Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
Figure1 Komentar  |  351 Pembaca

BADAI KRITIK BAMBANG SADONO
Ditulis Oleh :Anggoro Suprapto, Pada Tanggal : 28 - 01 - 2012 | 08:36:46

Ada  ucapan terkenal beberapa waktu lalu: Barang siapa menabur angin, akan menuai badai. Namun bagi Pak BS (Bambang Sadono), tidak usah menabur angin pun, langsung menuai Badai Kritik yang jumlahnya cukup banyak, dari para sahabat, teman, dan juga tokoh-tokoh terkenal lainnya. Tidak main-main, ada Kukrit Suryo Wicaksono CEO Suara Merdeka, Gubernur Bibit Waluyo, Dahlan Iksan, Tjahjo Kumolo, Mahfud MD, dan para politisi Senayan terkenal lainnya. 

Kok bisa? Nah ini masalahnya. Jangan sebut BS, kalau tidak bisa menjungkirbalikan keadaan, bagaimanapun situasinya. Seniman dan politisi cerdas ini melihat kahanan (meminjam bahasanya Timur Sinar Suprabana), negeri ini yang semakin carut marut. Pemimpin tidak mau mendengarkan rakyatnya dan hanya memikirkan diri sendiri dan golongannya saja. Isitilahnya, membutakan mata dan menulikan telinga. Kuping budheg, moto piceg, maaf, ungkapannya memang begitu. Ungkapan orang Jawa yang sudah terkenal. Jangankan hanya kritikan pedas, ditegur keras, diteriaki,  ditinju, dikepruk sekalipun, tetap ndableg, dan terus berjalan.

Korupsi tetap merajalela, Para Pemimpin dan Wakil Rakyat, seakan-akan hanya mengurusi renovasi gedung lembaganya masing-masing, yang menelan dana tidak sedikit. Puluhan sampai ratusan miliar rupiah. Sementara rakyat kesulitan.Gedung SD banyak yang sudah rusak, jembatan desa runtuh, lapangan kerja sempit, angka kemiskinan dan pengangguran meningkat, dan lain-lain problema demi problema yang menimpa rakyat negeri ini. Setiap hari media massa, terutama TV menyiarkan ini, gencar memberitakannya. Lalu berubahkah mereka? Sama sekali tidak.

Kritikan, meski setajam silet, tetap tidak mempan. Bahkan, dengan politik pencitraan, mereka anti kritik. Kalau ada yang mengkritik atau mengkritisi, dianggap menyerang. Dalam keadaan seperti ini, BS ingin mengembalikan jati diri budaya bangsa. Tetap menjadi bangsa yang santun, bangsa yang ramah, yang punya budaya malu. Kritikan, dari manapun datangnya dianggap sebagai vitamin bagi orang yang berpikir cerdas. “Kalau dipuji, diam-diam buanglah ke tempat sampah. Tetapi kalau kritikan, taruhlah di cawan emas,” tuturnya dalam wawancara dengan Obyektif Cyber Magazine, di rumahnya yang teduh, kompleks perumahan Graha Padma Krapyak, Semarang, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Oleh karena itu, suatu sore dia mengemailku. “Pak Ang, tolong aku dikritik. Jangan panjang-panjang, dan langsung emailkan kembali ke emailku ya,” katanya. Ketika saya konfirmasi, kritikan yang bagaimana? Dijawab, apa saja tentang dirinya, bahkan kritikan yang paling kurang ajar sekalipun, tetap akan diterimanya. Karena kesibukan, agak lama kritikanku belum masuk juga ke emailnya. Mungkin menduga aku kesulitan mengkritiknya, atau karena rekuh pakewuh, dia selalu meng-SMS-kan kritikan yang sudah masuk ke Hp-ku.

Misalnya kritikan Dalang ugal-ugalan dari Tegal, Ki Enthus Susmono. Saya kaget juga. Berani mengatakan BS, bodoh, pelit, dan lain-lain. Edan, pikirku. Kalangan seniman Semarang  pun heboh. Kalau ketemu, saling bertanya: “Sampeyan wis ngritik BS?” Begitu selalu pertanyaannya. Lebih gilanya lagi, BS juga memposting kritikan yang sudah masuk lewat Facebook (FB), setiap hari secara rutin. Kritikan Unggulan yang sudah masuk ke emailnya, selalu ditampilkan di FB, dari mana saja datangnya. “BS itu bodoh, tidak berani poligami,” salah satunya yang ditampilkan.

Ending-nya, inilah bukti kehebatan BS, semua kritikan itu dibukukan, dihimpun jadi satu dan diterbitkan. Terlepas dari tujuan mulia seperti saya katakan tadi: Ingin mengembalikan budaya bangsa yang santun, yang punya rasa malu, yang mendengarkan kalau dikritik, dan lain-lain, sesungguhnya, buku ini bisa dijual dan mendapatkan royalti. Berarti jinten (sebutan uang di kalangan wartawan) bisa mengalir ke kantongnya BS. Tidak hanya sebatu, dua batu (istilah wartawan, sebatu = Rp.1juta), mungkin saja bisa puluhan batu dan bahkan ratusan batu. Ah, BS sahabatku. (Anggoro Suprapto).

                                                       -----------------------------------------------------

TARUH  KRITIKAN DI  BOKOR KENCANA

Salah satu kata-kata mutiara dari dalang favorit saya Ki Nartosabdho adalah: Tempatkan pujian di tempat sampah, dan celaan di bokor kencana. Artinya pujian justru bisa mencelakakan kita, tetapi kritik justru harus dihormati, karena bisa memperbaiki kita. Nasihat yang selalu saya sampaikan kepada anak-anak saya. Hanya orang yang tahu kesalahan atau kekurangannya, yang akan bisa memperbaiki diri, menuju kualitas yang lebih baik.

Mencari kekurangan diri biasanya sulit, karena itu perlu dibantu orang lain. Belajarlah menerima kritik, walaupun mungkin pahit.  Bahkan ada kritik, yang mungkin disampaikan dengan iktikad kurang baik  sekalipun, sebenarnya menjaga kita agar menjauhi hal-hal yang dikritisi tersebut.

Dalam usia 55 tahun ini, saya ingin belajar dari kritik, apa pun motivasinya. Siapa tahu ada manfaatnya untuk siapa saja, paling tidak untuk anak-anak saya. Banyak penyumbang tulisan ini, yang mula-mula keberatan untuk memberikan kritik. Mungkin tidak nyaman, dan takut membuat saya kecewa. Ini memperkuat kenyataan, kritik belum menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat kita. Namun apa pun yang akhirnya ditulis, saya sangat berterimakasih.

Kesan saya, kritik diberikan tergantung pada yang dikritik dan siapa  yang mengkritik. Ada yang merasa kritik yang halus, dianggap cukup. Ada yang menyelimuti dengan pujian. Tetapi ada pula yang perlu menyampaikannya secara lugas dan tajam. Dalam segala bentuk dan ragamnya, semua kritik berguna.

Agar lebih fair, saya tidak berniat menilai kritik-kritik tersebut, kelayakan dan penyuntingan sepenuhnya saya serahkan kepada editor buku ini. Untuk itu juga saya sampaikan terimakasih atas jerih payahnya.

Semarang, 30 Januari 2012 - Bambang Sadono.

                                                  ---------------------------------------------------

BUKU: BAMBANG SADONO, SEJUMLAH KRITIK

Editor: Moh. Nafid Sasetyo, Desain Sampul: Ratih Banowati, Ilustrasi Sampul: Joko Susilo, Penata Letak: Elang Mohammad

Hak Penerbitan ada pada @2012Citra Almamater, Cetakan: Pertama Januari 2012. Hak cipta dilindungi undang-undang:  Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. Jakarta - Indonesia 2012 , Jakarta, Januari 2012, ISBN 978-979-711-354-3

Penerbit: CITRA ALMAMATER & MAJALAH LEGISLATIF: Bambang Sadono Sejumlah Kritik, 151 Hlm. 14 X 21 Cm

Daftar Isi

KATA PENGANTAR       ix

DIPENGARUHI BUDAYA MENULIS/Abdullah Fikri Faqih     1

KARYA BS JARANG TERDENGAR/Abu Nafi    2

DIHARAPKAN KOMUNIKASI ARUS BAWAH/A.Chalwani Berjan     3

A

BS SERING DIANGGAP PLIN PLAN/Addy Susilobudi              4

BS SEWENANG-WENANG/Agoes Dhewa        5

BS LEBIH MEMBELA KELUARGA/Agoes Sofyan       6

BS ANGGAP SEMUA SAMA DENGAN DIA/Agung Prasetyo DJ     7

OASE DI TENGAH SIKAP ELITIS/Agung Priyambodo            8

BS MAKIN SAYUP/Agus Fatchur Rahman       9

BS HARUS MENERUSKAN TRADISI/Agustin Teras Narang            10

SEMUA DAERAH INGIN DIMENANGI/Ahmad Djumali 11

BS ASYIK DENGAN DIRINYA/Ahmad Muqowam         12

TEMAN HANYA NUMPANG LEWAT SAJA?/Aji Angkat           13

BS KURANG IKLAN/Alvin Lie       14

BS KURANG MENDENGAR INPUT ORANG/Aminullah Yunus         15

KECERDASAN BS HANYA UNTUK POLITIK/Amir Machmud NS     16

BS EMOH PILIH “NELAYAN TANGGUH”/Amirudin       17

BS KAKU DAN SUKA NYETIR TEMAN/Anggoro Suprapto   18

BS ANAK KANDUNG AUTISME POLITIK/Anis Sholeh Ba'asyin       19

BERTAUBATLAH, KAWAN!/Antock Adi Krisdianto    20

BS JANGAN RESAH DIKRITIK/Anton Tabah     21

BS NGUSURI BANYAK HAL/Arief Hidayat         22

SB AGAR LEBIH VOKAL/Arief Mudatsir Mandan        23

DIHARAPKAN MENINGKATKAN KINERJA/Arif Awaludin      24

BS MEMBABI BUTA BELA TEMAN/Aris Junaidi          25

BS SABARNYA KELEWATAN/Atal S Depari     26

BS BIKIN KAWAN MERASA TERSISIH/Ateng Winarno          27

BS JANGAN MERASA DIHUJAT/Atyoso Mochtar       28

BS JARANG HADIR DI RAPAT KOMISI/Aziz Syamsudin        29

B

BS: PARADOX DKJT/Bambang Ismanto          30

BS TANAM, ORANG LAIN YANG PETIK/Bambang Set           31

BS TAKTU KETIDAKSEIMBANGAN/Bambang Soesatyo      32

BAIKNYA, KELEMAHANNYA/Bambang Yeyek 33

BS SERING GANTI HP/Begog D. Winarno        33

PAPA MARAH SEBENTAR, LALU TERTAWA/Bambang YR Sadono  34

BS HARUS TUNJUKKAN KARAKTERNYA/Banjar Chaeruddin        35

BS TANPA EKSPRESI/Bekti Maharani  36

PERTAHANKAN KARAKTER TAK SOMBONG/Bibit Waluyo 37

AWALNYA SEBAGAI YANG ANGKUH/Bimo Bayuaji   38

TAK JELAS NGALEM APA NGELOKKE/Bintang Hanggoro Putra 39

BS KURANG TEGAS/Budi Supriyanto  40

BS KUAT DI OBSESI/Budi Susilo            40

C

VISI BERORGANISASI BUAT BS/Cahyo Yusuf            41

JANGAN PUTUS DI TENGAH JALAN/Cicuk Sastrosoedirdjo           42

D

MANA KRITIKNYA KE SAYA?/Dahlan Iskan      43

APA BS IKHLAS DENGAN KRITIK INI?/Dinar Koesoemoadji            44

BS GAGAL PIMPIN DKJT/Djawahir Muhammad          45

BS RAJANYA NGEYEL/Djunaedi Tjunti Agus  46

BS BICARANYA MUBENG-MUBENG/Dyah Setyawati            47

E

BS AGAR SERING TURBA/Edy Santoso, SH   48

BS BERISIKO TINGGU GAGAL/Eko Laksanto  48

BS TIDAK PAHAM PARTAI/Effendi Gazali         49

PERTAHANKAN TRADISI BACA-TULIS/Effendy Choirie        50

BS HEBAT BUKAN SEBAGAI WAKIL RAKYAT/Eko Budihardjo       51

BS BELUM BANGUN RUMAH ALLAH/Endang Suhartini Sutikno   52

BS PELIT, IRIT, DAN NYETILI/Enthus Susmono           53

BS KURANG DI SPIRITUAL KEAGAMAAN/Erlyn Indarti         54

KETEMU TAPI TAK MENYAPA/Esmi W 55

F

BS BELUM DIKENAL BANYAK ORANG/Febrie Hastiyanto   56

BS MENGGAMPANGKAN KOMUNIKASI/Ferry Mursyidan Baldan  57

G

TAK PERNAH BERMANIS-MANIS/Gayus Lumbuun   58

BS TEGA TINGGALKAN PROFESI/Ghufron Hasyim   59

BS PELIT SENYUM DAN PRAGMATIS/Gunoto Saparie         60

H

BS PILIH KOMPETISI, TIDAK KOOPERASI/Hadi Supeno       61

FENOMENA ANAKRONISTIS/Hajriyanto Y Thohari    62

BS ITU SUKA MAKSA ORANG/Handry TM        63

BS CUEK PADA REKAN PERS/Haryanto Mega          64

JANGAN DIBERI LABEL MENGENASKAN/Haryono Suyono           65

DIMINTA NGURI-NGURI KEBUDAYAAN/Hendrar Prihadi       66

BS TIDAK SUKA DETIL/Hendro Basuki 67

BS TERKESAN LEMBEK/Heru Emka     68

BISA NYEMPAL DARI KEJAWAANNYA/Herutjahjo Soewardojo     69

BS BELUM BERHASIL REGENARASI/Hinca IP Pandjaitan   70

I

MENUNGGU LANGKAH POLITIK BS/Ida Budhiati       71

TERBENAM DALAM PUSARAN WACANA/Ilham Arief Sirajuddin   72

BS KURANG KOMPETITIF/Imam Anshori Saleh          73

BS ITU RAJA TEGA/Iriyanto          74

BS SELALU IKUT ARUS/Irwan Hidayat  75

KEDODORAN DAN KEPONTHAL-PONTHAL/Isdiyanto          76

BS POLITISI YANG LIPSERVICE/Itos Budi Santoso   77

J

BS LUPAKAN AKAR KARIRNYA/J.F.X. Hoery  78

TERLALU PERCAYA, BISA JADI BUMERANGH/Jayanto Arus Adi    79

BS PERLU KESEIMBANGAN/Joshua Igho BG            80

K

BS APA SANGGUP MEMELIHARA?/Khofifah Indar Parawansa     80

BS DENGAN SENYUM MENGINJAK KAKI/Kukrit Suryo Wicaksono          81

L

BS LUPA BANYAK HAL/Lintang Ratri Rahmiaji          82

BS KEHILANGAN PENA TAJAMANNYA/Lukas Lukmana      83

M

BS BELUM ZAKATKAN KEILMUANNYA/M Iqbal Wibisono    84

BS KEKURANGAN ENERGI/Muhammad Adnan         84

BS SERING DIJADIKAN OBJEK/M. Izuddin Nanang Haromi            85

SERUAN BUAT BS/Machroni       85

BS BICARANYA DATAR/Mahfud MD      86

8 “JERAWAT” DI WAJAH BS/Marco Manardi    87

BS ITU WELAS TANPA ALIS/Maria Ardhie        88

BS ITU MBAHE YAHUDI/MC Supriyadi (Jalidint)          89

BS PERLU INGAT REGENERASI/Muchamad Yuliyanto        90

BS KORBANKAN PERASAAN TEMAN/Mukti Sutarman Espe         91

N

KEKUARAN BICARA BELUM DITEMUKAN/Najahan Musyafak        92

BS LUPA BERPUISI/Nia Samsihono      93

BS HANYA NGURUS YANG KUAT/Nuril Arifin  93

LANGKAH MUNDUR BAGI BS/Noor Achmad   94

BS ALAMI KEMUNDURAN MENULIS/Nunik Sri Yuningsih    95

BS HARUS BERBENAH/Nur Hidayat Sardini   96

BS SENANG DIKEJAR-KEJAR/Nurochman Sudibyo YS      97

O

PERTAHANKAN KARAKTER KRITIS/Okky Imam Priyanto    98

P

BS PERLU MEMBAGI WAKTU/Pahlawansjah Harahap         99

BS TAK KONSISTEN BINA KONSITUEN/Parlindungan Manik          100

HARUS TERJEMAHKAN KAIDAH KEILMUANNYA/Paulus Hadisuprapto  101

BS TAK HADIR DALAM MASALAH BURUH/Prabowo Luhsantoso 102

BS, OBELIX ZAMAN DIGITAL/Prie GS     103

R

PERLU LEBIH DEKAT LAGI DENGAN RAKYAT/Rahmulyo Adiwibowo     104

BS SABAR DIKECEWAKAN/Resky Ristyanto 104

BS TAK PERLU JADI EKSEKUTIF/Rasdi Ekosiswoyo           105

TERSENYUM, GAMPANG-GAMPANG SUSAH/Ratya Kirana Sadono        106

BS ANGGAP ORANG LAIN ANAK KECIL/Restu Lanjari         107

BS TEGAS, TAPI LUPA TERSENYUM/Ricky Rachmadi         108

DIPECAT TAPI DIGAJI/Rosa Widyawan            109

BERAT, MENIRU YANG DICONTOHKAN BS/Rukminingtyas Utami            110

BS HARUS LEBIH ERAT MENGIKAT/Rustono 111

S

BS MENGKRIMINALKAN PERS/Sabam Leo Batubara           112

BS PRAGMATIS & ABAIKAN PROSES/Sadono Priyo            113

BS POLITISI ANGIN-ANGINAN/Santi Utami        114

BS PERLU KOMUNIKASI SOSIAL/Seno Samudro      114

SERING JADI SUMBER MASALAH/Sasongko Tedjo 115

BS DIANJURKAN GANTI PRINSIP/Sutoyo Abadi         115

BS TAK HUMANIS PADA PEGAWAINYA/Setya Yuwana Sudikan   116

NDABLEG & SUKA LUPA TEMAN/Sisdiono Ahmad  117

YANG TURUN KE BLORA MASIH KURANG/Siswanto            118

BS JURNALIS BERHOBI POLITIK/Slamet Effendy Yusuf       119

BS PILIH JENANG KETIMBANG JENENG/Soejatno Pedro HD         120

BS SEAKAN SUDAH GUBERNUR/Soetjipto     121

BS TAK MURAH SENYUM/Sofyan Lubis           122

BS MASIH HARUS BELAJAR MEMAAFKAN/Sri Humaini Adisusilo           123

BS ITU ITUNG-ITUNGAN/Subakti A Sidik           124

BS “KORBAN” KURANGNYA PEMAHAMAN/Sudhamek AWS          125

BS TAK CERMAT BACA PETA SOSIAL/Sudharto      126

MINIMAL LINGKUNGAN TERDEKAT/Sudijono Sastroatmodjo        127

BS ITU BUKAN BIDOKRAT/Sudjadi         128

TIGA SARAN BUAT SANG PENGAJAR/Sunarto          130

BS SUDAH SAATNYA TURUN PANGGUNG/Suradi Alkarim  131

SAATNYA MAWAS DIRI/Sutrisna            132

T

BS OVERCONFIDENT/Tarman Azam    133

AGAR LEBIH BERMANFAAT/Thomas Budi Santoso 133

BS INGINNYA JADI POLITISI NYAMAN/Teguh Argari Bisono            134

LUNAK DAN KURANG TEGAS/Teguh Supriyanto      135

KALAH DENGAN PRAGMATISME/Teguh Yuwono     136

BS GAGAL JADI PRIBADI UNIK/Timur Sinar Suprabana       137

BS TAK CERMAT, TAK PULA WASPADA/Tito S. Budi          138

OPTIMISME BS KALAHKAN RASIONYA/Tjahjo Kumolo        139

BS PELIT BICARA/Trimedya Panjaitan  140

BS TAK PUNYA WELAS ASIH/Triyanto Triwikromo   141

U

BS KURANG MANFAATKAN MEDIA/Urip Daryanto    142

W

BS JADI RASAN-RASANAN/Wahono     143

BS AGAR LEBIH BERPERAN/Wahyudi Nur Ali            143

PERLU AKRABI PINISEPUH/Wahyono  144

BS MULAI SUKA KACAMATA KUDA?/Wahyudi HR   145

BS ORANGNYA TERTUTUP/Wisnu Pudjonggo           146

Y

BS BERMIMPI JADI ORANG HEBAT/Yono Daryono   147

BS DIMINTA BERSUARA LANTANG/Yudhi Sancoyo  148

BS…???/Yusqon    148

Z

BS DATANG KAMI MENGKERET/Zainal Abidin Petir 149

BS ORANG YANG TERTUTUP/Zainal Bintang  150

YANG DIERCAYA BS TERMEHEK-MEHEK/Zainal Mahirin    151

                        ----------------------------------------------------

 





 

 

 

 

 

 


KOMENTAR

1 Komentar

Maria Rusmiyati Diananingsih
Tanggal 16 - 03 - 2012
Bukan komentar, hanya ingin menyampaikan saja, malam hari, sebelum Rabu, 7 Maret 2012 saat pulang sekolah saya membaca Warta Jateng dalam titel BS, Kritik dan Reuni Politisi, Budayawan, Seniman Jateng, sungguh heran karena saya bermimpi dulu: Ada heli berputar di Salatiga, ada tentara, dan saya dengan pendamping hidup akan ke Semarang...(TERPUTUS)

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter