DUA RELAWAN TUA, PENJAGA LINTASAN KA Ditulis Oleh :Sukmawijaya, Demak, Pada Tanggal : 14 - 09 - 2011 | 00:15:45
 BERITA TERKAIT
Di tengah jaman yang semakin keras dan serba individu ini, toh masih ada juga orang-orang yang berkorban demi orang lain. Mereka kadang tidak memikirkan keluarga dan dirinya sendiri, namun yang dipikirkan adalah, bagaimana bisa menolong orang lain sebanyak-banyaknya. Orang berhati mulia seperti ini, kenyataannya masih ada dan hadir dalam kehidupan kita sehari-hari.
Inilah kisah nyata kehidupan dua orang yang sudah tua, tetapi senang menjadi relawan penjaga jalur lintasan kereta api (KA), yang tidak berpintu. Tujuannya jelas, agar mereka yang melintasi jalur ini jadi aman dan tidak terjadi kecelakaan. Karena sudah menjadi rahasia umum, jalur lintasan KA yang tak berpalang pintu, sering menyebabkan maut. Tabrakan KA dengan pejalan kaki, pengendara roda dua, dan bahkan mobil, sering terjadi.
Memang keamanan di jalur lintasan KA masih belum mendapat respon dari pemerintah. Padahal jalur lintasan KA seperti ini, untuk wilayah Kabupaten Demak, Jawa Tengah, jumlahnya cukup banyak. Menurut data, sedikitnya 15 titik lintasan rel KA tanpa palang pintu tersebar di dua kecamatan, yaitu Mranggen dan Karangawen.
Namun hampir sebagian besar perlintasan ini tidak ada yang menjaganya. Menurut penuturan penduduk setempat, perlintasan di Desa Brumbung, Kecamatan Mranggen, sering terjadi kecelakaan yang menelan korban jiwa akibat tertabrak KA. Melihat kenyataan itu, munculah “pahlawan” kemanusiaan yaitu Suharto (55) dan Sawidi (40) keduanya warga Brumbung, yang entah karena dorongan apa, dengan suka rela mengatur kendaraan yang akan melintasi rel KA.
Meski di tengah panas terik dan hujan, keduanya dengan setia menekuni pekerjaannya itu. Tidak ada yang menyuruh dan tidak ada yang menggaji. Apa yang dilakukan oleh kedua relawan tua itu, seakan tak berarti, tapi mengandung makna keselamatan yang tinggi. Setiap hari, tanpa pamrih keduanya mengatur arus kendaraan agar tidak macet. Ketika KA lewat, mereka harus sigap menyetop kendaraan yang akan menyeberang rel.
Orang-orang yang biasa lewat perlintasan KA pun jadi simpati. Para sopir mobil, truk, pengendara roda dua, selalu memberi dana sukarela yang besarnya tidak seberapa. Biasanya mereka memberi antara Rp. 500 sampai Rp.1.000. Dengan tekun, kedua relawan itu mengumpulkan dana yang diberikan berdikit-dikit tersebut. Hasilnya, lumayan juga. Sehari bisa terkumpul antara Rp.15 ribu sampai Rp.30 ribu.
“Sore harinya, semua hasil yang terkumpul, kami bagi berdua. Lumayan juga bisa untuk membeli beras guna menghidupi keluarga," kata Suharto, salah seorang relawan ketika diwawancara Sukmawijaya, wartawan Biro Demak, baru-baru ini, ketika sedang mengatur lalu lintas.
Ditanya kenapa sudi menekuni pekerjaan ini? Relawan tua itu tidak cepat menjawab. Pandangannya jauh menerawang. Sore itu udara memang cerah, maklum sedang musim kemarau. Angin bertiup sumilir. Sesaat kemudian dia seperti bergumam lirih: “Yah, daripada menganggur di rumah Mas. Hitung-hitung bisa membantu orang menyebrangi lintasan KA. Saya tak ingin, tragedi kecelakaan beberapa tahun lalu yang merenggut 18 jiwa, tidak terulang kembali di desa ini,” tuturnya muram. Ah, rasa kemanusiaan yang nilainya tinggi juga. Namun adakah yang gantian memikirkan nasibnya? (Sukmawijaya)
------------------------------------------------------
|