Beranda Hot News Mengenang Sang Darmanto Jatman

Mengenang Sang Darmanto Jatman

267
0

SEMARANG, (Obyektif.com) – Aku ditakdirkan bertemu Pak Darmanto Jatman, waktu masih muda. Masih pakai celana pendek, awal-awal tahun 80-an. Waktu itu, dia mengontrak rumah di ujung Jl. Mrican, Semarang. Masih kuingat rumah sederhana, pekarangannya luas, ada pohon belimbing besar. Aku ketemu karena ingin berguru pada beliau. Pada waktu itu, di Kota Semarang dia seperti belum punya banyak teman, sehingga aku diajak ke mana-mana, diboncengkan Vespa.

Diajak menemani jemput Pak Ikra Negara di bandara, lalu sorenya nonton film layar lebar bersama, aku juga ikut. Ada dua dosen Undip yang aku akrab​, Pak Darmanto dan Drs Novel Ali. Maka kalau Pak Darmanto tak cari tidak ketemu, aku gantian membonceng motor Yamahanya Pak Novel, yang pada waktu itu juga seorang penulis, dan tulisan-tulisannya banyak dimuat di Sinar Harapan dan Kompas. Sejak itulah aku akrab dengan Pak Darmanto, sampai beliau akhirnya pindah rumahnya sendiri di Jl. Menoreh Raya, Sampangan, bersama keluarganya, aku sering main ke rumahnya. Biasanya sama kawan-kawan, ngobrol, dan diskusi macam-macam.

Banyak kenangan indah bersama beliau, yang tak mungkin kulupakan. Ketika aku harus ujian skripsi, di mana pengujinya beliau, di Kampus Peleburan, antrean yang mau diuji cukup panjang. Ketika tiba giliranku, petugas mempersilahkan aku masuk. Pak Darmanto duduk di kursi dengan sebuah meja, aku dipersilahkan duduk di depannya. Ketika kusodorkan skripsiku, dia bilang: Letakkan di situ, sambil menunjuk di sudut mejanya. “Ujiannya ngobrol saja,” katanya tanpa menyentuh skripsiku, apalagi membukanya. Gilanya nih, dia memanggil salah seorang panitia, minta dua gelas kopi dan dua dus snack. Jadi asyik berdua ngopi, sambil ngobrol macem-macem. Padahal yang nunggu untuk diuji masih banyak dan antre di luar, di sepanjang ruangannya. Ketika pengumuman ujian skripsi, namaku ada, alias lulus. Beliau bukan sembrono, tapi jauh sebelumnya sudah membaca dan menganalisa skripsiku dengan seksama.

Setelah aku lulus dan tidak jadi mahasiswanya, kami tetap bersahabat, apalagi aku juga “ngangsu kawruh” masalah filsafat, psikologi, dan sastra budaya dengan dirinya. Sikap kebapaannya sangat besar. Pernah ketika aku ada masalah keluarga, diundang beliau ke rumahnya, aku dan istriku dinasihati macam-macam, dan kami jadi rukun sampai sekarang.

Kenangan lain, Pak Darmanto Jatman dan aku, diberikan hadiah khusus ulang tahun oleh pihak Pimpinan Hotel Graha Santika (sekarang Santika Premire). Pada waktu itu Humasnya, Mbak Bonita D Sampurno, SH. Ternyata tanggal lahir kami beriringan. Beliau tanggal 16 Agustus, aku pas tanggal 17-nya, sehingga Ultahnya dijadikan satu. Kami berdua dihujani hadiah macam-macam, berupa barang-barang, juga dikasih voucher free menginap kapan saja. Malam itu, di aula hotel dibuat acara meriah. khusus untuk kami, sungguh terasa indah bagi kami berdua, antara guru dan murid. Apalagi, beberapa saat kemudian kami menerima penghargaan khusus “Sastra Emas” di hotel yang sama, dalam rangka 50 tahun Indonesia merdeka. Sampai sekarang, kalau memandangi pialanya yang kupajang di ruang tamu rumahku, aku selalu ingat Pak Darmanto.

Ada kejadian aneh yang tak terduga. Ketika aku sudah bekerja ikut perusahaan Amerika, Fluor Eastern Inc, mengerjakan proyek-proyek revinery berkeliling ke beberapa negara. Karena banyak pekerja Indonesia yang Bahasa Inggris-nya terbatas, maka disediakan seorang enterpreter, seorang penterjemah, pemuda dari kota Yogyakarta, ganteng, tinggi langsing. Kami semua memanggilnya: Mr Slim. Takdirku ternyata tidak mau lepas dari Pak Darmanto Jatman. Pemuda yang kemudian bersahabat akrab denganku itu, mengaku sebagai adiknya. Entah dari kerabat yang mana. Ketika pulang dari cuti, masih di proyek, dia memberi aku sebuah map hijau. Ketika kubuka, di dalamnya ada transkrip kumpulan puisi “Bangsat”. Dalam ketikan tradisional yang rapi, di atasnya diberi pas foto Pak Darmanto ukuran 4X6, hitam putih, diklip. Aku kaget, katanya transkrip itu untuk saya. Simpan saja, katanya.

Dalam kesempatan aku pulang ke Semarang, aku buru-buru sowan ke dalemnya Pak Darmanto. Map itu saya serahkan. Diterima, dibuka, dan diamati lama. Lalu dikembalikan lagi ke aku. “Untukmu saja. Simpan, untuk kenang-kenangan. Kan bukunya sudah lama terbit,” tuturnya. Memang transkrip itu akhirnya kusimpan juga. Entah sekarang di mana. Harus dicari lagi, kalau ingin dilihat, terselip di antara tumpukan naskah dan buku-bukuku.

Ada lagi kenangan ketika skripsi putriku, Brigita Neny Anggraeni, tidak juga ditandatangani, padahal sudah lama banget numpuknya. Takut kalau tidak dapat wisuda, Neny saya ajak nglurug tanpo bolo, ke ruang kampus beliau mengajar di Fakultas Psikologi Undip Tembalang, yang pada waktu itu dijadikan satu dengan Falkutas Kedokteran. Saat itu jam istirahat dan Pak Darmanto masih ngobrol dengan para mahasiswinya. Kaget juga melihat aku datang dengan Neny. “Ono opo iki?” katanya heran. Ketika kuprotes kenapa skripsinya Neny, tidak juga ditandatangani, dia malah tertawa bergelak. Lalu bertanya pada para mahasiswinya. “Kamu semua percaya, ini anaknya Anggoro? Paling pacarnya, diaku anak, iya kan?” Tentu saja aku dan Neny tidak berkutik karena malu. Maka kujawab keras: “Lah, murid kan mencontoh gurunya,” kataku supaya didengar semua yang hadir. Akhirnya kami semua gasak-gasakan dan bersenda gurau. Begitulah kalau ketemu Pak Darmanto, kita semua dibuat gembira dan optimis. Hari itu aku pulang dengan senang hati, skripsi Neny sudah langsung ditandatangani.

Prof Darmanto, sebetulnya banyak kenangan indah yang semuanya tidak bisa kutulis di sini. Misalnya saat awal-awal era reformasi, sering kumpul bersama para seniman dan budayawan, di rumah Pak Darmanto, membuat gerakan reformasi dan ingin melengserkan rezim yang berkuasa, dengan “gerakan budaya”. Sehingga lahir puisinya: Apa Ndak Bosen Kamu, Sampek Tuwek Jadi Presiden? Yang kemudian, atas persetujuannya, puisi itu secara utuh, saya pajang di cover belakang bukuku: Jatuhnya Soeharto. Teman-teman kemudian memberimu gelar, Darmanto Jatman, Reformis Kebudayaan. Ah Prof, kalau hari ini engkau diberangkatkan ke pemakaman keluarga Undip di Tembalang, ketahuilah, air mataku terus mengalir. Selamat kondur ke alam kelanggengan Prof, damailah di alam sonya-ruri. (Anggoro Suprapto)

Semarang, 14 Januari 2018

Foto: Koleksi keluarga Darmanto Jatman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here