Beranda Tips Sehat Misteri Pedasnya Cabai

Misteri Pedasnya Cabai

122
0
BERBAGI
http://www.viryacarvalho.com

Di Semarang, Jawa Tengah, akhir-akhir ini bermunculan rumah makan yang mengandalkan pedasnya cabai. Ada Super Sambal (SS), Lombok Ijo, Raja Sambal, Aneka Sambal, Pedasnya Sambal (PS) dan masih banyak lagi. Intinya, mereka mengandalkan “pedasnya sambal cabai”, yang menyengat lidah, sebagai menu utama, mendampingi berbagai lauk pauk makan siang Anda.

“Jangan heran, rumah makan seperti itu selalu dipenuhi pengunjung setiap harinya. Bahkan mereka rela antre, menunggu agak lama menu disajikan, agar bisa menyantap menu favoritnya yang pedas,” tutur Ny. Atiek Gedhe, penduduk perumahan elite Puri Anjasmoro Semarang, yang lagi antre menunggu menu sambal pedasnya di Rumah Makan SS, Jalan Anjasmoro Raya, ketika diwawancara wartawan Obyektif Cyber Magazine, Aries Kunarto MK, baru-baru ini.

Sebenarnya apa sih misteri di balik pedasnya cabai? Sehingga orang rela antre untuk menyantapnya? Menurut literatur, cabai yang nama latinnya capsium frutescens ini berasal dari daerah Amerika Tropic. Bisa tumbuh bebas di pekarangan dan hidup subur di wilayah tropis yang kering di ketinggian 0,5 sampai 1.250 meter dari permukaan laut. Di pekarangan-pekarangan orang Jawa, banyak ditanam di pot-pot besar, guna dikonsumsi sendiri. Mereka menyebut cabai dengan nama populer: lombok.

Ada tiga jenis cabai, yaitu Lombok Merah, Lombok Hijau dan Lombok Rawit. Untuk lombok yang terakhir ini, yang terkenal paling pedas. Ada ungkapan: Kecil-kecil tapi cabai rawit. Khusus Lombok Rawit ada dua jenis. Rawit Hijau yang kurang pedas, dipakai untuk lalapan, pendamping makan tempe goreng, tahu goreng, tempe mendoan, dan lain-lain. Kedua lombok rawit kuning dan kalau semakin tua, warnanya berubah merah kekuningan. Lombok jenis ini yang paling pedas dan biasa dipakai untuk sambal. Lombok masuk dalam kelompok keluarga sayuran.

Bagi orang Jawa, ada tiga sambal favorit. Sambal tomat, sambal terasi dan sambal bawang. Semua menggunakan cabai sebagai bahan utamanya. Sambal tomat, disajikan tidak begitu pedas. Sedangkan yang sambal terasi dan sambal bawang, biasanya cukup pedas, tergantung selera penyantapnya. Jadi kalau mau pedas sekali, tambah saja cabainya, dan kalau tidak suka terlalu pedas, ya dikurangi. Sekarang yang populer adalah sambal Lombok Ijo.

Kembali ke pertanyaan: Misteri apa di balik pedasnya cabai? Inilah jawabannya. Orang, khususnya kaum perempuan suka akan cabai karena rasa pedasnya bisa menggugah selera. Memberikan semangat untuk makan. Setelah makan, lidah rasanya terbakar, kepedasan. Orang Barat menyebutnya sebagai: hot chili. Kemudian keringat keluar semua. Rasa tubuh jadi fresh. Bahkan bagi yang kena flu atau demam pun jadi sembuh seketika.

Sejak jaman kuno, cabai yang buahnya digunakan orang sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan asinan ini, sesungguhnya, daun mudanya bila dikukus bisa disajikan sebagai lalapan. Disamping itu, cabai memangmemiliki banyak khasiat pengobatan. Bukan cuma flu, reumatik saja yang bisa disembuhkan, tetapi radang beku atau frostbite, yang sering terjadi di daerah ketinggian bersalju itu pun bisa diatasi. Itulah sebabnya, pada jaman VOC Belanda sekian abad yang lalu, cabai banyak diburu dan dikirimkan ke Eropa yang bersalju. (Aries Kunarto MK).

—————————-

KHASIAT DAN MANFAAT CABAI

Menurut pengobatan Traditional Chinese Medicine (TCM), tanaman cabai yang bernama Cina, La Jiao ini mempunyai rasa khas, yaitu rasa pedas yang sifatnya panas, dan masuk dalam meridian jantung dan pankreas. Dr Budi Sugiarto Widjaja, ahli TCM, dari Klinik Beijing, Jakarta, mengatakan, cabai rawit merah berkhasiat sebagai tonik dan stimulan kuat untuk jantung dan aliran darah.

Khasiat lain dari cabai rawit, bila digiling halus, bisa menjadi antikoagulan, yang dapat menghancurkan darahyang membeku dan mengatasi gangguan reumatik dan radang beku lainnya. Cabai rawit bisa meningkatkan nafsu makan (stomakik), perangsang kulit, peluruh kentut (karminatif), serta peluruh keringat (diaforetik), air liur, dan air kencing (diuretik). Oleh karena itu, cabai sebetulnya memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.

Cabai, ternyata juga kaya antioksidan. Dr Setiawan Dalimartha, anggota Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) DKI Jakarta, menjelaskan, cabai rawit  mengandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid atsiri, resin, minyak menguap, serta vitamin A dan C. Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai, berkhasiat melancarkan aliran darah serta sebagai pemati rasa kulit. Cabai juga sarat dengansolanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin). Kandungan terakhir ini berkhasiat sebagai antibiotic alami.

Dijelaskan, cabai ketika dimakan menimbulkan rasa pedas di lidah dan dapat menimbulkan rangsangan ke otak untuk mengeluarkan endorfin (opiate endogen). Hasilnya, rasa sakit hilang dan timbul perasaan lebih sehat. Pada sistem reproduksi, sifatnya yang panas dapat mengurangi rasa tegang dan sakit akibat sirkulasi darah yang buruk. Cabai rawit diketahui memiliki khasiat mengurangi terjadinya penggumpalan darah (trombosis) dan menurunkan kadar kolestrol. Satu hal lagi, banyaknya kandungan zat antioksidan, seperti vitamin C dan betakaroten, dapat digunakan untuk mengatasi ketidaksuburan (infertilitas), afrodisiak, dan memperlambat proses penuaan.

Meski banyak khasiatnya, namun tidak setiap orang boleh mengonsumsi cabai rawit secara berlebihan. Pengidap sakit tenggorokan, sakit mata, dan penderita gangguan saluran pencernaan, kata Dr Setiawan, tidak dianjurkan mengonsumsi cabai rawit. Namun bagi orang yang sehat, cabai rawit bisa digunakan untuk menambah nafsu makan, menormalkan kembali kaki dan tangan yang lemas, melegakan rasa hidung tersumbat pada sinusitis, mengurangi batuk berdahak, dan meredakan migrain.

Sementara itu, menurut hasil penelitian yang dilakukan Tyas Ekowati Prasetyoningsih dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Jawa Timur (1987), menyebutkan, ekstrak buah cabai rawit mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan jamur Candida Albicans, yaitu jamur pada permukaan kulit. Daya hambat ekstrak cabai rawit 1 mg/ml setara dengan 6,20 mcg/ml nistatin dalam formamid. Itulah misteri kandungan pedasnya cabai.(Aries Kunarto MK).

————————-

CABAI SEBAGAI OBAT HERBAL

Melihat begitu banyaknya misteri kandungan cabai, maka sejatinya, cabai bisa dipakai sebagai obat herbal. Di dalam pengobatan tradisional, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan khasiat cabai rawit, untuk pengobatan. Misalnya bisa dengan cara merebusnya, atau dibuat bubuk dan pil. Dengan demikian, mengkonsumsinya lebih mudah. Sedangkan untuk pemakaian luar, cukup dengan merebusnya, lalu uapnya dipakai memanaskan bagian tubuh yang sakit. Biasanya berangsur-angsur jadi sembuh.

Bisa juga dengan cara menggiling cabai rawit sampai halus, kemudian membalurkannya di bagian yang sakit. Cara terakhir ini bisa digunakan untuk gangguan reumatik dan frostbite yaitu jari nyeri karena kedinginan, misalnya di daerah bersalju. Daunnya bisa digiling untuk dibalurkan di daerah yang sakit guna mengatasi sakit perut dan bisul.

Untuk pengobatan, tidak hanya buah dan daun cabai saja yang dimanfaatkan. Namun biji cabai yang ditumbuk halus, dikeringkan dan dicampur madu murni, diyakini banyak orang sebagai obat kuat. Memang selama ini orang hanya mengenal cabai sebagai penyedap rasa bumbu di dapur saja. Namun menurut penelitian terakhir, cabai kaya dengan zat salanin yang bisa mencegah kanker. Memiliki kemampuan untuk menghambat perkembangan pada pertumbuhan kanker.

Disamping itu, cabai sebagi obat herbal juga diyakini bisa menghambat penyebaran virus AIDS. T-sel yang diproduksi dari cabe bubuk, mampu merusak secara bertahap perkembangan penyebaran virus AIDS pada tubuh penderita. Selain T-sel, zat lain yang membantu penyebaran perkembangbiakannya adalah zat interlankin-2. Bisa menurunkan kadar gula pada penderita diabetes militus. Dihydrocapsaiscin (DHC) adalah senyawa yang dihasilkan cabe, memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk marangsang metabolisme karbohidrat. Hal ini untuk menekan kelebihan kadar gula yang akan diserap tubuh kita. Bisa menghangatkan serta mendinginkan tubuh. Saat tubuh kita kedinginan, DHC dan Narhidricapsaiscin (NDHC) akan membantu menghangatkan tubuh. Namun saat tubuh kepanasan, kedua senyawa tersebut akan mendinginkan suhu tubuh. Intinya menormalkan kembali suhu tubuh anda.

Cabai sebagai obat herbal, juga mampu menurunkan kolesterol dan melancarkan peredaran darah. Para dokternaturaphaty di Eropa lebih memilih memakai bubuk cabe sebagai ramuan obat yang berguna untuk membersihkan pembuluh darah. Kandungan vitamin C-nya bisa menyembuhkan sariawan, dan berguna untuk menjaga kesehatan mulut dan pencernaan tubuh. Cabai yang dikonsumsi secara teratur dalam kapasitas normal, akan membantu mempercepat proses pencernaan. Hal ini telah dibuktikan para ahli hermatologis.

Disamping itu, asupan vitamin A yang terkandung pada cabai, terutama cabai rawit sangatlah tinggi. Vitamin A dibutuhkan untuk menjaga ketajaman mata. Dengan mencukupi asupan vitamin A dapat dipastikan penglihatan akan tetap normal. Dengan demikian, cabai memang layak digolongkan dalam jajaran obat herbal dan bisa diproduksi secara modern. Adakah yang tertarik untuk membuatnya sebagai pil atau kapsul? (Aries Kunarto MK).

—————————–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here