BADAI KRITIK BAMBANG SADONO Ditulis Oleh :Anggoro Suprapto, Pada Tanggal : 28 - 01 - 2012 | 08:36:46
 BERITA TERKAIT Ada ucapan terkenal beberapa waktu lalu: Barang siapa menabur angin, akan menuai badai. Namun bagi Pak BS (Bambang Sadono), tidak usah menabur angin pun, langsung menuai Badai Kritik yang jumlahnya cukup banyak, dari para sahabat, teman, dan juga tokoh-tokoh terkenal lainnya. Tidak main-main, ada Kukrit Suryo Wicaksono CEO Suara Merdeka, Gubernur Bibit Waluyo, Dahlan Iksan, Tjahjo Kumolo, Mahfud MD, dan para politisi Senayan terkenal lainnya.
Kok bisa? Nah ini masalahnya. Jangan sebut BS, kalau tidak bisa menjungkirbalikan keadaan, bagaimanapun situasinya. Seniman dan politisi cerdas ini melihat kahanan (meminjam bahasanya Timur Sinar Suprabana), negeri ini yang semakin carut marut. Pemimpin tidak mau mendengarkan rakyatnya dan hanya memikirkan diri sendiri dan golongannya saja. Isitilahnya, membutakan mata dan menulikan telinga. Kuping budheg, moto piceg, maaf, ungkapannya memang begitu. Ungkapan orang Jawa yang sudah terkenal. Jangankan hanya kritikan pedas, ditegur keras, diteriaki, ditinju, dikepruk sekalipun, tetap ndableg, dan terus berjalan.
Korupsi tetap merajalela, Para Pemimpin dan Wakil Rakyat, seakan-akan hanya mengurusi renovasi gedung lembaganya masing-masing, yang menelan dana tidak sedikit. Puluhan sampai ratusan miliar rupiah. Sementara rakyat kesulitan.Gedung SD banyak yang sudah rusak, jembatan desa runtuh, lapangan kerja sempit, angka kemiskinan dan pengangguran meningkat, dan lain-lain problema demi problema yang menimpa rakyat negeri ini. Setiap hari media massa, terutama TV menyiarkan ini, gencar memberitakannya. Lalu berubahkah mereka? Sama sekali tidak.
Kritikan, meski setajam silet, tetap tidak mempan. Bahkan, dengan politik pencitraan, mereka anti kritik. Kalau ada yang mengkritik atau mengkritisi, dianggap menyerang. Dalam keadaan seperti ini, BS ingin mengembalikan jati diri budaya bangsa. Tetap menjadi bangsa yang santun, bangsa yang ramah, yang punya budaya malu. Kritikan, dari manapun datangnya dianggap sebagai vitamin bagi orang yang berpikir cerdas. “Kalau dipuji, diam-diam buanglah ke tempat sampah. Tetapi kalau kritikan, taruhlah di cawan emas,” tuturnya dalam wawancara dengan Obyektif Cyber Magazine, di rumahnya yang teduh, kompleks perumahan Graha Padma Krapyak, Semarang, Jawa Tengah, baru-baru ini.
Oleh karena itu, suatu sore dia mengemailku. “Pak Ang, tolong aku dikritik. Jangan panjang-panjang, dan langsung emailkan kembali ke emailku ya,” katanya. Ketika saya konfirmasi, kritikan yang bagaimana? Dijawab, apa saja tentang dirinya, bahkan kritikan yang paling kurang ajar sekalipun, tetap akan diterimanya. Karena kesibukan, agak lama kritikanku belum masuk juga ke emailnya. Mungkin menduga aku kesulitan mengkritiknya, atau karena rekuh pakewuh, dia selalu meng-SMS-kan kritikan yang sudah masuk ke Hp-ku.
Misalnya kritikan Dalang ugal-ugalan dari Tegal, Ki Enthus Susmono. Saya kaget juga. Berani mengatakan BS, bodoh, pelit, dan lain-lain. Edan, pikirku. Kalangan seniman Semarang pun heboh. Kalau ketemu, saling bertanya: “Sampeyan wis ngritik BS?” Begitu selalu pertanyaannya. Lebih gilanya lagi, BS juga memposting kritikan yang sudah masuk lewat Facebook (FB), setiap hari secara rutin. Kritikan Unggulan yang sudah masuk ke emailnya, selalu ditampilkan di FB, dari mana saja datangnya. “BS itu bodoh, tidak berani poligami,” salah satunya yang ditampilkan.
Ending-nya, inilah bukti kehebatan BS, semua kritikan itu dibukukan, dihimpun jadi satu dan diterbitkan. Terlepas dari tujuan mulia seperti saya katakan tadi: Ingin mengembalikan budaya bangsa yang santun, yang punya rasa malu, yang mendengarkan kalau dikritik, dan lain-lain, sesungguhnya, buku ini bisa dijual dan mendapatkan royalti. Berarti jinten (sebutan uang di kalangan wartawan) bisa mengalir ke kantongnya BS. Tidak hanya sebatu, dua batu (istilah wartawan, sebatu = Rp.1juta), mungkin saja bisa puluhan batu dan bahkan ratusan batu. Ah, BS sahabatku. (Anggoro Suprapto).
-----------------------------------------------------
TARUH KRITIKAN DI BOKOR KENCANA
Salah satu kata-kata mutiara dari dalang favorit saya Ki Nartosabdho adalah: Tempatkan pujian di tempat sampah, dan celaan di bokor kencana. Artinya pujian justru bisa mencelakakan kita, tetapi kritik justru harus dihormati, karena bisa memperbaiki kita. Nasihat yang selalu saya sampaikan kepada anak-anak saya. Hanya orang yang tahu kesalahan atau kekurangannya, yang akan bisa memperbaiki diri, menuju kualitas yang lebih baik.
Mencari kekurangan diri biasanya sulit, karena itu perlu dibantu orang lain. Belajarlah menerima kritik, walaupun mungkin pahit. Bahkan ada kritik, yang mungkin disampaikan dengan iktikad kurang baik sekalipun, sebenarnya menjaga kita agar menjauhi hal-hal yang dikritisi tersebut.
Dalam usia 55 tahun ini, saya ingin belajar dari kritik, apa pun motivasinya. Siapa tahu ada manfaatnya untuk siapa saja, paling tidak untuk anak-anak saya. Banyak penyumbang tulisan ini, yang mula-mula keberatan untuk memberikan kritik. Mungkin tidak nyaman, dan takut membuat saya kecewa. Ini memperkuat kenyataan, kritik belum menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat kita. Namun apa pun yang akhirnya ditulis, saya sangat berterimakasih.
Kesan saya, kritik diberikan tergantung pada yang dikritik dan siapa yang mengkritik. Ada yang merasa kritik yang halus, dianggap cukup. Ada yang menyelimuti dengan pujian. Tetapi ada pula yang perlu menyampaikannya secara lugas dan tajam. Dalam segala bentuk dan ragamnya, semua kritik berguna.
Agar lebih fair, saya tidak berniat menilai kritik-kritik tersebut, kelayakan dan penyuntingan sepenuhnya saya serahkan kepada editor buku ini. Untuk itu juga saya sampaikan terimakasih atas jerih payahnya.
Semarang, 30 Januari 2012 - Bambang Sadono.
---------------------------------------------------
BUKU: BAMBANG SADONO, SEJUMLAH KRITIK
Editor: Moh. Nafid Sasetyo, Desain Sampul: Ratih Banowati, Ilustrasi Sampul: Joko Susilo, Penata Letak: Elang Mohammad
Hak Penerbitan ada pada @2012Citra Almamater, Cetakan: Pertama Januari 2012. Hak cipta dilindungi undang-undang: Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. Jakarta - Indonesia 2012 , Jakarta, Januari 2012, ISBN 978-979-711-354-3
Penerbit: CITRA ALMAMATER & MAJALAH LEGISLATIF: Bambang Sadono Sejumlah Kritik, 151 Hlm. 14 X 21 Cm
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ix
DIPENGARUHI BUDAYA MENULIS/Abdullah Fikri Faqih 1
KARYA BS JARANG TERDENGAR/Abu Nafi 2
DIHARAPKAN KOMUNIKASI ARUS BAWAH/A.Chalwani Berjan 3
A
BS SERING DIANGGAP PLIN PLAN/Addy Susilobudi 4
BS SEWENANG-WENANG/Agoes Dhewa 5
BS LEBIH MEMBELA KELUARGA/Agoes Sofyan 6
BS ANGGAP SEMUA SAMA DENGAN DIA/Agung Prasetyo DJ 7
OASE DI TENGAH SIKAP ELITIS/Agung Priyambodo 8
BS MAKIN SAYUP/Agus Fatchur Rahman 9
BS HARUS MENERUSKAN TRADISI/Agustin Teras Narang 10
SEMUA DAERAH INGIN DIMENANGI/Ahmad Djumali 11
BS ASYIK DENGAN DIRINYA/Ahmad Muqowam 12
TEMAN HANYA NUMPANG LEWAT SAJA?/Aji Angkat 13
BS KURANG IKLAN/Alvin Lie 14
BS KURANG MENDENGAR INPUT ORANG/Aminullah Yunus 15
KECERDASAN BS HANYA UNTUK POLITIK/Amir Machmud NS 16
BS EMOH PILIH “NELAYAN TANGGUH”/Amirudin 17
BS KAKU DAN SUKA NYETIR TEMAN/Anggoro Suprapto 18
BS ANAK KANDUNG AUTISME POLITIK/Anis Sholeh Ba'asyin 19
BERTAUBATLAH, KAWAN!/Antock Adi Krisdianto 20
BS JANGAN RESAH DIKRITIK/Anton Tabah 21
BS NGUSURI BANYAK HAL/Arief Hidayat 22
SB AGAR LEBIH VOKAL/Arief Mudatsir Mandan 23
DIHARAPKAN MENINGKATKAN KINERJA/Arif Awaludin 24
BS MEMBABI BUTA BELA TEMAN/Aris Junaidi 25
BS SABARNYA KELEWATAN/Atal S Depari 26
BS BIKIN KAWAN MERASA TERSISIH/Ateng Winarno 27
BS JANGAN MERASA DIHUJAT/Atyoso Mochtar 28
BS JARANG HADIR DI RAPAT KOMISI/Aziz Syamsudin 29
B
BS: PARADOX DKJT/Bambang Ismanto 30
BS TANAM, ORANG LAIN YANG PETIK/Bambang Set 31
BS TAKTU KETIDAKSEIMBANGAN/Bambang Soesatyo 32
BAIKNYA, KELEMAHANNYA/Bambang Yeyek 33
BS SERING GANTI HP/Begog D. Winarno 33
PAPA MARAH SEBENTAR, LALU TERTAWA/Bambang YR Sadono 34
BS HARUS TUNJUKKAN KARAKTERNYA/Banjar Chaeruddin 35
BS TANPA EKSPRESI/Bekti Maharani 36
PERTAHANKAN KARAKTER TAK SOMBONG/Bibit Waluyo 37
AWALNYA SEBAGAI YANG ANGKUH/Bimo Bayuaji 38
TAK JELAS NGALEM APA NGELOKKE/Bintang Hanggoro Putra 39
BS KURANG TEGAS/Budi Supriyanto 40
BS KUAT DI OBSESI/Budi Susilo 40
C
VISI BERORGANISASI BUAT BS/Cahyo Yusuf 41
JANGAN PUTUS DI TENGAH JALAN/Cicuk Sastrosoedirdjo 42
D
MANA KRITIKNYA KE SAYA?/Dahlan Iskan 43
APA BS IKHLAS DENGAN KRITIK INI?/Dinar Koesoemoadji 44
BS GAGAL PIMPIN DKJT/Djawahir Muhammad 45
BS RAJANYA NGEYEL/Djunaedi Tjunti Agus 46
BS BICARANYA MUBENG-MUBENG/Dyah Setyawati 47
E
BS AGAR SERING TURBA/Edy Santoso, SH 48
BS BERISIKO TINGGU GAGAL/Eko Laksanto 48
BS TIDAK PAHAM PARTAI/Effendi Gazali 49
PERTAHANKAN TRADISI BACA-TULIS/Effendy Choirie 50
BS HEBAT BUKAN SEBAGAI WAKIL RAKYAT/Eko Budihardjo 51
BS BELUM BANGUN RUMAH ALLAH/Endang Suhartini Sutikno 52
BS PELIT, IRIT, DAN NYETILI/Enthus Susmono 53
BS KURANG DI SPIRITUAL KEAGAMAAN/Erlyn Indarti 54
KETEMU TAPI TAK MENYAPA/Esmi W 55
F
BS BELUM DIKENAL BANYAK ORANG/Febrie Hastiyanto 56
BS MENGGAMPANGKAN KOMUNIKASI/Ferry Mursyidan Baldan 57
G
TAK PERNAH BERMANIS-MANIS/Gayus Lumbuun 58
BS TEGA TINGGALKAN PROFESI/Ghufron Hasyim 59
BS PELIT SENYUM DAN PRAGMATIS/Gunoto Saparie 60
H
BS PILIH KOMPETISI, TIDAK KOOPERASI/Hadi Supeno 61
FENOMENA ANAKRONISTIS/Hajriyanto Y Thohari 62
BS ITU SUKA MAKSA ORANG/Handry TM 63
BS CUEK PADA REKAN PERS/Haryanto Mega 64
JANGAN DIBERI LABEL MENGENASKAN/Haryono Suyono 65
DIMINTA NGURI-NGURI KEBUDAYAAN/Hendrar Prihadi 66
BS TIDAK SUKA DETIL/Hendro Basuki 67
BS TERKESAN LEMBEK/Heru Emka 68
BISA NYEMPAL DARI KEJAWAANNYA/Herutjahjo Soewardojo 69
BS BELUM BERHASIL REGENARASI/Hinca IP Pandjaitan 70
I
MENUNGGU LANGKAH POLITIK BS/Ida Budhiati 71
TERBENAM DALAM PUSARAN WACANA/Ilham Arief Sirajuddin 72
BS KURANG KOMPETITIF/Imam Anshori Saleh 73
BS ITU RAJA TEGA/Iriyanto 74
BS SELALU IKUT ARUS/Irwan Hidayat 75
KEDODORAN DAN KEPONTHAL-PONTHAL/Isdiyanto 76
BS POLITISI YANG LIPSERVICE/Itos Budi Santoso 77
J
BS LUPAKAN AKAR KARIRNYA/J.F.X. Hoery 78
TERLALU PERCAYA, BISA JADI BUMERANGH/Jayanto Arus Adi 79
BS PERLU KESEIMBANGAN/Joshua Igho BG 80
K
BS APA SANGGUP MEMELIHARA?/Khofifah Indar Parawansa 80
BS DENGAN SENYUM MENGINJAK KAKI/Kukrit Suryo Wicaksono 81
L
BS LUPA BANYAK HAL/Lintang Ratri Rahmiaji 82
BS KEHILANGAN PENA TAJAMANNYA/Lukas Lukmana 83
M
BS BELUM ZAKATKAN KEILMUANNYA/M Iqbal Wibisono 84
BS KEKURANGAN ENERGI/Muhammad Adnan 84
BS SERING DIJADIKAN OBJEK/M. Izuddin Nanang Haromi 85
SERUAN BUAT BS/Machroni 85
BS BICARANYA DATAR/Mahfud MD 86
8 “JERAWAT” DI WAJAH BS/Marco Manardi 87
BS ITU WELAS TANPA ALIS/Maria Ardhie 88
BS ITU MBAHE YAHUDI/MC Supriyadi (Jalidint) 89
BS PERLU INGAT REGENERASI/Muchamad Yuliyanto 90
BS KORBANKAN PERASAAN TEMAN/Mukti Sutarman Espe 91
N
KEKUARAN BICARA BELUM DITEMUKAN/Najahan Musyafak 92
BS LUPA BERPUISI/Nia Samsihono 93
BS HANYA NGURUS YANG KUAT/Nuril Arifin 93
LANGKAH MUNDUR BAGI BS/Noor Achmad 94
BS ALAMI KEMUNDURAN MENULIS/Nunik Sri Yuningsih 95
BS HARUS BERBENAH/Nur Hidayat Sardini 96
BS SENANG DIKEJAR-KEJAR/Nurochman Sudibyo YS 97
O
PERTAHANKAN KARAKTER KRITIS/Okky Imam Priyanto 98
P
BS PERLU MEMBAGI WAKTU/Pahlawansjah Harahap 99
BS TAK KONSISTEN BINA KONSITUEN/Parlindungan Manik 100
HARUS TERJEMAHKAN KAIDAH KEILMUANNYA/Paulus Hadisuprapto 101
BS TAK HADIR DALAM MASALAH BURUH/Prabowo Luhsantoso 102
BS, OBELIX ZAMAN DIGITAL/Prie GS 103
R
PERLU LEBIH DEKAT LAGI DENGAN RAKYAT/Rahmulyo Adiwibowo 104
BS SABAR DIKECEWAKAN/Resky Ristyanto 104
BS TAK PERLU JADI EKSEKUTIF/Rasdi Ekosiswoyo 105
TERSENYUM, GAMPANG-GAMPANG SUSAH/Ratya Kirana Sadono 106
BS ANGGAP ORANG LAIN ANAK KECIL/Restu Lanjari 107
BS TEGAS, TAPI LUPA TERSENYUM/Ricky Rachmadi 108
DIPECAT TAPI DIGAJI/Rosa Widyawan 109
BERAT, MENIRU YANG DICONTOHKAN BS/Rukminingtyas Utami 110
BS HARUS LEBIH ERAT MENGIKAT/Rustono 111
S
BS MENGKRIMINALKAN PERS/Sabam Leo Batubara 112
BS PRAGMATIS & ABAIKAN PROSES/Sadono Priyo 113
BS POLITISI ANGIN-ANGINAN/Santi Utami 114
BS PERLU KOMUNIKASI SOSIAL/Seno Samudro 114
SERING JADI SUMBER MASALAH/Sasongko Tedjo 115
BS DIANJURKAN GANTI PRINSIP/Sutoyo Abadi 115
BS TAK HUMANIS PADA PEGAWAINYA/Setya Yuwana Sudikan 116
NDABLEG & SUKA LUPA TEMAN/Sisdiono Ahmad 117
YANG TURUN KE BLORA MASIH KURANG/Siswanto 118
BS JURNALIS BERHOBI POLITIK/Slamet Effendy Yusuf 119
BS PILIH JENANG KETIMBANG JENENG/Soejatno Pedro HD 120
BS SEAKAN SUDAH GUBERNUR/Soetjipto 121
BS TAK MURAH SENYUM/Sofyan Lubis 122
BS MASIH HARUS BELAJAR MEMAAFKAN/Sri Humaini Adisusilo 123
BS ITU ITUNG-ITUNGAN/Subakti A Sidik 124
BS “KORBAN” KURANGNYA PEMAHAMAN/Sudhamek AWS 125
BS TAK CERMAT BACA PETA SOSIAL/Sudharto 126
MINIMAL LINGKUNGAN TERDEKAT/Sudijono Sastroatmodjo 127
BS ITU BUKAN BIDOKRAT/Sudjadi 128
TIGA SARAN BUAT SANG PENGAJAR/Sunarto 130
BS SUDAH SAATNYA TURUN PANGGUNG/Suradi Alkarim 131
SAATNYA MAWAS DIRI/Sutrisna 132
T
BS OVERCONFIDENT/Tarman Azam 133
AGAR LEBIH BERMANFAAT/Thomas Budi Santoso 133
BS INGINNYA JADI POLITISI NYAMAN/Teguh Argari Bisono 134
LUNAK DAN KURANG TEGAS/Teguh Supriyanto 135
KALAH DENGAN PRAGMATISME/Teguh Yuwono 136
BS GAGAL JADI PRIBADI UNIK/Timur Sinar Suprabana 137
BS TAK CERMAT, TAK PULA WASPADA/Tito S. Budi 138
OPTIMISME BS KALAHKAN RASIONYA/Tjahjo Kumolo 139
BS PELIT BICARA/Trimedya Panjaitan 140
BS TAK PUNYA WELAS ASIH/Triyanto Triwikromo 141
U
BS KURANG MANFAATKAN MEDIA/Urip Daryanto 142
W
BS JADI RASAN-RASANAN/Wahono 143
BS AGAR LEBIH BERPERAN/Wahyudi Nur Ali 143
PERLU AKRABI PINISEPUH/Wahyono 144
BS MULAI SUKA KACAMATA KUDA?/Wahyudi HR 145
BS ORANGNYA TERTUTUP/Wisnu Pudjonggo 146
Y
BS BERMIMPI JADI ORANG HEBAT/Yono Daryono 147
BS DIMINTA BERSUARA LANTANG/Yudhi Sancoyo 148
BS…???/Yusqon 148
Z
BS DATANG KAMI MENGKERET/Zainal Abidin Petir 149
BS ORANG YANG TERTUTUP/Zainal Bintang 150
YANG DIERCAYA BS TERMEHEK-MEHEK/Zainal Mahirin 151
----------------------------------------------------
|