Beranda Puisiku Puisimu Di Sebuah Surau Tua

Di Sebuah Surau Tua

43
0

Puisi Gunoto Saparie

DI SEBUAH SURAU TUA

aku pun singgah di sebuah surau tua
melepaskan penat seusai perjalanan panjang
aku hanya musafir lanjut usia penuh noda
azan subuh mungkin sebentar lagi berkumandang

di depan mihrab seseorang mengeja yasin
suaranya rawan mungkin mirip tangisan
bersimpuh di tikar pandan robek sebagian
ditingkah desis angin dingin di dedaunan

aku pun mengambil air wudu di kulah
sejuk tak terkira, menghapus sedikit lelah
ah Tuhanku, aku lupa kapan sujud terakhirku
di bawah petromaks betapa fana bayang-bayangku

 KEPADA SAPARDI DJOKO DAMONO

aku mencintai hujan bulan februari
barangkali sesederhana cinta punyamu
maafkanlah aku, kupinjam payungmu
untuk diam-diam mendaras duka-Mu abadi

ingin benar aku menyaru jadi penyair
selalu menulis puisi tentang hujan
tapi menaklukkan kata aku tak juga mahir
bayanganmukah berkelebat di tembok, bukan?

DALAM GELAP

dalam gelap kamar ternyata aku bisa melihatmu
aku tahu pandang matamu, aku menerka senyummu
aku mengerti pesona nyala tubuh telanjangmu
aku terpukau cintamu, ah tak terperi nafsu purbamu

dalam kelam kamar hasratku hanya menaklukkanmu
aku menyebut namamu, kau memanggil namaku
aku suka detak jantungmu, kau senang dengus napasku
hatiku menembang asmaradana mendayu-dayu

kukagumi, nimas, licin halus putih kulitmu
namun cerlang matamu terpejam dalam ciumanku
kita jantan dan betina tak lalai berkelindan selalu
sepanjang malam berahi terus mengharu biru

dalam gelap kamar aku dan kau bertukar pandang
terseret arus rindu melambung terbang melayang
cintaku sahaja, namun libido mudah menggelombang
kehendakku sederhana, o, aku hanya ingin kau seorang

Jalan Taman Karonsih, Ngaliyan, Semarang 50181.

(Foto: http://info sastra.com)

GUNOTOSAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain. Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK).  Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here