POLITIKUS PERLU BERJIWA PREMAN Ditulis Oleh :Tohar Tokasapu, Pada Tanggal : 03 - 02 - 2012 | 06:48:30
 BERITA TERKAIT Bambang Sadono (BS) kurang berhasil di karier politik karena kurang satu hal, yaitu kurang mempunyai jiwa preman. Untuk menjadi seorang politikus yang berhasil, harus mempunyai tiga unsur. Demikian dilontarkan Wakil Ketua MPR-RI Hajriyanto Y Thohari ketika memberikan sambutan dalam peluncuran buku “Bambang Sadono, Sejumlah Kritik” di gedung Ngesti Pandowo, Semarang, Jawa Tengah baru-baru ini.
Menurut Hajriyanto, tiga unsur yang harus dipunyai seorang politikus agar berhasil yaitu, harus punya jiwa politik, jiwa intelektual dan jiwa preman. Kalau hanya politik saja, dipastikan tidak akan lama di Senayan. Demikian pula, kalau hanya punya kadar intelektual, akan kaku di Dewan, karena terlalu teoritis dan akademis. Pada akhirnya juga tidak akan berhasil. “BS hanya punya dua unsur saja, politik dan intelektual, tetapi kurang punya jiwa preman, sehingga kariernya di bidang politik kurang cemerlang,” tambahnya.
Usai acara, ketika diwawancara Obyektif Cyber Magazine, Hajriyanto menolak jika dikatakan politikus harus menganut premanisme supaya berhasil. “Maksudnya bukan begitu. Berjiwa preman itu maksudnya harus berani dan kuat. BS terlalu menjaga keseimbangan dan kompromis, sehingga jadi lemah dan oleh karenanya, karier politiknya tidak berhasil,” tambahnya.
Malam itu, Gedung Ki Narto Sabdo “Ngesti Pandowo”, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, terjadi hujan kritik. Sementara di luar gedung, hujan lebat turun tak henti-hentinya. Hujan mengiringi peluncuran buku “Bambang Sadono, Sejumlah Kritik”. Acara itu bersamaan dengan hari ulang tahun ke 55 BS.
Tarian Sekaringrat, karya Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Jurusan Sendra Tasik Universitas Negeri Semarang (Unnes) Dra Restu Lanjari, M. Pd, istri BS, menjadi pembuka acara. Meski hujan, gedung Narto Sabdo penuh. Dari 200 tempat duduk yang disediakan, tak satu pun kosong. Bahkan banyak undangan yang terpaksa berdiri.
Kegiatan yang disutradari Handry TM dan Tohar Tokasapu, dikemas dalam Stand Up Critic of Bambang Sadono, meniru konsep Stand Up Comedy. Tampil pertama budayawan dan motivator Prie GS. “Kenapa BS selalu menunjuk Tohar di acara-acara tertentu seperti malam ini, karena saya membaca karakter wajah BS, semua ada di Tohar yang tidak cetho (jelas),” ungkap Pri GS yang disambut tawa hadirin.
Sejumlah tokoh yang menyampaikan kritik malam itu, Prof. Eko Budiharjo, Rektor Undip Prof Sudharto, Rektor Unnes Prof Sudiyono, Rektor USM Prof Pahlawansyah, Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Thohari, dan Ketua DPRD Jateng, Murdoko. Lantas Soejatno Pedro, Jawahir Muhammad, serta anak sulung BS, Lintang Ratri Panjerwengi. Hadir pula sejumlah politikus senior Senayan maupun Jateng, para seniman, para sastrawan, para sahabat dan handai taulan BS.
Peluncuran buku yang berisi 151 kritik itu makin seru. Di tengah acara, menghadirkan dagelan (pelawak) Gareng Sumar Bagia dan Bagong. Acara diramaikan pentas tari dan fragmen wayang orang. Pethilan wayang orang mengambil cerita Kresna Duta, yang dimainkan keluarga besar Ngesti Pandhowo dan Universitas Negeri Semarang.
Di akhir acara, diserahkan buku “Bambang Sang Profesor” yang diterbitkan Citra Mandiri Utama dan Data Media dari Tohar dan Didik Muhtadi. Menurut Didik, buku itu dibuat empat hari menjelang ultah BS. Pasalnya, kritik Tohar dan Didik tidak masuk dalam buku yang diterbitkan BS.
Pada kesempatan itu BS didampingi istrinya mengatakan, kritik harus dihormati. Hanya orang yang tahu kesalahan atau kekurangannya, kata BS, yang akan bisa memperbaiki diri, menuju kualitas yang lebih baik. “Mencari kekurangan diri biasanya sulit, karena itu perlu dibantu orang lain,” kata Bambang Sadono, yang juga Wakil Ketua DPRD Jateng.
Belajarlah menerima kritik, tambah BS, walau mungkin pahit. Bahkan ada kritik, yang mungkin disampaikan dengan iktikad kurang baik sekalipun, sebenarnya menjaga yang dikritik agar menjauhi hal-hal yang dikritisi. Dalam usia 55 tahun ini, Bambang, ingin belajar dari kritik, apa pun motivasinya.
“Siapa tahu ada manfaatnya untuk siapa saja, paling tidak untuk anak-anak saya. Banyak penyumbang tulisan ini, yang mula-mula keberatan untuk memberikan kritik. Mungkin tidak nyaman dan takut membuat saya kecewa. Ini memperkuat kenyataan, kritik belum menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat kita. Namun apa pun yang akhirnya ditulis, saya sangat berterimakasih,” ungkap BS.
Kesimpulan dari acara itu, banyak dari yang hadir, menyarankan agar BS kembali saja ke habibatnya, yaitu aktif lagi di dunia jurnalisme atau sastra. Ada juga yang menyarankan BS jadi pendidik saja. “Kalau mau jadi Rektor, waktunya masih cukup. Delapan tahun lagi, usia BS 63, saya rasa masih kuat,” tutur Rektor USM Prof Pahlawansjah Harahap,SE,ME mengakhiri acara. (Tohar Tokasapu).
--------------------------------------------------------------
|