Beranda Hot News Cemburu Buta, Kakek – Nenek Mati Sampyuh

Cemburu Buta, Kakek – Nenek Mati Sampyuh

109
0
BERBAGI
Kakek - Nenek cinta sampai tua dan sampai mati. (Foto: http://www.hipwee.com}

SEMARANG, (Obyektif.com) – Cemburu buta, tidak hanya untuk kaum remaja saja, tetapi kakek dan nenek pun yang sudah berusia 70 tahunan bisa dihinggapi rasa cemburu berlebihan. Akibatnya mereka bertikai, dan mati sampyuh, atau sama-sama meninggal dunia. Tragis memang, tetapi para anak, menantu dan cucunya tidak bisa berbuat banyak. Sedangkan para tetangga, hanya bisa geleng-geleng kepala.

Begitulah, kejadian yang menggemparkan belum lama ini terjadi di Desa Randugarut, Kelurahan Randugarut, Kecamatan Mangkang, Semarang. Kakek Jasman (nama disamarkan) sudah lama pencemburu berat, meski usianya sudah 75 tahun dan istrinya 68 tahun. Kalau sudah cemburu, istrinya Sarminah (juga bukan nama sebenarnya) dianiaya, misalnya digebuki. Pernah juga si istri dipukul palu kepalanya. Tentu saja luka parah dan masuk rumah sakit.

Menurut penuturan salah orang kerabatnya, Kunarto, hari itu si kakek kumat lagi rasa cemburunya dan uring-uringan. Kakek menuduh istrinya ada main dengan Riyono pemuda tetangganya. Sudah lama si Kakek, mencurigai istrinya selingkuh dengan pemuda tersebut. Sarminah, tentu saja menolak tuduhan itu. “Saya ini sudah tua, nenek-nenek peyot, masak main-main sama brondong,” kata si Nenek sambil bersumpah. Tetapi kakek yang sudah dihinggapi rasa cemburu, mana percaya.

Siang harinya ketika si Nenek sedang mencuci baju di belakang rumah, entah dapat inspirasi dari mana, Kakek mengendap-endap dari dalam rumah mendekati Nenek. Tanpa berkata sepatah kata pun, si Nenek disiram bensin dan disulut. Maka wanita tua itupun seluruh badannya langsung berkobar api, dan lari berjingkrakan, sambil teriak-teriak minta tolong. Untunglah para tetangga ramai-ramai menolongnya. Dan karena sekujur tubuhnya melepuh, langsung dibawa ke rumah sakit. Beberapa hari kemudian si Nenek meninggal dunia.

Kakek merasa sedih, dan menyesal, mendengar isteri tercintanya meninggal dunia. Ia merasa terpukul dan mencoba melukai dirinya-sendiri dengan senjata tajam. Mungkin maksudnya mau bunuh diri. Karena luka-lukanya cukup parah, oleh warga segera dilarikan ke rumah sakit setempat. Beberapa hari kemudian, kakek pun tewas akibat luka-lukanya. Jadinya, tidak sampai dua minggu, Desa Randugarut harus berduka dua kali.

Warga disibukkan upacara penguburan dan upacara pelengkap kematian yang lain, seperti niga hari, nujuh hari, dan lain-lain. Tapi kisah kakek dan nenek yang karena cemburu kemudian “mati sampyuh” atau sama-sama tewas itu, merupakan berita hangat di kalangan penduduk, lebih heboh dari kisah politik di tanah air. Keduanya pun dimakamkan bersebelahan, di makam desa setempat. Betul-betul cinta sehidup semati. (Arieska/Rabun)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here