MENGENAL PERSATUAN ISLAM TIONGHOA Ditulis Oleh :lisa febrina, Pada Tanggal : 17 - 08 - 2011 | 02:38:47
 BERITA TERKAIT Kota Semarang yang menjadi ibu kota Jawa Tengah, merupakan salah satu kota yang memiliki komunitas Tionghoa yang cukup besar. Hal tersebut mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat kota Semarang, khususnya di bidang ekonomi.
Namun dari berbagai komunitas Tionghoa tersebut, ada beberapa komunitas yang cukup memberi warna bagi keragaman komunitas itu sendiri. Salah satunya adalah: Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Cabang Semarang, atau sering disebut juga sebagaii Pembinaan Iman Tauhid Indonesia dengan H Maksum Pinarto sebagai ketuanya.
Sebagai Ketua PITI Semarang, Maksum tentu menjadi referensi dari banyak orang untuk belajar agama Islam khususnya dari kalangan Tionghoa. Sebelum memeluk Islam, ayah 2 anak ini dari kecilnya adalah penganut agama Konghuchu. Maksum-pun bersekolah di sekolah Tionghoa, dimana tidak ada pelajaran agama.
Memang sedari kecil Maksum sudah memiliki rasa kertertarikan terhadap ilmu-ilmu filsafat. Kecintaannya terhadap ilmu filsafat menjadikannya tumbuh sebagai anak dengan rasa ingin tahunya cukup tinggi. “Sejak kecil saya memang sudah memiliki ketertarikan akan ilmu filsafat dan saya senang membaca buku-buku filsafat dan buku-buku agama,” ungkap Maksum ketika diwawancara di kantor PITI Jalan Pekojan Selatan No 10 Semarang.
Karena banyak membaca buku-buku filsafat dan buku agama itulah Maksum mengalami proses pencarian jatidiri yang panjang. Sehingga dia akhirnya dia memutuskan memeluk Islam atau menjadi mualaf pada tahun tahun 1969. Saat itu, dirinya berusia 17 tahun, dan sudah duduk di bangku SMA. Rasa tertertarikannya terhadap Islam, tak lain adalah karena akidah atau syariah yang terkandung dalam agama Islam itu sendiri.
“Saya merasa mantap memeluk agama islam, istri dan dua anak saya juga memeluk islam,” ujar suami dari Vina Violita ini ramah. Maksum bersyukur, pilihannya untuk memeluk agama Islam, tidak menimbulkan masalah yang berarti dalam keluarganya. Setelah orang tuanya mengetahui Maksum sudah memeluk Islam, mereka sekeluarga pun mendukung dan tidak mempermasalahkan agama pilihannya.
“Kita malah saling toleransi, saling menghargai dan menghormati antar-sesama umat beragama. Untuk tradisi dan pergaulan dengan sesama etnis Tionghoa lain, walaupun ada yang beda agama, ya baik-baik saja,” ungkapnya.
Bahkan untuk menghormati para leluhurnya, Maksum juga masih merayakan Imlek, atau tradisi Tionghoa lain, yang berhubungan dengan pergaulan di komunitasnya. “Selama itu tidak bertentangan dengan keyakinan dan agama yang saya anut, ya nggak apa-apa. Kalau yang tidak sesuai, ya tidak kita ikuti,” ujar ayah 2 anak kelahiran Semarang 6 Januari 1952 ini.
Semenjak memeluk Islam, sudah puluhan kali ramadan dilewatinya. Setiap itu juga selalu diisi dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Pria yang piawai berdakwah ini selalu menjadi referensi dari banyak orang untuk belajar agama Islam.
Hari-harinya tak pernah sepi dari kegiatan keagamaan, termasuk dalam bulan ramadan ini. Berbagai kegiatan dilakukannya. Bahkan selama bulan ramadan, Maksum biasa memberi takjil untuk masjid-masjid di Semarang seperti Masjid Pekojan dan Masjid Baiturrahman. Karena ibadah tidak hanya yang berhubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga antara sesamanya.
Selain itu Maksum juga menjalankan kegiatan lainnya selama bulan puasa. “Kalau untuk puasa biasalah, kita ibadah rutin, tarawih keliling perorangan, saya juga selalu tadarus,” ungkap Direktur PT Andromeda Graha yang bergerak dibidang pelaksana penempatan TKI ini, mengakhiri pembicaraan. (lissa febrina)
------------------------------------------------------------------
MESKI MINORITAS, TETAP DIPERHITUNGKAN
PITI Cabang Semarang, walaupun merupakan kaum minoritas, namun keberadaannya tetap diperhitungkan dan dikagumi orang. Meski tak memiliki banyak anggota, khususnya untuk wilayah kota Semarang, namun keberadaannya tetap diakui oleh masyarakat luas. Demikian juga para pengurusnya, juga tetap ingin merealisasikan gagasan dan tujuan dibentuknya organisasi keagmaan ini.
“Hingga saat ini, jumlah anggotanya hanya sekitar 20 hingga 30 orang saja, untuk itu kami ingin menambah jumlah anggota, supaya dalam setiap kegiatan bisa lebih meriah,” paparnya.
Dikatakan, selama bulan ramadan ini, cukup banyak kegiatan. Beberapa di antaranya sudah dilaksanakan. “Seperti misalnya undangan buka bersama yang diadakan oleh PT Sango. Meskipun kami kaum muslim minoritas, namun keberadaan kami sangat dihargai oleh etnis Tionghoa yang non-muslim. Buktinya kami diundang kemana-mana oleh mereka,” tambahnya.
PITI yang dipimpinnya, juga mengadakan tarawih keliling (tarling) yang dilakukan di kediaman masing-masing anggota. “Untuk tarling ini, setiap hari kami akan muter dari satu tempat ke tempat yang lain,” jelasnya. Ditambahkan, mayoritas profesi para anggota adalah pengusaha. Oleh karena itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, pihaknya juga akan menghimpun zakat yang akan disalurkan ke pihak-pihak yang membutuhkan.
Sebagai komunitas muslim, PITI juga pernah mengadakan kegiatan yang cukup akbar. “Pecinan Bersholawat” yang diikuti sekitar 8000 peserta, dari seluruh Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 2009 lalu.Juga pernah mengadakan lomba takbir, yang dilakukan di relief kapal Cheng Ho, yang berada di depan klenteng Tay Kak Sie. Sambutan masyarakat cukup hangat.
Ditambahkan, sejak berdiri pada tahun 1966, hingga saat ini, kondisi perkembangan PITI cabang Semarang, masih normatif. “Untuk anggotanya memang tak terlalu banyak, namun perkembangan cukup positif. Saat ini, kami terus menambah anggota baru,” jelasnya.
Mengenai kaderisasi kepengurusan PITI, hingga saat ini tidak dilakukan secara terkoordinir. “Kami tidak ada kaderisasi khusus. Namun demikian, sudah banyak juga kamu muda etnis Tionghoa muslim, yang masuk ke pondok-pondok pesantren, untuk memeperdalam agama,” jelasnya. Untuk kedepannya, dia berharap, kondisi PITI akan semakin maju dan semakin dikenal di komunitasnya, komunitas kaum Tionghoa. (lisa febrina)
----------------------------------------------------------------
|
jangan sampai membeda beda kan suku, warna kulit, asal muasal, golongan , yang penting mempunyai satu tujuan menyembah alloh, apabila hidup kita bisa saling membaur dan saling menghormati dari suku manapun insya alloh akan selamat dunia akhirat ( hidup akan tentram damai )