Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
InfoJateng1 Komentar  |  458 Pembaca

MENANAM TIDAK MENEBANG
Ditulis Oleh :Sukmawijaya, Demak, Pada Tanggal : 02 - 10 - 2011 | 08:35:24

Kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana. Hal itu terjadi karena di masyarakat kita telah mengakar budaya menebang pohon, tetapi jarang menanam. Oleh karena itu, untuk mengurangai dampak kerusakan tersebut, budaya yang terjadi di masyarakat harus dibalik yaitu menumbuhkan budaya “menanam tidak menebang”. Demikian ditegaskan Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL), Ali Murtado, di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kepada Obyektif Cyber Magazine Biro Demak, Sukmawijaya, baru-baru ini.

Kerusakan lingkungan yang melanda daerah lain di tanah air, juga terjadi di Demak. Tanaman mangrove yang dulu rimbun di wilayah pesisir kabupaten tersebut, kini musnah. Maka ekspansi air laut pun tidak ada yang menghambat lagi dan naik ke daratan, menyebabkan rob di mana-mana. Akibatnya, tambak-tambak ikan dan sawah kemasukan rob. Demikian juga rumah penduduk dan bahkan merambah ke sekolahan, serta bangunan milik instansi pemerintah.

Menurut data, di Kabupaten Demak, hampir 95 persen wilayah pesisirnya, terutama di Kecamatan Sayung, yaitu wilayah di sebelah utara jalan dandeles, saat kini rawan rob. Bencana rob air laut ini, telah masuk ke sekolah dan hal ini menggangu proses belajar-mengajar. Kondisi ini, mendorong ratusan murid MTs Nahdlatusy Syubban (NS) Sayung, bersama-sama menanam 2.500 bibit pohon mangrove di sekitar lingkungan sekolah.

"Sekolah kami sering kena rob, walaupun para siswa tetap masuk sekolah, namun tetap saja mengganggu saat kami belajar," aku Uswatun Chassanah, murid kelas IX MTs NS, saat bersama 600 siswa lain bergotong royong menanam bibit Mangrove di lahan belakang sekolahnya. Dengan dibimbing para guru dan LSM peduli lingkungan, mereka bersemangat menanam mangrove.

Menurut Kepala MTs NS, H Nur Hasan, bencana rob di Sayung sudah lama mengganggu proses belajar-mengajar. Bahkan dalam dua tahun terakhir ini, lantai sekolahnya sempat tiga kali dinaikan. "Disamping itu, kita juga coba menanam mangrove untuk mengurangi serangan rob. Diharapkan, bila sudah tumbuh rimbun, akan membuat kondisi lingkungan tidak terlalu panas," katanya. Sengaja budaya menanam mangrove atau penghijauan lingkungan, ditanamkan kepada para murid, agar mereka bisa mempunyai rasa anderbeni (memiliki) terhadap bumi ini.

Sementara itu, Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL), Ali Murtado menambahkan, lembaganya akan terus bekerjasama dengan sekolah-sekolah untuk membangun budaya menanam tidak menebang. Dia berharap ribuan pohon mangrove yang dibantukan ke MTs NS bisa bermanfaat sedikit menyembuhkan bumi ini dari bencana rob atau global warning.

"Rob di Sayung, sedikitnya melanda delapan desa, bahkan kantor instansi pemerintah juga kena rob. Kami berharap, pemerintah segera membangun pemecah gelombang dan menanam mangrove secara besar-besaran, untuk mengurangi korosi pada lapisan tanah akibat air laut," pintanya. Menurut dia, dengan cara seperti itu, rob bisa dihambat, lingkungan jadi hijau, udara juga tambah sejuk. Mangrove yang tumbuh subur di tepi pantai juga bisa sebagai “rumah” berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan ini jelas bisa meningkatkan pendapatan para nelayan setempat, tambahnya. (Sukmawijaya).

 

                                   ---------------------------------------------------------------

 


KOMENTAR

1 Komentar

Alif Khoirul Umam
Tanggal 22 - 10 - 2011
fotonya kok satu aja?

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter