa pihaknya belum pernah mendata bangunan di PG Colomadu. Namun, menurutnya, bangunan di atas tanah itu patut diduga cagar budaya.“Sayangnya, untuk menentukan bangunan itu masuk kategori cagar budaya atau tidak adalah wewenang Tim Cagar Budaya  Jawa Tengah. Dan tim ini bekerja berdasarkan permintaan,” ujarnya. (mentari.online)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here