Beranda Sastra Budaya Berburu Anak Kandung (2), Transkrip yang Didahar Rayap

Berburu Anak Kandung (2), Transkrip yang Didahar Rayap

156
0

SEMARANG, (Obyektif.com) – Maka inilah yang terjadi. Dari berburu buku-buku bekas Anak Kandung karyaku, di berbagai kota, maka langkah berikutnya, menjadi berburu transkrip yang tercecer di mana-mana. Bermula dari salah satu toko buku bekas belakang Sriwedari, Surakarta, dari penjualnya yang bernama Mas Marno, aku diberikan sebuah alamat di daerah Palur. “Bapak penulis buku-buku ini kan? Ada tetanggaku selalu mengkliping karya Bapak,” katanya. Setelah Mas Marno tahu namaku, karena memborong buku bekas milikku sendiri, dia ingat tetangganya yang katanya punya kliping tulisanku. Setelah menitipkan barang-barangku di tempat saudara dengan jasa GoRide, aku pun melesat ke alamat yang dimaksud. Seperti pendekar bayangan berkelebat menggunakan ilmu ginkangnya, haha…..

Tak lama kemudian, sampailah di alamat yang dituju. Dekat jalan raya utama memasuki gang besar, di sebuah rumah kuno yang meski musim kemarau, tapi tetap teduh. Soalnya pemilik rumah, profesinya menjual berbagai tanaman dalam pot, yang disiram air secara rutin. Ternyata pemiliknya lelaki tua yang tak pernah lepas dari topi yang dipakainya. Setelah saling berkenalan, kami duduk ngobrol di terasnya yang sejuk. Kopi dihidangkan. Wah kebetulan sejak pagi belum ngopi, hehe….Sayang tidak ada pisang goreng atau gemblong gorengnya, batinku berharap. Mau lihat kliping kok jadi ngarep-arep Edog-e si Blorok, haha….

Singkatnya cerita, aku mendapatkan kliping beberapa karyaku, dengan cara memotretnya dari kamera Hp-ku. Orang tua ini hobi mengkliping apa saja, terutama tulisan-tulisan yang berkaitan dengan tanaman. Mengkliping beberapa novelku, karena dia dulu juga agen koran, suka membaca. Jangan membayangkan zaman now, yang semuanya serba mudah dan tersedia melimpah lewat online, hehe…

Beberapa hari kemudian, saat sudah di rumah, kliping saya tata dan didata di laptop. Anakku Wawan yang profesinya di bidang multi media, tiba-tiba nyeletuk, kalau diam-diam dia juga selalu mengkliping tulisanku. Aku kaget dan bertanya, ditaruh di mana kliping-klipingnya? Maka siang itu, aku diajak ke Rumah Gunung, rumah lamaku yang berada di bukit Bongsari, daerah Semarang Barat. Waktu muda dengan ibuku, aku tinggal di sini. Di sebuah almari kuno besar, Wawan membukakan kuncinya. Aku kaget campur gembira melihat kliping berbagai tulisanku tertata rapi, ada 7 jilid besar, berisi berbagai artikel, cerpen, puisi, novel, cerita anak-anak dan lain-lain. Beberapa transkrip, seperti serial Matindo misalnya, malah sudah mulai didahar Tuan Rayap, hehe….Saya hitung, novel yang dimuat bersambung di berbagai media, ada 20 novel lebih. Terima kasih Wawan, ternyata kamu menyimpan “harta” ku dengan baik, hehe….

Wawan diam-diam mengkliping, karena aku pernah cerita ke dia, kalau hasil karya, terutama bentuk literasi, adalah abadi. Ahli warisnya pun bisa menerbitkan kembali, dan menjualnya. Sejak itulah diam-diam dia mengklipingnya. Wah, tidak mudah ini nanti
menyimpannya dalam bentuk digital. Harus transkrip ulang semuanya. Untung laptopku, hardisknya sudah terbaru, berkapasitas satu tera. Harus punya satu asisten khusus untuk mengetiknya ulang. Asistennya harus ABG muda dan cantik, dan harus memakai celana pendek ketat. Hihi, imaginasi edan-edanan, hehe….

Setelah dibawa pulang dan dipilah-pilah, ternyata ada beberapa naskah Neny Anggraeni juga, Putriku yang suka nulis. Menggunakan kertas merang, kertas CD buram agak kecoklatan. Ketikannya, masih menggunakan mesin Tik Jowo, dan banyak tipek-kannya. Ada beberapa cerpen dan cerita anak-anak. Sejak SMP dia memang sudah nulis dan mengirimkannya ke berbagai media, terutama Suara Merdeka. Kalau dapat honor, aku masih ingat, dia sukanya jajan bakso sama teman-temannya, hehe… Setelah lulus kuliah, dia banyak menghasilkan buku, kontrak dengan Gramedia. Maka tidak heran kalau dia baru saja menerbitkan bukunya “Saridin” setebal 600 halaman. Ini sudah memasuki cetak ulang kedua. Dia belum tahu kalau naskah-naskahnya ditemukan, hehe….

Dari kliping yang kudapat, ada juga lukisan komikku. Aku dulu juga melukis komik, dan menjualnya. Ada beberapa jilid, yang saya jual ke Pusat Penerbit Komik di Mangga Dua, Jakarta. Kemudian satu jilid lagiĀ  diterbitkan seniorku Pak Hari Bustaman, Pimred Mingguan Bahari, di medianya secara bersambung. Aku ingat, waktu muda betul-betul mengandalkan hidup dari berkesenian, hehe…

Untuk melacak buku-bukuku, kliping dan transkrip, tidaklah mudah. Di zaman era digital, masak mencarinya lewat jalan darat. Kata para sahabatku, bisa menghabiskan puluhan sepatu, haha…Meski begitu, semuanya harus kulakoni dengan sungguh-sungguh. Bila buku dan naskahku tidak ada rekam jejak digitalnya, harus diusahakan ada. Untuk menerbitkannya ulang, juga tidak sederhana. Pertama, kliping naskah yang sudah terbit di media cetak, harus diketik ulang. Prosesnya bisa lama, karena satu novel, bisa mencapai 300 halaman. Ini ada lebih dari 20-an novel. Belum naskah yang lain, cerita anak, cerpen, artikel, dan lain-lain. Itu baru dari segi pengetikan. Kedua dari segi aktualisasinya, harus disesuaikan zaman now, biar seperti semboyannya Tempo: Enak dibaca dan perlu, hehe…

Tapi paling tidak, aku sudah menemukan anak-anak kandungku yang tercecer. Padahal tidak sengaja mengecer anak di mana-mana loh, haha… Setelah menemukan mereka semua, langkah berikutnya tidaklah mudah. Pekerjaan baru justeru malah baru dimulai. Tetapi, era sekarang, terasa lebih ringan, karena semuanya sudah komputerisasi. Kalau males mengetik lagi, juga sudah ada aplikasinya, scan dan wuss, bisa jadi ketikan rapi lagi, hehe…. Sebelum menutup tulisan panjang ini, kuucapkan tetima kasihku, pada Penyair Muda dari Kaltara, Mas Thobroni, yang diam-diam ikut mencatatnya dalam jejak digital, lewat situsnya: http://ambau.id. Itu baru bicara naskah dalam bentuk kliping dan transkrip. Di komputerku sudah banyak juga yang baru, yang harus cepat diselesaikan. Okre, para sahabat tercinta, selamat pagi, salam laos, hehe….(Anggoro Suprapto – Selesai)

Gambar: Buku-buku karya Anggoro Suprapto (Foto: obyektif.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here