Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
InfoJateng3 Komentar  |  1383 Pembaca

BOHONG, DESA MANDIRI ENERGI JATENG
Ditulis Oleh :DD/WH/fordep/ars, Pada Tanggal : 06 - 04 - 2011 | 14:28:19

Keinginan Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Purwodadi Grobogan, mencatat sejarah, yaitu sebagai penghasil energi alternatif, pengganti BBM (bahan bakar minyak) terbesar di Indonesia, runtuh sudah. Bahkan, semula wilayah ini sudah ditetapkan pemerintah, sebagai kawasan lahan tanaman jarak. Disamping itu juga dicanangkan adanya “Desa Mandiri Energi” yang pertama di Jateng. Semua media massa yang ada, pada saat itu, sudah mempublikasikannya secara  menggebu-gebu.

Namun apa yang terjadi? “Semua itu saya nilai hanya bohong-bohongan,” tutur Penggerak petani jarak di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Suhari, belum lama ini seperti dilansir oleh Fordep.net.

Ia memperlihatkan  tiga kompor, berbahan bakar nabati, yang diberikan kepadanya. Kompor kanan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kompor tengah dari Protos, dan kompor kiri dari Perhutani. Ketiga kompor itu kini tak berfungsi tanpa ada minyak nabati, yang semula direncanakan produksi dari perasan biji jarak di wilayahnya.

Suhari, yang juga Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan, menunjukan sisa beberapa gerumbul pohon jarak, yang dulu diharapkan hasilnya bisa menjadi bahan bakar alternatif, selain BBM. Sekarang hanya menjadi penghias pagar rumah. “Itulah sisa program Desa Mandiri Energi (DME) yang dicanangkan meriah tahun 2007. Sekarang tidak ada kabar beritanya, juga tidak ada kelanjutannya,” tambahnya.

Program DME diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Februari 2007 di Kabupaten Grobogan. Tanaman jarak sebenarnya cukup dikenal masyarakat Grobogan, banyak dibudidayakan ketika jaman Pemerintah Jepang menguasai Indonesia. Waktu itu jadi primadona bahan bakar alternative. Kesuksesan Jepang itu mau diulang sekarang, tetapi hanya sebatas peresmian dan retorika saja.

Grobogan diharapkan menjadi percontohan program nasional pemanfaatan jarak pagar untuk bahan bakar nabati. Selain menyampaikan bantuan pengembangan sebesar Rp 10 miliar dan kompor secara simbolis, Presiden juga sempat mencicipi tempe dan tahu goreng yang dimasak dengan kompor berbahan bakar minyak jarak.

Kriteria desa mandiri energi adalah mampu memenuhi sendiri 60 persen kebutuhan energi untuk memasak, transportasi, dan listrik. Tanaman jarak (Jatropha sp) dipilih sebagai sumber bahan bakar nabati dengan pertimbangan bisa bertahan hidup di lahan kritis dan tidak bersaing dengan keperluan pangan.

Kecewa

Untuk mendukung program DME, di Grobogan lalu berdiri pabrik pengolahan biji jarak yang dikelola PT Energi Hijau Lestari (Enhil). Enhil menggandeng PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) sebagai pembeli siaga (off-taker) minyak jarak petani Kecamatan Ngaringan.

Menurut Suhari, awalnya kelompok tani di desa itu antusias menanam, tetapi kemudian kecewa karena buahnya jarang meski tanaman subur. ”PT Enhil sempat membeli jarak petani, tetapi cuma Rp 700 per kilogram dari janji Rp 1.500,” kata Suhari.Setelah beberapa bulan pabrik berhenti beroperasi. Masyarakat tidak pernah mendapat informasi jelas dari pabrik.

Suhari mengatakan, sempat ada pendampingan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Grobogan dan kemudian dari PT Pertamina.

”Pernah ada petugas lapangan dari Pertamina, tetapi tidak memberikan penyuluhan yang benar. Buktinya, buah jarak tetap tidak ada hasilnya. Sekarang tanaman sudah tidak ada. Sementara masyarakat tahunya ada dana Rp 10 miliar. Masih banyak yang datang menanyakan, padahal kelompok tani hanya sekali mendapat bantuan Rp 83 juta,” tutur Suhari.

Marsiul, Komisaris PT Enhil, mengatakan, pabrik tutup karena inkonsistensi pemerintah dan BUMN yang terkait dengan program itu. ”Dulu pabrik dibangun atas dasar kerja sama dengan RNI sebagai off-taker. Katanya, mereka mau pakai minyak jarak untuk menggantikan blothong dan solar sebagai bahan bakar pabrik gulanya. Eh, ternyata program mereka tidak lanjut,” kata Marsiul.

Mantan Manajer Program Kemitraan Bina Lingkungan PT Pertamina Rudi Sastiawan menceritakan, dana Rp 10 miliar itu berasal dari patungan tiga BUMN: Pertamina, PT RNI, dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN). ”Biasalah, kalau ada kunjungan Pak SBY, harus ada sumbangan ke masyarakat. Waktu itu yang ditanya Pertamina, PGN, dan RNI. Akhirnya Pertamina menyumbang Rp 9,9 miliar, PGN dan RNI masing-masing Rp 50 juta, jadi total Rp 10 miliar,” ujar Rudi.

Dana tersebut semula akan diserahkan kepada pemerintah daerah, tetapi akhirnya PT Pertamina melanjutkan sendiri program bahan bakar nabati dengan mendirikan pabrik biodiesel di Kecamatan Toroh, Grobogan. Dari dana Rp 10 miliar itu, sekitar Rp 4 miliar digunakan untuk membangun pabrik, Rp 3,7 miliar untuk bibit, dan Rp 2,1 miliar untuk pelatihan petani.

Wartono, mantan pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan Dusun Ngrijo, Kelurahan Jatipohon, Kabupaten Grobogan, merasakan juga kekecewaan masyarakat atas pelaksanaan program pemanfaatan jarak untuk bahan bakar nabati. Ketika panen, jarak hanya dihargai Rp 1.100 per kilogram, jauh lebih murah dibandingkan jagung yang Rp 2.000. ”Masyarakat merasa dibohongi. Setelah itu kontan minat menanam langsung turun,” ujar dia.

Anggota kelompoknya, yang semula 200 orang, sekarang tersisa tiga orang. Tinggal Wartono yang masih percaya pada prospek jarak, terutama jika dikelola dengan sistem tumpang sari. (DD/WH/fordep)

                                          ---------------------------------------

DI JATENG POTENSINYA BESAR

Meski minat petani sudah surut, potensi tanaman jarak di Kabupaten Grobogan masih sangat besar. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah mencatat, tanaman jarak di Jawa Tengah mencapai 3.330,71 hektar.

Tak heran apabila justru perusahaan swasta yang berlomba mencari biji jarak langsung ke petani. Minyak jarak di luar negeri digunakan sebagai minyak goreng, sabun, dan kosmetik. PT Waterland Asia Bio Ventures memiliki pabrik di Desa Danyang, Kecamatan Purwodadi. Adapun PT D1 Oils International yang mengambil alih pabrik milik PT Enhil berencana memindahkan pabrik ke Dusun Ngrijo, di kawasan ini.

Petugas pembelian PT D1 Oils Indonesia, Edy Tegoeh Joelijanto, mengatakan, pihaknya mulai membeli jarak dari petani yang mengolah lahan milik Perhutani dan berbicara dengan sejumlah kepala kesatuan pemangkuan hutan Perhutani untuk menjajaki kerja sama.

Ia paham, perlu waktu cukup lama untuk meyakinkan petani yang kecewa berat dengan janji pemerintah dulu. ”Mereka disuruh menanam, tapi pasarnya tidak disiapkan. Begitu pabrik tutup, ya bubar,” kata Teguh.

Setiap biji jarak kering yang terkumpul menumbuhkan harapan kembalinya kepercayaan masyarakat bahwa tanaman jarak bisa menghasilkan apabila dikelola secara baik dan bukan program yang terkesan bohong-bohongan. Paling tidak itulah kesan di masyarakat sekitar Desa Mandiri Energi. Penilaian selanjutnya, terserah Anda. (DD/WH/fordep)

                                                -----------------------------

 PEMERINTAH TIDAK SERIUS

Adanya lahan tanaman jarak yang terbengkalai karena pemerintah tidak serius mengolah biji jarak sebagai bahan biodiesel. Petani merugi akibat budidaya tanaman jarak tidak berlanjut dan hasil panen tidak ada yang membeli.

Masalah itu mengemuka ketika berlangsung seminar ”Peran Sumber Energi Terbarukan” di Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang, Jawa Tengah, baru-baru ini. Seminar menampilkan pembicara Johan Susmono (Direktur Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Dalam Negeri) serta Martin Djamin (Staf Ahli Menteri Bidang Energi Alternatif dan Terbarukan Kementerian Riset dan Teknologi).

Pengamat energi alternatif Jatmiko mengatakan, lima tahun lalu pemerintah gencar mengampanyekan budidaya tanaman jarak pada lahan-lahan kurang produktif. Hasil panen jarak rencananya dibeli pemerintah bersama badan usaha milik negara lainnya. Dampak dari kampanye itu, di 14 kabupaten di Jawa Tengah, termasuk Boyolali dan sekitarnya, gencar digalakkan penanaman jarak. Kenyataannya saat petani panen, jarak tidak laku.

Semula, biji jarak laku Rp 800 per kilogram, minyak mentah jarak Rp 1.500 per kilogram. Saat itu, luas kumulatif lahan yang ditanami jarak pagar mencapai 2.225 hektar. ”Kami melihat, pemerintah tidak konsisten mengembangkan minyak jarak sebagai energi alternatif. Petani sangat dirugikan,” kata Jatmiko.

Tak diimbangi

Johan Susmono mengakui, pemerintah dan Pertamina terlalu dini mengampanyekan tanaman jarak kepada masyarakat pedesaan. Di sisi lain, kampanye itu tidak diimbangi penyediaan alat pengolah terlebih dulu. ”Dan, ketika masyarakat desa ramai-ramai menanam jarak, Pertamina batal membeli jarak hasil panen petani,” ujarnya.

Tujuan budidaya tanaman jarak waktu itu, lanjut Johan, juga untuk rehabilitasi lahan. Setelah hasil panenan jarak menjadi minyak, perlu pengolahan lanjutan supaya siap sebagai bahan campuran biodiesel. Alat pengolahan tambahan itu tidak dimiliki Pertamina karena harganya mahal. Itulah sebabnya jarak petani tak dibeli.

Selain keterbatasan unit pengolah, biaya produksi minyak jarak pun ternyata lebih mahal dibandingkan biaya pengolahan 1 liter minyak tanah. ”Sampai saat ini pengolahan minyak jarak dinilai masih belum efisien,” ujar Johan.

Martin Djamin menambahkan, tanaman jarak ternyata juga punya musuh hama. Ketika luas tanaman terbatas, hama dapat terkendali. Namun, bila tanaman jarak menyerupai perkebunan, pengendalian hama akan susah.

Dalam konteks ini, pemerintah sebaiknya meniru pola pengembangan energi seperti di Brasil. Energi alternatif berkembang karena menjadi pilihan untuk melindungi petani. Misalnya, saat harga gula anjlok, sebagian dipakai untuk bahan etanol yang bernilai jual lebih tinggi daripada gula. (ars)

                                          ---------------------------

TANAMAN JARAK KURANG DIMINATI

Dinas Perkebunan Jawa Tengah mengakui tanaman jarak selama ini kurang diminati untuk dibudidayakan karena tingkat permintaan komoditas tersebut sangat sedikit.

Kepala Dinas Perkebunan Jateng, Teguh Winarno, mengatakan, ada dua komoditas tanaman yang tengah digalakkan untuk mencukupi kebutuhan energi di masa yang akan datang.

"Selama ini, sumber energi dan bahan bakar yang berasal dari fosil berupa minyak bumi masih diandalkan, padahal persediaan minyak bumi semakin lama akan semakin habis," katanya kepada wartawan baru-baru ini.

Karena itu, kata dia, sumber energi yang berasal dari nabati yang bisa terbarukan perlu dikembangkan secara optimal, antara lain berasal dari tanaman jarak dan tanaman nyamplung. "Kalau untuk tanaman nyamplung menjadi komoditas di bawah tanggung jawab Dinas Kehutanan, sedangkan tanaman jarak menjadi salah satu komoditas kami," katanya.

Untuk budi daya tanaman jarak, kata dia, selama ini memang belum banyak dilirik oleh masyarakat meski pihaknya terus mensosialisasikan manfaat jarak diolah sebagai bahan bakar alternatif. "Kalau tanaman jarak, terutama bijinya ini diolah sebenarnya bisa menghasilkan bahan bakar alternatif, seperti biodiesel dan biofuel yang bisa menggantikan bahan bakar dari fosil," katanya.

Akan tetapi, kata dia, pengolahan biji jarak menjadi bahan bakar ternyata membutuhkan biaya yang lebih mahal dibandingkan dengan pengolahan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi. "Bahan bakar yang berasal dari tanaman jarak ini jatuhnya harga akan lebih mahal dari bahan bakar dari minyak bumi, misalnya saja diesel dibandingkan dengan biodiesel," katanya.

Kendala tersebut, kata Teguh, menjadikan tingkat permintaan tanaman jarak di pasaran sampai saat ini sedikit sehingga tidak menjadi pilihan masyarakat untuk membudidayakannya. "Permintaan tanaman jarak di pasaran saja sedikit, bagaimana mungkin masyarakat berminat untuk membudidayakannya. Sebab, bagaimana mereka akan menjual komoditas tersebut," katanya.

Terkait budi daya tanaman jarak, Teguh mengaku pihaknya selama ini sudah memiliki kebun bibit yang terletak di kawasan Noborejo, Salatiga, seluas dua hektare.

Kepala Bidang Produksi Dinbun Jateng, Endang Ratnasari menambahkan tanaman jarak selama ini banyak ditemui di sejumlah daerah, seperti Grobogan, Wonogiri, Klaten, dan Cilacap.Namun, tanaman jarak yang ditemui di daerah itu biasanya dibiarkan tumbuh di halaman atau pekarangan, belum dibudidayakan secara baik karena sulit dipasarkan. (ars)

                                              ----------------------------------

MINYAK JARAK JATENG TERKENDALA PASAR

Kegagalan kelanjutan produksi pabrik pengolah biji jarak PT Energi Hijau Lestari (PT Enhil) di Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, sejak 2007, menyebabkan pengembangan energi alternatif lebih mengarah biogas dan eksplorasi panas bumi. Bahan bakar nabati berbasis biji jarak masih terkendala pangsa pasar.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Tengah Teguh Dwi Paryono di Semarang,  mengatakan, hasil evaluasi hingga 2009, PT Enhil dinilai tidak mampu melaksanakan misi sebagai penghasil minyak jarak yang proyeksi awalnya bisa mengolah biji jarak 500 kilogram per hari. Dampak dari kegagalan ini, petani tidak lagi menanam jarak.

Mengenai nasib tanaman jarak, Kepala Dinas Perkebunan Jawa Tengah Tegoeh Winarno menjelaskan, meski sejumlah lahan tanaman jarak tidak lagi diusahakan oleh petani, Jawa Tengah masih memiliki luasan tanaman jarak sekitar 3.330,71 hektar. (ars)


KOMENTAR

3 Komentar

Harjanto
Tanggal 16 - 04 - 2011
Programnya bagus, tapi pelaksanaannya tidak benar, jadi petani penanam Jarak dan investor yang menjadi korban.
Kalau pemerintah benar2 serius menanganinya pasti akan jadi sumber energi alternatif yang relatif lebih murah dari bbm yang ada sekarang.
susiyanto
Tanggal 21 - 10 - 2011
progam sudah bagus tapi apa petani mau menjalankan dengan harga yg begitu ....saran untuk di kembangkan baik mohon harga yg sesuai aja trimakasih dari susiyanto
Forester-IPB
Tanggal 29 - 10 - 2011
saya sudah cukup banyak membaca literatur tentang kesuaian lahan di kab. grobogan, memang cocok tanaman jarak ditanam di grobogan. yang menjadi masala, bagaimana membimbing masyarakat untuk bisa membudidayakannya,membantu dalam pemasaran yang sepadan dengan komodity sebelumnya.karena masyarakat sudah merasa nyaman dengan bertanam palawija.

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter