Beranda Traveling Bau Nyale, Tradisi dan Simbol Perdamaian

Bau Nyale, Tradisi dan Simbol Perdamaian

241
0

LOMBOK, (Obyektif.com) – Destinasi wisata di Lombok memang tidak ada habisnya untuk dijelajahi. Lombok yang menjadi primadona baru tujuan wisata di Indonesia kian membuat banyak orang panasaran untuk segera mengunjunginya. Pada tahun 2018 ini saja  Pemprov NTB sudah membuat kalender event pariwisata yang bersinergi  dengan pemerintah kabupaten dan kota.

Sebagai destinasi unggulan di Indonesia, Lombok sudah selayaknyalah memperbanyak event budaya sebagai bagian dari promosi daerah dan penunjang sebuah destinasi unggulan. Pemprov dan pemerintah kabupaten dan kota mempertahankan event-event yang  setiap tahun wajib diadakan.

Selain sebagai sebuah tradisi masyarakat event-event tersebut di jadikan jualan oleh pemprov NTB dan Kabupaten/Kota untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyak ke NTB. Salah satu event tersebut adalah core event Bau Nyale yang akan di laksanakan pada tanggal 6-7 Maret 2018 bertempat di Pantai Seger Kuta Lombok Tengah.

Bau nyale merupakan sebuah tradisi masyarakat Lombok untuk menangkap cacing laut yang di anggap sebagai jelmaan seorang putri Mandalika. Menurut legenda, Putri Mandalika sendiri merupakan seoarang putri raja dari sebuah kerajaan Lombok yang parasnya begitu cantik nan-ayu. Karena kecantikannnya itulah para putra mahkota dari kerajaan lain tertarik untuk meminang putri Mandalika sebagai permaisuri.

Karena saking banyaknya para putra mahkota yang mengajukan lamaran ke ayahanda putri Mandalika, maka inilah yang kemudian menjadi persoalan dalam benak putri Mandalika. Demi menghindari pertumpahan darah dan perang saudara maka sang putri memutuskan untuk menyeburkan diri ke tengah laut, tepatnya di pantai Seger Mandalika Lombok Tengah.

Sebelum menyeburkan diri ke tengah laut, putri Mandalika berucap, bahwa pada setiap tahun dia akan muncul dan menjelma menjadi Nyale (cacing laut). Nah legenda Putri Mandalika ini diyakini oleh masyarakat Lombok sebagai sebuah tradisi yang harus dijaga dan dirawat. Budaya ini sebagai simbol untuk saling menjaga perdamaiaan di antara sesama.

Nyale atau cacing laut akan muncul pada hari dan tanggal yang sudah di tentukan. Pada tahun 2018 ini Nyale di perkirakan akan muncul pada tanggal 6-7 Maret 2018. Penetapan tanggal core event Bau Nyale ini tidak boleh dilakukan dengan cara sembarangan atau asal-asalan. Proses penentuan tanggalnya harus melalui beberapa ritual yang dilakukan oleh masyarakat dan para tokoh adat di Lombok Tengah.

Proses penanggalan ini biasanya di pimpin oleh Mamiq Bayan, seorang tokoh karismatik sekaligus tokoh budaya daerah setempat. Keberhasilan penanggalan sangat ditentukan oleh kesempurnaan ritual yang dilakukan. Untuk merangkai core event Bau Nyale ini, pemerintah daerah Lombok Tengah sudah membuat beberapa agenda seperti Karnaval Budaya, Peresean, Tarian Kolosal, Seminar Budaya dan Bazar. Kegiatan ini dipusatkan di beberapa tempat seperti di pantai Kuta, Selong Belanak dan di Kota Praya. Dengan diadakan acara seperti ini diharapkan angka kunjungan wisatawan ke NTB terus meningkat. (El Sukron Prayogi, Direktur Lombok Inges Travel)

Foto: El Sukron

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here