Beranda Sastra Budaya Memburu Penulis Hantu

Memburu Penulis Hantu

363
0

SEMARANG, (Obyektif.com) – Hidup dari menulis, tidaklah gampang. Apalagi yang 100 persen, mengandalkan ekonomi keluarga dari hasil tulisannya, seperti diriku. Bahkan Novelis terkenal Bu NH Dini, pernah mengeluh pada saya, dari hasil royalti buku-bukunya yang laris, tiap bulannya hanya dapat uang di bawah UMR gaji seorang karyawan di Jateng. Tragis memang. Maka beliau heran, melihat Dik Handry Tm berjaya sebagai Penulis.

“Handry Tm itu kan anak kemarin sore. Kok sudah bisa beli mobil, dan lain-lain. Heran saya,” tuturnya dalam bahasa Jawa yang medok, dulu, kalau aku ke rumah beliau. Sekarang beliau sudah sepuh dan tinggal di Panti Wreda daerah Ungaran. Soal itu, kalau saya sampaikan ke Dik Handry, hanya tertawa saja, haha…..

Sesungguhnya, aku pun pontang-panting, mengandalkan uang dari hasil tulisan untuk menunjang ekonomi keluarga. Tetapi, aku kan bersemboyan: Biar miskin asal sombong. Maka dalam hidup, aku mengikuti teorinya Robert Kyosaki dalam bukunya “Q Quadrant”, meminjam “symbol” orang-orang kaya. Makan di restoran, pakai mobil meskipun sewa, selalu pakai jas ke mana-mana, mengaku bahwa aku orang kaya. Anehnya, teman-teman pada percaya, haha….

Hal itu juga diperkuat oleh Napoleon Hill, tokoh yang menginspirasi 80 persen orang Amerika menjadi kaya lewat bukunya yang populer: Think and Grow Rich, yang diterjemahkan: Berpikir Menjadi Kaya. Jadi dia tidak mengajar untuk “menjadi” kaya, tetapi mengajarkan “berpikir” menjadi kaya. Karena menurutnya, kaya adalah sebuah sikap mental. Jika sikap mentalnya kaya, seseorang sudah berjalan menuju kaya. Baca sendiri bukunya teman, di toko-toko buku Gramedia ada, edisi Bahasa Indonesia. Jika Anda pernah mendengar: Bermental Juara, nah ini Bermental Kaya, terlihat kaya dalam kehidupan kesehariannya, dan lama kelamaan bisa kaya beneran, haha….

Untuk menulis, sejujurnya, aku bagi dua. Menulis untuk idealisme, dan menulis untuk cari duit. Menulis idealisme misalnya membuat buku kumpulan puisi, novel, cerpen, dan lain-lain. Ini pun menghasilkan uang juga, tapi tujuan utamanya adalah menjadi penulis idealis. Tetapi, untuk dapat uang secara rutin, harus menulis apa saja. Misaknya, menulis buku-buku kesehatan, buku umum, dan lain-lain. Supaya rezekinya, mbanyu mili, haha….

Tetapi ada lagi sumber pendapatan besar dari menulis, yaitu sebagai “penulis hantu”. Kalau istilah kromo inggilnya, Ghost Writer (GW). Kita menulis apa saja, untuk orang lain. Misalnya menulis novel, setelah jadi, kita serahkan ke orang yang memesannya. Tentu saja setelah terbit, tidak pakai nama kita, tetapi memakai nama pemesan. Dalam hal ini, yang penting kita dapat honor besar. Tentu saja sebelumnya ada kontrak kerja, MOU yang mengatur semua itu. Awalnya, untuk mendapatkan order GW ini tidaklah mudah. Kita harus memburu order sebagai Penulis Hantu dulu. Setelah order didapatkan, barulah kita bisa bekerja. Lama kelamaan, pelanggannya jadi banyak juga, dan otomatis kita resmi dibaptis sebagai “tokoh hantu” di bidang penulisan, haha….

Soal menjadi Hantu Penulis ini, yang paling kusukai adalah menulis artikel lifesytle, untuk para eksekutif muda. Mereka banyak mengasuh rubrik di majalah-majalah eksekutif, tetapi tidak punya waktu menuliskannya. Maka tugas GW untuk mengatasinya. Dan bayarannya lumayan besar setara dengan gaji PNS kelas menengah. Nah, kalau punya pelanggan lima saja, per bulan, income kita cukup besar. Ada pengalaman menarik, order GW yang kuperoleh, jumlahnya cukup banyak. Maka sejujurnya, order saya bagi dengan sahabat mudaku, Mas Wiwien Witarto. Pilihanku jatuh pada beliau, karena masih muda, sregep menulis, dan pekerjaan sehari-harinya memang sebagai penulis profesional. Menulis buku-buku novel remaja untuk Gramedia Group, yang terbit rutin. Sebagai bujangan, beliau kelemahannya hanya satu…belum punya isteri, haha…..(Anggoro Suprapto).

Semarang, Februari 2018, Foto: koleksi Wiwien Witarto.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here