Beranda Sastra Budaya Berburu Anak Kandung Buku Bekas (1)

Berburu Anak Kandung Buku Bekas (1)

59
0

SEMARANG, (Obyektif.com) – Suatu pagi, aku dapat telepon dari Mbak Mariana: Mas Ang, buku-buku jenengan, diobral di Pameran Buku Gramedia Pandanaran. Dilebeli harga, 10 ribuan. Aku beli dua, masih ada setumpuk, katanya. Setelah saya tanyakan, ternyata bukuku kesehatan “Hidup Sehat cara Vegetarian” yang diterbitkan Gramedia, dua tahun lalu. Setahuku buku itu resminya dijual 35rb per buku. Siangnya, ketika aku datang mau tak beli sendiri, ternyata sudah habis. Kupikir, kok cepat sekali bukuku sudah diobralkan, berarti buku tersebut sudah dianggap kadaluwarsa dong, eh ding dong, hehe….

Sejak itu, aku meluangkan waktu untuk memburu bukuku yang diobralkan di berbagai pameran buku, atau di lapak buku loak atau buku bekas. Tidak hanya kukerjakan sendiri, tetapi juga menyebar mata-mata, lewat perwakilan Obyektif Group di berbagai kota. Soalnya bukuku yang sudah dicetak, cukup banyak. Setiap judul biasanya punya nomer bukti antara 5 sampai 10 eksemplar. Tetapi lama kelamaan menguap karena berbagai sebab. Dipinjam teman, tidak kembali. Diam-diam diambil anak atau kerabat. Bilang mau dibaca, tapi pulangnya si buku lupa jalan alias ketlingsut, hehe…

Bagiku, buku yang sudah kulahirkan, seperti anak kandungku sendiri. Menurut ajaran orang Jawa, bekas pacar atau bekas isteri, ada. Tetapi bekas anak, tidak ada. Berdasarkan ajaran itulah, maka kucarilah anak-anakku, sambil menyanyikan lagu: Ada anak bertanya pada Bapak, haha….Lagu pop apa dangdut ya?

Pertama, kukosek lapak buku bekas terbesar di Semarang, di belakang stadion Diponegoro, di kios-kios yang berderet memanjang, kucari mereka. “Ning endi dunungmu Nang,” gumamku. Pengembaraan tidak hanya di pusat buku bekas Semarang saja, tetapi bergerak terus (meminjam istilahnya Mas Leak Sosiawan: Terus bergerak….). Lah opo orak kesel, bergerak terus. Meski begitu, sampailah aku ke pusat buku bekas kota lain, di belakang Sriwedari, Solo. Wah, di sini ramai juga. Harganya gertakan. Kita digertak dengan harga mahal, kita harus berani gertak balik, menawar semurah-murahnya, haha…Anehnya, dikasihkan loh.

Hari-hari terus berlalu. Perburuan dilanjutkan ke kota Yogyakarta yang penuh kenangan. Pusat-pusat penjualan buku bekas, sudah berubah. Terbesar di Bookstore Shoping Centre, Kompleks Taman Pintar, Jl. Sriwedani (bukan Sriwedari ya), di sini ada sekitar 124 kios. Setelah ublek-ublek hampir seharian, maka kuputuskan pindah ke pusat buku bekas yang lain, di daerah Terban. Sepanjang jalan Terban sampai Tugu, berjejer kios  buku bekas. Kalau nama jalannya, kubaca, Jl. Kahar Muzakir, daerah Terban, Gondokusuman. Nah, sementara berburu di wilayah Joglo Semar dulu, hehe..

Hasilnya, ada dua dus besar bukuku ketemukan. Buku non-fiksi, di antaranya, Hidup Sehat cara Vegetarian, Seni Merangkai Janur, Buku Petunjuk Pajak, Komunikasi Bisnis, dan lain-lain. Fiksi, kumpulan cerpen Wagiyem dalam jumlah banyak. Maka saya beli borongan, hehe…Serial Reformasi, Jatuhnya Suharto, juga banyak ditemukan. Sedangkan Megawati menuju gerbang Istana, Gus Dur yang dicintai dan dilengserkan, kucari di mana-mana tidak ada. Novel serial Sahadewa, hanya Nyanyian Sepanjang Jalan yang ketemu. Matahari Merah dan satunya lagi, Padang Ilalang Gersang, tidak ditemukan. Buku kumpulan puisi Album Biru Pertama, juga banyak dijual di eceran. Juga Lawangsewu, dan lain-lain, masih ada. Wah, jika mau dibeli semua terus ditaruh di mana? Rumah sudah sesak, haha….

“Kalau mau ketemu lebih banyak lagi, ya ke Batam dan Jambi,” kata sahabatku Haji Suwanto pimpinan Penerbit Aneka Ilmu menyarankan. Dia pernah melihat banyak bukuku di situ. Tetapi aku berpikir, kalau pengembaraanku terlalu jauh, diriku dikhawatirkan orang rumah, bisa hilang. Atau….sengaja menghilang, haha…..(Anggoro Suprapto – Bersambung)

Gambar: Buku-buku karya Anggoro Suprapto. (Foto: obyektif.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here