MEMPRIHATINKAN, DAYA DUKUNG JALAN SEMARANG - SOLO Ditulis Oleh :Muh Suni, Pada Tanggal : 07 - 06 - 2011 | 22:01:48
 BERITA TERKAIT
Daya dukung jalan Semarang – Solo saat ini sudah sangat memprihatinkan. Dari panjang jalan sekitar 100 Km itu, hampir 95 persennya berjalur sempit yang hanya bisa dilewati dua kendaraan jenis mobil, dalam dua arah. Sehingga kalau ada problem sedikit saja, membuat jalan macet total. Belum terhitung kendaraan roda dua yang jumlahnya ribuan yang setiap hari juga melintasi jalur ini, yang memang selalu padat.
Hal itu bisa dilihat sehari-hari di jalur Semarang – Salatiga, lalu Tingkir – Boyolali. Agak longgar setelah memasuki Boyolali, sampai ke Solo, meski sedang diperbaiki, tetapi agak lebar, dan dibuat menjadi 4 jalur. Demikian hasil pengamatan wartawan Obyektif Cyber Magazine, Muh Suni dari Biro Surakarta, baru-baru ini.
“Apalagi sekarang banyak truk-truk pasir dan kendaraan berat lainnya jenis tronton, mengangkut pipa dan sebagainya, semua lewat jalan ini,” tutur Rahmat, sopir Bus AC Safari, ketika diminta tanggapannya. Hal itu bermula ketika jalan jurusan Magelang – Jogyakarta putus. Truk-truk berat, terutama truk pengangkut pasir akhirnya memilih jalur Jogya – Surakarta – Semarang, yang jalannya memang mulus dan datar, meski sempit. Akhirnya keterusan sampai sekarang.
Truk-truk pasir ini yang jalannya minta ampun, lambat, beringsut seperti kura-kura. Kalau sudah begitu, kendaraan berleret panjang mengikuti di belakangnya, karena tidak dapat menyalip. Jaman Orde Baru dulu, kendaraan berat hanya boleh melintas malam hari saja, di atas pukul 21.00 sampai jam 06.00 pagi, harus berhenti. Sekarang jaman reformasi semua bebas. Nampaknya, jumlah kendaraan yang terus membengkak setiap tahunnya tidak diimbangi dengan fasilitas jalan yang memadai.
Oleh karena itu masyarakat mengharapkan, pemerintah segera turun tangan membenahi masalah ini. Apalagi pendapatan dari pajak kendaraan bermotor, jumlahnya cukup besar dan merupakan pendapatan primadona. Sudah seharusnya diperuntukkan memperlancar jalan-jalan raya andalan. Sementara itu Gubernur Jateng Bibit Waluyo sering memberikan penjelasan pentingnya dibangun jalan tol Semarang – Solo. Namun sampai sekarang, ide itu belum terealisasi.
Menurut pengamatan baru 25 persen jalan tol tersebut yang terselesaikan yaitu jalur Semarang – Ungaran. Itupun belum dapat digunakan, karena kendala tehknis. Janji Gubernur yang akan membangun jalan tol itu dari dua sisi, yaitu dari Semarang ke Solo dan dari Solo ke Semarang, belum dilaksanakan juga. Masyarakat sangat berharap jalan tol ini segera terselesaikan dan dapat mengurai kepadatan lalu lintas.
Memang ada beberapa ide untuk mengatasi problema itu. Pertama melakukan re-enginering (membenahi dan memaksimalkan) jalan yang sudah ada. Seperti yang dilakukan pemerintah, melebaran jalan Solo – Boyolali, menjadi empat jalur. Hal yang sama juga bisa dilakukan oleh Pemkab/Pemkot yang dilalui jalur itu. Melebarkan jalan masing-masing wilayah mereka. Trotoar yang biasanya tiga meter lebarnya, bisa dikepras menjadi satu meter saja, karena pejalan kaki sudah jarang lewat. Soal melebarkan ini, Dinas Pekerjaan Umum (PU) ahlinya.
Kedua, merintis angkutan kereta api tradisional, karena sekali angkut bisa mencapai seribuan orang. Kalau hal ini pun dirasa masih mahal, bisa menggunakan monorel, yang tidak memerlukan lahan luas. Bisa dibangun di tepi jalan yang sekarang ini ada, karena keretanya lewat di atas jalan, dan hanya memerlukan tiang-tiang penyangganya saja. Untuk itu, bisa studi banding ke negeri China atau Jepang, tutur Fauzan penduduk Salatiga Kota yang pernah lama bekerja di Jepang. Dalam hal ini bisa juga menggandengan pihak ketiga untuk joint-venture, atau melibatkan pihak swasta untuk ikut menangani, tambahnya.
Ketiga, melarang truk-truk berat, terutama truk pasir untuk melinatas di siang hari. Mereka boleh lewat, tetapi tengah malam yang suasana jalan sepi dan tidak sibuk. Barangkali cara inipun sangat efektif mengurai kepadatan jalur Semarang – Solo. Ataukah ada alternatif lain? (Muh Suni)
|