Beranda Sastra Budaya Majalah Kanal, Landmark Kota, dan Sungai

Majalah Kanal, Landmark Kota, dan Sungai

168
0
BERBAGI

Beberapa pekerja media massa di Semarang cukup terkejut dengan perkembangan Majalah Sastra Kanal, yang ternyata tidak menyurut, tetapi terus berkembang pesat. Setelah terbit edisi ketiga, ketika berita ini diturunkan, sudah mulai rapat para Dewan Redaksinya, untuk mempersiapkan edisi ke-empat. Permintaan terus meningkat dan kadang para Redaksi rela untuk tidak mendapatkan nomor bukti, karena habis tersalurkan ke masyarakat, hehehe….

Kabar menggembirakan itu berkat kerja keras semua yang terlibat di komunitas ini. Dinahkodai Mr Wardjito Soeharso dan Tuan Heru Mugiarso, bersama Dewan Redaksi Mbak Fransiska Ambar Kristiani, Mas Artvelo Sugiarto, Mas Lukni Maulana, Mas Ganjar Sudibyo, Mas Faizy Mahmoed Haly, Mas Arya Sutha, Mas Puguh Dwi Siswoyo, Sofyan Andrimen, Mbak Pia Cipta, Dik Handry Tm, dan lain-lain, menggunakan ilmu Bonek, bondo nekat, hehe…. Tentu saja, saya juga ikut terlibat di dalamnya, sebagai penggembira, dan tugasku seperti suporter sepak bola, ribut di tepi lapangan sambil berteriak-teriak memberi semangat, hehehe…..Pertemuan rutin terus diselenggarakan, tetapi lebih banyak rapat lewat online. Mereka saling berdiskusi di online, kerja keras, sambil “gasak-gasakan”, yaitu saling meledek, untuk menghilangkan kejenuhan. Pokoknya asyik, rukun dan guyup, Man.

Semarang punya majalah sastra, memang bukan yang pertamakalinya. Sebelumnya banyak juga diterbitkan, misalnya Komunitas Keluarga Penulis Semarang (KPS) pernah menerbitkan Majalah Sastra “Citra”, saya juga ikut jadi penggembira di dalamnya, hehe…Lalu muncul yang lain lagi, tetapi rata-rata nasibnya seperti Lakon Kumbokarno Gugur, berguguran sebelum sempat terbit di edisi ke-empat. Oleh karena itu, kalau Buletin Sastra Kanal bisa langsung jaya melampui  empat edisi, mungkin bisa selamat ke edisi-edisi yang lain. Kata Dik Handry Tm: “Moga-moga bisa sluman, slumun, slamet mas..,” tuturnya ikut memberikan semangat. Sementara itu, Mas Wardjito Soeharso menjamin sampai dua tahun ke depan masih aman.

Majalah ini bisa terbit rutin juga karena sistem marketingnya yang ugal-ugalan. Menggunakan ilmu “Willem”, yaitu “jawil gelem”. Artinya, para anggotanya, bergerak ke mana-mana, terutama si rambut jagung, Mas Artvelo Sugiarto, menjawil (mencolek) para relasi dan kenalan, untuk membeli. Ya itu tadi, seperti kena sihir, mereka yang dijawil, langsung gelem. Maksudnya mau membeli, hehehe….Semua ikut terlibat kegiatan Willem ini. Bahkan Mas Wardjito Soeharso, Si Ketua, ketika ada acara sastra di Jakarta menjawil para sastrawan senior, seperti Mas Bambang Widyatmoko. “Hahaha, mereka yang saya jawil, gelem semua. Beli semua, kelarisan deh saya,” tuturnya bersemangat menceriterakan dirinya yang memakai jurus ilmu gendam, hehehe….

Kanal memang menarik. Banyak yang bertanya, kenapa menggunakan nama Kanal? Untuk menjawabnya, maka harus memutar balik waktu ke masa sebelumnya. Diawali ketika aku ditimbali Mas Heru Mugiarso dan Mas Wardjito Soeharso di Hans Kopi, Jl. Pleburan, Semarang. Bertiga berembug soal macam-macam terutama dunia sastra budaya. Setelah itu ditindaklanjuti pertemuan lengkap dengan Komunitas Sastra Simpang Lima, ada Mbak Ambar, Mas Artvelo, Mas Lukni, Mas Ganjar, Mas Faizy, dan lain-lain. Dideklarasikanlah, Buletin Sastra Kanal, yang sekarang telah dikukuhkan sebagai Majalah Sastra Budaya Kanal. Selanjutnya diperkuat oleh para tenaga muda, yang masih fresh dan semangatnya menyala-nyala. Kompori ah, hehehe…Maka tidak heran, kalau roda Kanal terus menggelinding.

Kembali ke nama Kanal. Sebelumnya memang dirapatkan, dan disepakati, Majalah Sastra ini akan menggunakan ikon, landmark (tetenger) Kota Semarang. Semula diusulkan nama Simpang Lima, lalu muncul nama Lawangsewu, Tugumuda, Gombel, Blenduk dan lain-lain. Namun kemudian diputuskan nama Kanal, singkatan dari nama dua sungai yang membentengi Kota Semarang dari banjir besar, yaitu Banjirkanal Barat dan Banjirkanal Timur. Maka dengan suara bulat, diputuskanlah nama Kanal. Nama ini juga bisa diartikan sebagai “channal” yaitu lorong atau saluran, untuk menampung aspirasi para sastrawan dan karya-karyanya.

Mbak Ambar pada waktu itu usul, agar peluncuran perdananya, dimeriahkan dengan pembacaan puisi di taman sungai Banjirkanal Barat, dekat Plered, yang di tepi sungainya sudah dilengkapi taman-taman indah. Rencananya pembacaan bersamaan dengan para penyair, sastrawan, seniman, dan masyarakat umum. Bahkan rencananya juga akan melibatkan Walikota. Namun rencana itu gagal diwujudkan, karena musim hujan sudah tiba. Padahal lokasinya di tempat terbuka. Sampai sekarang, mau masuk ke penerbitan edisi keempat, rencana itu tidak pernah disinggung lagi, ya apa boleh baut, eh, apa boleh buat, hehehe…..Okre, salam laos teman-teman, merdeka ! (anggoro suprapto).

————————————

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here