KORAN CETAK AKAN MATI Ditulis Oleh :ars, Pada Tanggal : 14 - 03 - 2011 | 14:58:26
 BERITA TERKAIT
Koran cetak akan segera mati, karena dunia digital semakin menggila. Masalahnya bukan koran besar “memakan” koran yang kecil karena kuat modalnya, tetapi dalam era ini, berlaku hukum media, siapa cepatlah yang menang. Tentu saja Koran digital lebih cepat, karena tidak lagi dibatasi ruang dan waktu.
Kabar buruk tentang akan tumbangnya media-media cetak itu datang dari raja media dunia, Rupert Murdock. Berbicara di hadapan Asosiasi Editor Surat Kabar Amerika,baru-baru ini, ia seperti nabi menubuatkan bahwa: koran dan media cetak tinggal menunggu mati. ”Sekarang zamannya internet. Perusahaan media, termasuk perusahaan saya, harus segera beralih ke internet,” katanya.
Nubuat kematian media cetak memang bukan barang baru. Terlalu banyak ahli media yang telah meramalkannya. Tapi ketika ramalan itu datang dari “sang raja media” , orang jadi terperangah dan kejadiannya dinilai tidak panjang lagi.
Oplah surat kabar bisa menjadi bukti. Dari data yang dikeluarkan Asosiasi Surat Kabar Dunia, sepanjang 1995-2003, oplah koran turun 5% di Amerika, 3% di Eropa, dan 2% di Jepang. Bila pada 1960-an empat dari lima orang Amerika membaca Koran, di tahun 2005 tinggal 2 dari lima orang Amerika membaca Koran, di tahun 2005 tinggal 2 dari lima orang saja yang masih membaca Koran. Yang tiga orang lagi telah terbenam di dunia elektronik atau digital.
Bahkan menurut data yang tercatat,pada tahun 2007 sampai 2011 ini, lebih dari 80 persen penduduk di Negara-negara maju membaca koran lewat internet, baik di rumah maupun dalam perjalanan dengan telepon seluler pintar.
Lalu bagaimana di Indonesia? Survei Kementerian Komunikasi dan Informasi menunjukkan hasil yang mengagetkan. Oplah Koran yang semula 6 juta eksemplar di awal reformasi, kini tinggal 4,3 juta eksemplar. Bahkan, total tiras penerbitan yang semula 14 juta eksemplar kini berada pada kisaran 7 jutaan eksemplar.
Apa yang terjadi? Apakah perusahaan besar media memakan perusahaan kecil? “Tidak ada istilah yang besar mengalahkan yang kecil. Yang benar, yang cepat mengalahkan yang lambat,” kata Murdock, sebagaimana ramai dikutip media saat ini. Tentang kecepatan ini, jelas media elektronik lebih unggul. Melihat kenyataan itu,Murdock:merestrukturisasi perusahaannya, menciptakan jaringan antara sayap TV dan internet. Prinsipnya satu, semua yang tayang di TVnya, juga bisa tampil di media onlinenya.
Apakah Murdock bergerak terlalu cepat? Matthew Hindman, professor politik dari Universitas Arizona, menjawab tidak. Ia mengatakan, media internet, blog-blog terbaik-selalu lebih dikunjungi dibandingkan dengan halaman opini Koran. Oleh karenanya, media digital lebih berpengaruh daripada media cetak. Jadi, sangat keliru jika menganggap media internet berwatak netral terhadap media cetak. Internet cenderung mengancam bahkan menundukkan media cetak, menutup kelemahan-kelemahan media tradisional, dan akhirnya mengunggulinya.
Disini, ancaman dari media internet mungkin belum begitu terasa. Investasi dan ekspansi yang dilakukan kelompok media-media digital, belum membuktikan ancaman itu. Dari berbagai media dotcom yang tidak berafiliasi dengan media cetak, hanya beberapa saja yang masih dapat bertahan.
Gagalnya infiltrasi media dotcom ini lebih dikarenakan infrastruktur yang belum memadai dan budaya online yang baru tumbuh. Tapi kini, perkembangan teknologi informasi begitu cepat, dan kemudahan-kemudahan baru selalu muncul. Koneksi nirkabel ini nyaris tak lagi terbatas, bahkan mencapai spectrum yang sangat luas dengan teknologi Wireless Microwave Access (WiMAX). Dengan teknologi ini, akses data-hal yang paling penting untuk media internet-bukan lagi suatu masalah.
Perubahan-perubahan teknologi semacam inilah yang secara cepat menumbuhkan budaya’ngenet’, dan menciptakan masyarakat online. Berikutnya adalah menciptakan pangsa dan merebut pembaca.Tidak seperti media cetak, pembaca media internet memiliki lebih banyak kesempatan untuk membaca berbagai media.
Untuk itulah, media online harus menciptakan “pesona” yang lebih menarik, bukan saja dibandingkan dengan media cetak, juga sesama media internet. Pesona ini menjadi sangat mungkin diciptakan media online karena beberapa kelebihannya yang tidak dipunyai media cetak. Kelebihan utama adalah waktu saji. Media online-lah yang memungkinkan peristiwa tersaji beberapa detik setelah terjadi. Tak heran motto seperti “Tersaji begitu Terjadi”, “Kejadian detik ini Tersaji detik ini juga” atau “Mengapa Menuggu Besok?” menjadi pilihan yang tepat.
Waktu saji yang cepat ini juga yang membuat ralat atas satu berita pun dapat dilakukan dengan cepat, sehingga berita yang keliru tidak mengendap satu atau dua hari, seperti media cetak, tetapi dalam hitungan detik. Pesona lain adalah keleluasaan ruang. Keleluasaan ruang misalnya, membuat media online berani menjanjikan berita lebih panjang, lengkap, dan ter-link dengan berita-berita sebelumnya.
Keleluasaan ruang ini juga yang membuat rubric dan spectrum liputan di media internet menjadi lebih beragam dan luas daripada media cetak, bahkan bisa dilengkapi gambar-gambar berwarna sebanyak mungkin, bahkan bisa juga menayangkan video. Disamping itu, sebuah berita juga dapat langsung dikomentari, yang membuat pembaca berinteraksi langsung dengan media online. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan media cetak, yang membuat Murdock mengatakan, “Saya yakin, bayak editor dan reporter yang sudah kehilangan relasi dengan pembacanya.” (ars)
------------------------------------------
WARTAWAN SUKA RELA
Bermunculannya media digital ini, juga membuat sejarah baru dalam bidang media massa. Misalnya media online OhmyNews di Korea Selatan, dalam menyelenggarakan medianya, sudah menabrak prinsip-prinsip jurnalistik. Saat ini dia menganut konsep “Setiap warga adalah reporter” atau yang sekarang lebih dikenal dengan: Cityzen Journalism.
Hasilnya? Dalam waktu lima tahun , situs ini telah punya 2 juta pembaca tetap, dan memiliki 3.000 reporter. Para reporter-warga sukarela inilah yang setiap saat mengirim berita, yang oleh redaktur ditulis ulang setelah melakukan pengecekan fakta. Sesuatu yang kembali tak mungkin dilakukan media cetak.
Kelebihan lain, media online cenderung menyimpan dokumentasi yang panjang. Bisa menyimpan berita sampai 5 tahun ke belakang. Bayangkan jika hal itu dilakukan dalam bentuk cetak, entah berapa luas ruang yang dibutuhkan untuk menampung dokumen tersebut. Kelebihan yang dapat diakses dan dibaca dimanapun itu, tentu tak perlu dibicarakan lagi.
Dengan segala kelebihannya tersebut, ditambah perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan semua media online dapat diakses dengan ponsel, potensi media internet dalam menyebarkan informasi lebih luas ke masyarakat menjadi sangat besar. Uji coba WiMAX di Nangroe Aceh Darussalam dapat menjadi contoh yang jelas, tentang kemungkinan ini di masa yang akan datang.
Semua pesona itu, telah lama diakui para pengelola media cetak. Di dalam negeri, , media cetak umum justru banyak melanggani berita dari media online. Detik.com misalnya, memiliki sindikasi dengan 38 media cetak. Jadi sekarang ini banyak media cetak justeru “mengutip” media online. (ars)
-----------------------------------------------------
PERKEMBANGAN NETTER NGGEGIRISI
“Dalam waktu dekat, media cetak akan mati,” kata para pakar. Alasannya, perkembangan teknologi informasi, menumbuhsuburkan internet. Mau tidak mau mengakibatkan media tidak lagi tunggal, tapi multi media. Tidak akan ada lagi koran konvensional yang menggunakan kertas. Yang ada adalah koran digital yang nirkertas, yang digabungkan dengan telepon selular, notebook, computer, ipad dan televisi. Para penerbit surat kabar harus mereposisi koran. Bukan lagi kertas yang dicetak dengan konten informasi, tapi digital paper.
Pertanyaannya: Kapan hal itu terjadi? Akankah 10 tahun lagi? Hari ini pun kita sudah mengalami, makin sedikit waktu yang disediakan orang untuk membaca koran. Orang mulai beralih kepada internet. Kecepatan pertumbuhan pengguna internet jauh lebih tinggi ketimbang perkembangan tiras surat kabar.
Benarkah koran akan segera mati. Yang lebih tepat adalah koran akan berganti wujud. Sebenarnya lebih dari itu , Koran akan bergeser, menjadi industri informasi, bahkan industri pengetahuan. Tak kurang dari Sofyan A Djalil menkominfo yang lama, jauh-jauh hari sudah memberi peringatan akan tuntutan perubahan itu.
Saat menjadi nara-sumber dalam pembukaan Konvensi Surat kabar Indonesia baru-baru ini, Sofyan mengemukakan adanya kecenderungan baru. Masyarakat membuat berita sendiri, dipublikasikan lewat jurnal harian di web blog atau situs-situs yang tumbuh bertebaran. Inilah yang disebut “citizen journalism”. Kantor Berita raksasa Associated Press (AP) menjadi salah satu pelopor. Bekerjasama dengan technokrati, lalu para penyedia blog, AP saat ini melayani lebih dari 440 surat kabar di dunia.
Saat sekarang ini, orang bisa memilih berita yang disukai, melewatkan berita lain yang tidak disukai,hanya dengan mengklik sana mengklik sini. Bahkan pilihan beritanya bisa didalami lebih jauh. Iklan pun akan seperti itu. Bila kita ingin memahami produk yang diiklankan lebih jauh, tinggal klik. Dan, informasi yang dibutuhkan tentang produk yang diiklankan akan deras mengalir.
Meski telah diramalkan media cetak bertumbangan, mati, namun menurut survey, khusus untuk Cina, India dan Indonesia, diperkirakan masih lama. Hal itu terjadi karena tingkat pendidikan warganya yang masih rendah dan juga ternyata warganya masih banyak yang buta huruf. Oleh karenanya, bagi yang sudah melek huruf itulah, bacaan cetak diperlukan. Namun perkembangan digital di tiga Negara di atas, akhir-akhir ini memang nggegirisi. Di Indonesia saja, dalam waktu singkat, penduduk yang ngenet, melonjak sekitar 50 juta orang. Sepertinya, media digital sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi. (ars)
|