Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
InfoJateng1 Komentar  |  525 Pembaca

10 TAHUN MAKAN NASI AKING
Ditulis Oleh :Sukma Wijaya, Demak, Pada Tanggal : 24 - 10 - 2011 | 13:56:16

Tidak mampu membeli beras, pasangan suami isteri (pasutri) yang sudah renta, sehari-harinya mengkonsumsi nasi aking. Nasi aking yaitu nasi sisa, yang kemudian dijemur agar tidak basi. Setelah kering, dikasih air dan ditanak kembali dan dimakan. Inilah potret kehidupan nyata saat ini.

Masih banyak nestapa bermain dalam kehidupan masyarakat. Kondisi perekonomian yang minus menuntut seseorang harus makan apa saja, untuk menyambung umur, kendati makanan itu dari hasil sisa orang lain.

Seperti yang dialami pasutri, Pak Giwan (76) dan Jumini (70), istrinya, warga Desa Dempet, kabupaten Demak, Jawa Tengah. Di hari tuanya yang seharusnya bisa pensiun dengan tenang, terhiasi dengan canda-tawa oleh anak-cucunya, malahan tidak pernah terjadi. Sebaliknya, keduanya harus bekerja keras untuk menunjang kehidupannya. Bahkan yang lebih mengharukan, 10 tahun terakhir ini, dia hanya makan nasi aking hasil sisa orang lain. Orang-orang yang berbelas kasihan, memberikan nasi sisanya untuk mereka berdua.

Selama hampir 30 tahun pasutri renta ini tinggal di gubuk reot pingir perkampungan. Untuk menunjang kehidupannya, Pak Giwan diberi tugas oleh  warga sekitar untuk menyiangi rumput  di ladang. Biasanya dibayar Rp 10.000 per hari.  Tetapi karena pekerjaan tidak tetap, jelas tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Tak jarang mereka harus  puasa, menahan lapar, ketika tidak punya uang sama sekali. 

Menurut  Jumini isterinya, dalam kondisi kemiskinannya saat ini, tak ada lagi  yang mengurusi mereka berdua. Sedangkan anaknya, sudah pergi merentau 30 tahun yang silam. "Anak saya, Sopian dan Masluri merantau ke Sumatera.  Tapi sudah  puluhan tahun ini tak ada kabar-beritanya," tutur Jumini, sedih. Semenjak ditinggal anaknya, kondisi Pak Giwan dan Jumini sangat memprihatinkan. Seiring usia yang menua, mereka tak mampu bekerja dengan baik, karena tenaganya sudah lemah. Akhirnya, tak ada jalan lain, memilih memakan nasi aking untuk menyambung hidup.

"Bagi kami, nasi aking adalah anugerah istimewa dari Allah. tak jarang kami berpuasa saat tidak punya uang," kata Pak Giwan menambahkan. Lanjutnya, karena penghasilannya tak seberapa mereka lebih memilih makan nasi aking dari sisa orang lain, daripada kelaparan. Harga nasi aking juga cukup murah, hanya Rp 1.500 per kg. Dan nasi  hanya di santap bersama lauk tempe atau kerupuk, kendati demikian mereka sudah sangat bersyukur. Keluarga ini juga terbiasa minum air dari sungai tak jauh dari gubuknya tersebut, padahal air sungai itu tak sehat karena sudah bercampur limbah rumah tangga. (Sukmawijaya).

                                              --------------------------------------------------------

 

 

 

 

 

 


KOMENTAR

1 Komentar

lavega
Tanggal 18 - 04 - 2012
ya Tuhan,,, masih ada sja rkyt yg hdup'na sprti ini..
dmna janji2 pemerintah?? tegakah Pemerintah melihat rkyt'na hdup mlrat sprti ini....
drpda uang negara dpke mmbuat gedung baru,, mmbli meja2 baru yg hrga'na milyaran rupiah.. mending dsumbangin kpda rykt2'na yg hdup srba kekurangan...

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter