Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
Sehat1 Komentar  |  807 Pembaca

PEROKOK TERBESAR KETIGA DI DUNIA
Ditulis Oleh :Sukmawijaya, Demak, Pada Tanggal : 24 - 09 - 2011 | 19:55:41

Di Semarang, Jawa Tengah, tidak hanya orang dewasa saja yang sudah kecanduan rokok, tetapi juga menulari remaja dan bahkan anak-anak. Banyak dari para siswa yang belum mengetahui bahaya merokok secara pasti. Masa di mana seusia siswa SMP misalnya, adalah masa yang sangat penting sekali, karena biasanya para siswa mencari identitas diri, yang salah satunya dilakukan dengan merokok.

“Mereka tidak tahu, merokok bisa merusak kesehatan, bahkan meningkatkan angka kematian. Iklan rokok di televisi, meski tidak terang-terangan, tetap saja banyak berpengaruh pada remaja. Apalagi biasanya dikemas dalam figure pria jantan, berani, penuh petualangan, dan macho. Figur seperti itu banyak digandrungi para remaja,” tutur Ketua LSM Gagasan Anak Negeri (GAN) Pusat, Rachmad Silas Subarjo, yang mengawasi dampak iklan rokok di televisi, kepada Obyektif Cyber Magazine, di Semarang baru-baru ini.

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), Farid Moeloek, di Jakarta memaparkan, bahwa jumlah perokok di Indonesia merupakan terbesar ke-3 di dunia. Jumlah ini akurat berdasarkan data dari WHO. Bahkan, pertumbuhan konsumsi rokok di kalangan generasi muda Indonesia, merupakan yang tercepat di dunia, sedangkan di negara maju lainnya semakin menurun.

Tidak hanya itu, kematian akibat kebiasaan merokok di Indonesia telah mencapai 400 ribu orang per tahun. Meskipun mengenai dampak buruk rokok bagi kesehatan kerap dijelaskan, namun justru iklan dan promosi rokok dibebaskan secara nyata. Kondisi ini menjadikan anak-anak sebagai target perokok baru, terbukti, dengan naiknya perokok pemula. Kenaikan tertinggi sebesar 4 kali lipat terjadi pada kelompok umum 5-9 tahun, sedangkan peningkatan pada kelompok 15-19 tahun adalah 144 persen selama periode 1994-2004.

Dari penelitian Universitas Hamka dan Komnas Anak di tahun 2007, menunjukkan hampir semua anak (99,7 persen) melihat iklan rokok di televisi dan 68,2 persen memiliki kesan positif terhadap iklan rokok, serta 50 persen remaja perokok lebih percaya diri seperti dicitrakan iklan rokok.

Dilain pihak, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, Peni Susanti mengungkapkan, pihaknya telah menerbitkan aturan yang berfungsi untuk melindungi masyarakat Jakarta dari asap rokok. Tujuannya untuk membuat masyarakat Jakarta tetap sehat. Asap rokok merupakan salah satu sumber pencemaran udara di dalam ruangan. Bagi perokok, hal ini tidak akan jadi masalah besar. Namun, bagi orang-orang yang tidak merokok, ini tentunya menjadi bahaya yang mengancam kesehatannya.

Bahkan, berdasarkan hasil survei, sebagian besar masyarakat kalangan menengah ke bawah menghabiskan 20 persen dari pendapatannya untuk membeli rokok. Hal ini sangat ironis mengingat untuk makan saja terkadang susah, tapi mereka mampu menyisihkan uang hanya untuk rokok. (Sukmawijaya)

                                        -----------------------------------------------

MASYARAKAT MISKIN TERPERANGKAP ROKOK

Masyarakat miskin Indonesia terperangkap rokok karena harus mengalokasikan 70 persen dari total pengeluaran per bulannya untuk belanja rokok. “Rumah tangga termiskin memiliki pengeluaran untuk membeli rokok sebesar 70 persen dan pengeluaran itu menempati urutan kedua setelah makanan pokok,” kata Abdillah Ahsan, Peneliti Lembaga Demografi FEUI Jakarta, mengungkapkan hal itu di Jakarta baru-baru ini.

Menurut dia, enam dari sepuluh rumah tangga termiskin di Indonesia mengeluarkan uangnya untuk membeli rokok sehingga membuat beban ekonomi rumah tangga meningkat. Sementara itu menurut Undang-undang No. 39 tahun 2007 pasal 66A ayat 1, tentang Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCHT) menyebutkan, penerimaan negara dari cukai hasil tembakau akan dibagikan kepada provinsi penghasil cukai sebesar dua persen, atau pada 2010 lalu sekitar Rp 1,1 triliun, katanya.

Dana itu akan digunakan untuk peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan industri, pembinaan lingkungan sosial dan sosialisasi di bidang cukai dan pemberantasan kena cukai ilegal. Dari lima alokasi dana itu, lanjutnya, hanya pada pembinaan lingkungan sosial yang dapat digunakan untuk promosi kesehatan atas efek buruk rokok, penciptaan lapangan pekerjaan dan pengentasan kemiskinan.

Sementara itu Kepala Seksi Dana Bagi Hasil Pajak Kementerian Keuangan, Lesmana mengatakan, penggunakan dana pajak difokuskan untuk bidang kesehatan terutama di daerah penghasil tembakau.(Sukmawijaya)

                                          ------------------------------------------------

 


KOMENTAR

1 Komentar

Dimas Atmoko
Tanggal 25 - 09 - 2011
Kita salut Obyektif dg sistim online tetapi masy. kita blm semuanya memakai jaringan online mhn untuk sistim manual juga mulai digalakan lg tks.

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter