Joshua Igho, Sastrawan Musisi dan Bu Muslimah

Joshua Igho, Sastrawan Musisi dan Bu Muslimah

BERBAGI
Joshua Igho ketika membaca puisi di panggung. (Foto: Koleksi Joshua Igho)

Lelaki yang berpostur sedang, sedikit gendut ini, sangat akrab dengan para seniman lainnya, terutama para sastrawan di tanah air. Suka humor, selalu menampilkan postingan nyeleneh di Medsos, seperti Facebook. Kadang juga menampilkan postingan saru, nyerempet-nyerempet porno, tapi anehnya tidak pernah menyinggung atau menyakiti siapa pun. Bahkan kadang jadi hiburan bagi teman-temannya dan juga sebagai bahan ledekan berkepanjangan.

Kalau ketemuan dengan sastrawan lain, dalam suatu acara, Joshua Igho akan pura-pura pamit pulang, dan berkata: “Maaf, saya dicari Bu Muslimah nih, kalau tidak segera saya hubungi, dia bisa marah besar dengan saya,” candanya. Dan jangan kaget, tokoh Bu Muslimah yang digambarkan sebagai wanita muda, cantik, seksi, berkulit kuning langsat ini, yang selalu mengenakan jilbab, seakan-akan tergila-gila dengan Joshua Igho. Anehnya, tokoh rekaan “Bu Muslimah” ini akhirnya bisa diterima teman-teman sastrawan lainnya, sebagai kewajaran. Gilanya, tokoh ini lama kelamaan bisa menjadi tokoh nasional, dan bahkan global. Edan ya?

Joshua Igho yang dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, 18 April 1968 ini, bukan hanya sastrawan saja, tetapi juga handal sebagai musisi. Dalam setiap kesempatan tampil, ketika dia dikerubut gadis-gadis muda berjilbab, saat dia memainkan orgen tunggalnya, karena mau menyumbang lagu, akan dikomentari teman-temannya. “Tuh, Joshua dirubung Bu Muslimah,” tuturnya. Bahkan ketika dia istirahat, duduk ngopi di meja acara, kalau ada teman wanita berjilbab yang kebetulan satu meja, akan disapa teman yang lain. “Ini Bu Muslimah jilid berapa, hehe…,” tutur temannya bercanda. Semua itu menggambarkan, betapa “kuat” nya sosok rekaan Bu Muslimah ciptaannya. Suatu saat pasti akan jadi viral di medsos, seperti tokoh Mukidi, haha…

Bergaul dan berbicara dengan Joshua Igho cukup menyenangkan dan tidak pernah bosan. Dengan canda dan senyumnya yang khas, di blantika sastra sudah tidak asing lagi. Namanya mulai dikenal melalui karya-karyanya berupa artikel dan puisi yang dimuat di berbagai media massa antara lain Radar Tegal, Nirmala Post, Buana Post, Warta Bahari, Koran Merapi, Buletin Talenta, Majalah Bhineka, Suara Merdeka, Media Indonesia, Majalah Horison, dan Kompas. Mengawali karier sastranya semenjak menyelesaikan kuliah di IKIP Semarang, tahun 1987. Semenjak itu dia terus menulis dan menulis.

Disamping menulis, dia juga giat berlatih musik orgen andalannya. Berbagai prestasi musik telah diraihnya, di antaranya karya musik yang dipersembahkan untuk masyarakat yaitu Mars Fakultas Hukum UPS Tegal, Mars Kota Tegal dan Mars Kabupaten Tegal. Sejak itu berturut-turut neraih gelar kejuaraan, di antaranya Juara 2 pada Festival Keroncong antarperguruan tinggi, di UNS Surakarta (1989), Juara 2 Pesta Paduan Suara Gerejawi, kategori Vokal Grup (1992), Juara 3 Lomba Cipta Lagu Anak-anak bertema P-4 (1993), Juara 1 Festival Vokal Grup se Kabupaten Cilacap (1994), dan Juara 1 Lomba Cipta Lagu Mars/Hymne Kota Tegal (2010). Pernah juga memperoleh kejuaraan di bidang teater yaitu mendapatkan Juara 1 Festival teater mahasiswa se Jawa Tengah (1988).

Ini prestasinya di bidang sastra, yang melahirkan banyak buku di antaranya: Nyanyian Kemarau (antologi puisi, SmartPro, 1999), Dian Sastro For President #3 (Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2005), Persetubuhan Kata-kata (Taman Budaya Jawa Tengah, 2009), Requiem Bagi Rocker (Taman Budaya Jawa Tengah, 2012), Dari Sragen Memandang Indonesia (DKDS, 2012), Amarah (Gramedia Pustaka Utama, 2012), Indonesia dalam Titik 13 (Aswaja, 2013), Dari Negeri Poci 4 (Kosakata Kita – Komunitas Radja Ketjil, 2013), Puisi Menolak Korupsi 2 (Forum Sastra Surakarta, 2013), Dari Negeri Poci 5 (Kosakata Kita – Komunitas Radja Ketjil, 2014), Dari Negeri Poci 6 (Kosakata Kita – Komunitas Radja Ketjil, 2015), Memo Untuk Presiden (Forum Sastra Surakarta, 2014), 1000 Haiku Indonesia (Kosakata Kita, 2015), Kitab Karmina Indonesia (Kosakata Kita, 2015), dan lain-lain.

Sementara itu, buku yang sudah disunting atau dieditori, di antaranya: Kesan Pergaulan Bersama Adi Winarso (Akademi Kebudayaan Tegal, 2009), Jejak Pemalang dalam Gambar (Kantor Humas Kabupaten Pemalang, 2010), Antologi Puisi Penyair Indonesia 1: Angkatan Kosong-Kosong (Dewan Kesenian Tegal, 2011), Setiap Anak Terlahir Istimewa (cerpen Dianna Firefly, LeutikaPrio, 2012), dan Tunas (cerpen Eko Tunas, Cresindo Press, 2013). Kini Joshua Igho hidup santai di Kota Mgelang yang menjadi kota kelahirannya. Namun ada kota kedua yang selalu dirindukannya yaitu kota Tegal. Sehingga dia sering juga ngendon di Kota Tegal, bergaul dengan para sastrawan di kota tersebut. Baginya hidup sebagai sastrawan dan musisi, cukup menyenangkan dan membahagiakannya. Hidup yang tidak terlalu berlebihan bukan? (Aries Kunarto MK).

 

izzaweb
BERBAGI