Beranda Sastra Budaya Mengharukan, Hamsad Rangkuti Sakit, Pulkam

Mengharukan, Hamsad Rangkuti Sakit, Pulkam

57
0
BERBAGI
Hamsad Rangkuti (kanan) bersama Penyair Magelang, Bambang Eka Prasetya. (Foto: Koleksi BEP)

Deli Serdang, (obyektif.com) –  Sangat mengharukan, Sastrawan terkenal Hamsad Rangkuti, dalam keadaan sakit, minta pulang kampung (pulkam). Kini dia tergolek sakit, dan sudah tidak bisa beraktivitas lagi. Sejak 13 Juni lalu sastrawan besar Indonesia tersebut dirawat di Rumah Sakit Sembiring, Deli Tua, Deli Serdang, Sumatera Utara. Dia harus dilarikan ke rumah sakit setelah muntah dan pingsan, tak lama seusai menikmati teh manis dan sepotong roti.

Isterinya yang setia, Nurwindasari, selalu menunggui di sampingnya. Sejak itu, Hamsad yang sebelum kejadian tersebut kondisi kesehatannya memang telah merosot, tak siuman lagi. Beberapa hari dirawat di ruang ICU (intensive care unit), lalu dipindahkan ke ruang rawat inap. Itu dilakukan setelah kondisi cerpenis dan novelis tersebut agak membaik meski belum sadar diri, seperti yang dilansir jpnn.com, baru-baru ini.

Hamsad dibawa ke Deli Serdang, karena permintaannya sendiri. Saat sakit di Kota Depok, Jakarta, Jabar, dan kondisinya tidak kunjung membaik, dia minta dirawat di daerah kelahiran dan masa kecilnya. Berkali-kali dia memohon pada isterinya, kangen kampung halaman. Begitu penjelasan Nurwindasari, kepada beberapa wartawan yang mengunjungi, silih berganti belum lama ini. Hamsad lahir di Titikuning, Medan, Sumatera Utara, 7 Mei 1943. Dia penulis yang menelurkan banyak karya besar dan kerap dianugerahi penghargaan.

Kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot (2003), misalnya, terpilih sebagai pemenang kategori prosa Khatulistiwa Literary Award (kini Kusala Sastra Khatulistiwa) 2003. Pada 2008, dia juga mendapatkan SEA Write Award, penghargaan bergengsi untuk para penulis di kawasan Asia Tenggara dari Kerajaan Thailand. Hamsad juga memenangi sayembara penulisan cerita anak terbaik dalam rangka 75 Tahun Balai Pustaka pada 2001 lewat karyanya, Umur Panjang untuk Tuan Joyokoroyo.

Secara keseluruhan, karya-karya sastrawan yang dikenal humoris itu kerap mengisahkan orang-orang kebanyakan dengan gaya realis yang khas. Kekocakannya juga tampak dalam salah satu cerpennya yang paling terkenal yang juga termaktub di Bibir dalam Pispot: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?. Tapi, jejak kebesaran Hamsad itu sama sekali tak terlihat di Ruang J 17 Lantai 13 RS Sembiring tersebut. Ruangan 2,5 x 4 meter itu terasa sangat sempit. Sebab, ruangan tersisa digunakan sebagai tempat menggelar tikar tempat tidur oleh Nurwindasari dan putra keduanya yang turut mendampingi, Girindra Rangkuti.

Hamsad dan istri, sehari-harinya berdomisili di Depok, Jawa Barat, dan tiba di Sumut tiga bulan lalu. Kota pertama yang dituju adalah Tanjungbalai. Kota pelabuhan itu merupakan kota tempat Hamsad menjalani masa-masa SMP. Sebuah peristiwa mengharukan terjadi di sana. Saat diajak sang istri berjalan-jalan ke pantai di atas kursi roda, Hamsad menangis saat menatap perahu-perahu yang berlayar dan sandar di pelabuhan tersebut. ”Saya ingat main-main di situ sama Martin,” ujar pria bernama asli Hasyim Rangkuti itu kepada istrinya sembari menangis. Martin yang dia maksud adalah Martin Aleida, juga sastrawan kenamaan Indonesia yang masih produktif menulis cerpen sampai kini.

Selama berada di Tanjungbalai, mereka menumpang di rumah sanak saudara. Lalu, bergerak lagi ke Kisaran, Asahan.Tapi, di Kisaran, tak ada lagi pusat perbelanjaan berlantai dua tempat Hamsad memulai pengembaraan imajinasinya sebagai anak muda ketika bertumbuh menjadi pengarang. Setelah hampir dua bulan berada di dua kota masa kecil itu, mereka kembali ke Medan.

Di Medan, tempat yang sangat ingin dikunjungi Hamsad adalah Taman Sri Deli. Dulu tempat tersebut menyerupai taman kota. Sering menjadi lokasi bertemunya para seniman setempat, dan terlibat ngobrol bersama. Taman itu kini telah dipugar dan berubah dari bentuknya yang asli.Tapi masih tetap memiliki fungsi sebagai taman rekreasi, di mana pengunjung bisa bersantai dengan memandang air mancur. Belum sempat rencana itu terwujud, Hamsad jatuh sakit. ”Saya sedih sekali, belum sempat membawa Bapak ke sana. Medan itu sebenarnya tempat beliau transit sebelum ke Jakarta, menjalani takdir sebagai penulis,” kata Nurwindasari pada jpnn.com.

Hamsad mendarat di Jakarta pada 1964 bersama rombongan delegasi pengarang Sumut yang mengikuti Konferensi Pengarang Seluruh Indonesia. Penulis Sampah Bulan Desember itu termasuk penanda tangan Manifesto Kebudayaan yang intinya menentang upaya menjadikan politik sebagai panglima. Menghabiskan masa kecil dan remaja di Kisaran dan Tanjungbalai, cerpen pertama Hamsad bertajuk Sebuah Nyanyian di Rambung Tua dimuat di sebuah koran di Medan. Diva Press, sebuah penerbit di Jogjakarta, juga menerbitkan lagi novelnya, Ketika Lampu Berwarna Merah, pada Mei lalu.

Kondisi kesehatan Hamsad mulai drop sekitar setahun setelah menerima SEA Write Award. Pemicunya, tutur Nur, lahan berukuran 5×12 meter yang dia klaim sebagai miliknya diambil alih secara sepihak oleh Pemerintah Kota Depok. Di tanah yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman Hamsad itu, Pemerintah Kota Depok lantas membangun tempat pembuangan sampah. Nurwindasari menuturkan, dirinya dan Hamsad sudah berusaha keras melakukan perlawanan, tapi gagal.

Sejak itulah Hamsad yang sangat terpukul mulai sakit-sakitan. Dia dan Nurwindasari tak betah lagi tinggal di rumah yang dibangun dengan jerih payah sebagai seorang pengarang. ”Bau menyengat, penuh belatung, tikus, kecoak, gimana hidup seperti itu?” tuturnya. Sejak itu pula Hamsad dan istri memilih lebih sering bepergian dan tinggal bersama keluarga yang satu ke keluarga lain. Tapi, setiap pulang ke rumah, sampah-sampah itu kembali menghantui.

Sampai kemudian Hamsad berulang-ulang menyuarakan kerinduannya untuk pulang ke kampung halaman. Niat itu memang akhirnya kesampaian. Sayang, Hamsad kembali jatuh sakit di tanah yang dirindukannya tersebut. Saat keinginan ke Taman Sri Deli belum tertuntaskan. Nurwindasari mengatakan belum punya niat atau rencana untuk pindah maupun menetap di Medan. Semuanya bergantung sang suami. Bahkan, jadwal kepulangan mereka ke Jakarta pun awalnya juga bergantung Hamsad. Kalau dia bilang pulang ke Jakarta, kami pulang, kata isaterinya sambil memandang wajah suami tercinta yang tergolek lemah di pembaringan rumah sakit. (jpnn.com/sumber lain).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here