Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
InfoJateng2 Komentar  |  830 Pembaca

KEKERINGAN, PARA PETANI GAGAL PANEN
Ditulis Oleh :Nahdluddin, Pemalang, Pada Tanggal : 16 - 08 - 2011 | 03:48:17

Ratusan hektar lahan persawahan pada beberapa Desa di pesisir pantai utara Pemalang, Jawa Tengah, dibiarkan terlantar. Pasalnya, air yang selama ini menjadi faktor terpenting dalam pertanian, volumenya berkurang dratis, karena adanya musim kemarau berkepanjangan.

Kekeringan yang datangnya tidak terduga ini, mengakibatkan tanaman padi menjadi kerdil, kering, dan banyak ditumbuhi rerumputan. Akibatnya, para petani setempat gagal panen dan menderita kerugian yang tidak sedikit. 

Datangnya musim kemarau beberapa bulan terakhir ini, juga menyebabkan menurunnya volume debit air pada sungai-sungai sekitar, yang biasa digunakan untuk mengairi sawah. Daerah yang terkena dampak terparah akibat kemarau tersebut, dialami Desa Nyamplung Sari, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Di Desa ini ada sekitar 160 hektar sawah dibiarkan pemiliknya ditumbuhi rumput liar, yang nyaris menutupi tanaman padi milik mereka. Tindakan para petani dengan menelantarkan sawahnya ini bukan tanpa alasan. Kesulitan mendapatkan pasokan air, menyebabkan mereka membiarkan saja rumput liar menutupi sawah mereka. Soalnya, dalam musim kemarau ini, rumput liar menjadi sangat cepat meluas dan sulit untuk dikendalikan. Para petani mengaku kuwalahan, dan membiarkannya saja.

Menurut penuturan Mustdi, salah seorang pemilik sawah di daerah itu, kepada Wartawan Obyektif Cyber Magazine Biro Pemalang, mengatakan: “Tidak turunnya hujan bukan faktor utama penyebab masalah kekeringan ini. Ada faktor lain yang juga tidak kalah penting, yaitu kondisi Bendungan Sokowati yang masih dalam perbaikan. Meskipun musim kemarau, kalau bendungan dalam kondisi baik, pasokan air tetap lancar,” katanya.

“Adanya proyek pembangunan teras kali (sender) di Desa Sokowangi, juga turut andil bagi tersendatnya aliran air, yang biasanya mengucur ke sawah-sawah dengan lancar,” tambahnya.

Meskipun sudah dilakukan pembagian jatah pengaliran air oleh Dinas Pengairan setempat, yaitu pada hari Senin hingga Jum’at, namun tidak mampu mengatasi masalah itu. Bahkan ada yang tidak sampai mengalir ke sawah di daerah tersebut, mengingat kondisi tanah yang kering. Lapisan bagian dalam tanahnya berpasir, hingga air mudah sekali meresap ke dalam tanah, dan lenyap begitu saja, sebelum sempat mengairi sawah.

Ada sebagian petani yang mencoba mengatasi keadaan tersebut dengan membuat sumur bor. Kemudian disedot airnya dengan menggunakan mesin diesel, meskipun mereka harus mengeluarkan biaya ekstra, dinilai bukan masalah. Namun sayang, tidak semua lokasi persawahan di daerah tersebut bisa diambil air tanahnya. Soalnya, kalau yang keluar air asin, malah repot. Bila sampai dialirkan ke sawah, bisa menyebabkan tanaman padi akan layu, dan akhirnya mati.

Total kerugian yang ditanggung oleh para petani karena kejadian ini, ditaksir hingga milyaran rupiah, karena untuk setiap hektarnya petani mengaku keluarkan biaya antara Rp.10 juta hingga Rp.16 juta. Untuk itu butuh perhatian dari pihak pemerintah untuk mencarikan jalan keluarnya. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. (Nahdluddin)

                                  ---------------------------------------------


 

  

  

 

 

 

 

 

 


KOMENTAR

2 Komentar

Rizal priyadi
Tanggal 20 - 08 - 2011
Apa pemerintah setempat tidak segera menindaklanjuti...??
Darkonah
Tanggal 20 - 08 - 2011
Yang paling aku sakit, kan kami tidak dapat ganti rugi kontrak lahan dari pemilik sawah.

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter