Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
NEWS1 Komentar  |  686 Pembaca

KURANG PAS, PWI AWARD JATENG
Ditulis Oleh :tim obyektif, arieska, Pada Tanggal : 16 - 04 - 2011 | 18:04:23

Penganugerahan “PWI Award” dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng, dinilai kurang pas. Pasalnya, ada sementara tokoh yang dinilai kurang tepat untuk diberikan penganugerahan, karena ketokohan dan prestasinya masih dipertanyakan. Misalnya Drs Imam Suroso MM yang lebih dikenal dengan sebutan “Mbah Roso” dan Ikhwan Ubaidillah, yang diberikan karena prestasi di bidang olah raga, Hadi Sutiyono Direktur Kacang Dua Kelinci.

Mbah Roso lebih menonjol di bidang paranormal, terlepas dari jabatan atribut lain yang disandangnya. Apakah karena dia terkenal sebagai paranormal lalu ditokohkan dan diberikan award? Sedangkan Ikhwan, juga baru saja menjabat Ketua KONI Semarang. Kan masih banyak tokoh lain yang lebih layak, misalnya dari kalangan LSM yang konsekuen membela rakyat dan memberantas korupsi. Nama tokoh-tokohnya berderet.

“Sedangkan untuk tokoh olah raga, masih banyak juga yang lebih berprestasi, yang membawa nama harum Jawa Tengah. Demikian juga Direktur Kacang Dua Kelinci, menggunakan tolok ukur yang mana?,” begitu beberapa tanggapan beberapa wartawan senior yang keberatan disebutkan jatidirinya kepada Obyektif Cyber Magazine, belum lama ini di Semarang.

Seperti diberitakan di berbagai media massa, dalam rangka puncak peringkatan Hari Pers Nasional (HPN) 2011 dan HUT ke-62 PWI, diberikan PWI Award kepada sejumlah tokoh di antaranya, Prof Drs Darmanto Yatman,SU (Budayawan), Drs H Priyo Budisantoso (Politikus, Wakil Ketua DPR), Hadi Sutiyono (Pengusaha, Direktur Kacang Dua Kelinci Pati), Dirjen Edward Aritonang (Kapolda Jateng), Drs Imam Suroso MM (Tokoh Masyarakat) dan Ikhwan Ubadidillah (Tokoh Olah Raga, Ketua KONI Semarang), Soemarmo HS (Walikota Semarang), dr Widya Kandi Susanti (Bupati Kendal) dan Ahmad Abdul Hamid.

Menurut pihak PWI Jateng, para tokoh itu telah memenuhi kriteria atas penghargaan PWI Award. Pemberian Award, telah menjadi agenda rutin tahunan PWI Jateng untuk mengapresiasi kiprah, serta pengabdian tokoh-tokoh di Jawa Tengah. Meski begitu, kritikan “kurang pas” penganugerahan kepada beberapa tokoh tersebut perlu dilontarkan, karena selama ini, orientasi pemberian penghargaan sebagaian besar kepada pejabat dan pengusaha. Untuk para pendekar pembela rakyat, belum nampak. Jangan sampai PWI terjebak pro para pejabat dan kurang berpihak pada rakyat.

Harus diakui, PWI Jateng yang sekarang, sebagian pengurusnya dari generasi muda, dan organisasi memang maju dan dinamis. “Namun diingatkan pula, PWI sebagai lembaga independen yang setia mengawal demokrasi, berjuang demi kepentingan umum, serta penegak keadilan dan kebenaran, jangan sampai terjebak pada pola lama, berorientasi pada pejabat dan pengusaha yang men-suport dana. PWI yang sekarang, mudah-mudahan tidak seperti itu,” tambahnya.

Ketua Panitia Penganugerahan Award Ir Wiwiek Aribowo, ketika diminta konfirmasi soal “kurang pas” penganugerahan pada beberapa tokoh tersebut, menolak memberikan keterangan. “Jangan saya Mas, minta penjelasan pengurus yang lain saja,” kilahnya menghindar.  Dua mantan Ketua PWI Jateng masing-masing DR H Bambang Sadono SH,MH dan Ir Sriyanto Saputro yang diminta penjelasan soal kriteria pemilihan tokoh yang akan menerima award pun menolak memberikan keterangan. “Wah jangan saya,” kata keduanya menghindar ketika diwawancara secara terpisah.

Ketua PWI Jateng Hendro Basuki yang dihubungi di ponselnya dan ditanyakan soal itu mengatakan: “Sebentar ya, sampeyan tak bel balik,” kilahnya. Namun “bel balik” yang dijanjikan itu tidak dilakukan. Ketika dihubungi lagi, Hp-nya dimatikan. Sementara itu, Sekretaris PWI Jateng Drs Jayanto Arusadi ketika dihubungi mengatakan bersedia memberikan keterangan mewakili ketuanya, karena dia tahu duduk persoalannya.

Dijelaskan, memang diakui kalau ada satu atau dua tokoh yang mungkin “kurang pas” dapat award. “Untuk itu saya mohon maaf,” tuturnya.  Secara terus terang dikatakan, PWI dalam kesempatan ini tidak hanya memberi award saja, tetapi juga memberikan bantuan, berupa dana kepada beberapa orang tokoh tersebut, sebagai rasa simpati PWI. “Jadi terus terang ada subsidi silang, di sini,” terangnya. Dari penjelasan tersebut memang bisa ditafsirkan sendiri.

Menurut Jayanto, yang juga wartawan senior di Semarang dan aktif dalam  berbagai organisasi, meski mungkin menurut beberapa pihak “kurang pas” tetapi tetap bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya Mbah Roso, menurut laporan, sudah lama membantu dana pada PWI di daerahnya, Pati. Jadi tetap “berjasa” pada PWI. Kemudian Ikhwan Ubaidillah, meski menjabat KONI-nya baru saja, tetapi menurut dia, sudah lama berkecimpung dalam Lindu Aji yang mendidik generasi muda pada olah raga bela diri. Jadi menurut dia, layak ditokohkan dalam bidang olah raga. Sedangkan Hadi Sutiyono yang Direktur Dua Kelinci, dinilai bisa mengangkat Jateng karena produksi kacangnya sudah dikenal di mana-mana, tuturnya menutup pembicaraan. (Tim Obyektif)

                                         ---------------------------------------

 KENAPA KENDAL

Penganugerahan PWI Award 2011 pada sembilan tokoh Jawa Tengah, dilakukan oleh Sekda Jateng Hadi Prabowo dalam Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2011 dan HUT ke-65 PWI Jawa Tengah, yang diselenggarakan di GOR Bahurekso Kendal, baru-baru ini. 

Sembilan tokoh itu memperoleh pengharghaan atas dedikasinya pada masing-masing bidang yang digeluti. Darmanto Jatman misalnya, merupakan guru, budayawan, wartawan, dan seniman di Jawa Tengah. 

"Di tengah sakitnya, beliau berkenan hadir pada acara ini. Ini menunjukkan semangatnya. Sebagai buyawan, beliau juga merupakan guru bagi insan pers," kata Ketua PWI Jateng Hendro Basuki dalam acara tersebut.

Menurut Hendro, dalam penyelenggaraan Peringatan HPN 2011, pihaknya memilih Kendal sebagai tempat penyelenggaraan atas pertimbangan bahwa Kendal dipimpin tokoh wanita, Widya Kandi Susanti. Dalam tujuh bulan masa jabatannya, Widya Kandi dinilai berhasil membawa kemajuan bagi kabupaten itu.

"Dalam tujuh bulan saja, greget kemajuan sudah terlihat. Banyak investor besar yang mulai melirik kabupaten ini. Maka, beliau juga kami pilih sebagai salah satu tokoh yang memperoleh PWI Award," tuturnya. 

Sementara itu, Ketua PWI Pusat Mardiono dalam sambutannya mengatakan, ada dua kriteria dipilihnya kota sebagai tempat penyelenggara peringatan hari pers. Pertama, peringatan hari pers harus bisa membawa manfaat bagi daerah yang terpilih. Kedua,  juga bisa membawa manfaat bagi pertumbuhan pers, baik nasional maupun daerah.

"Saya kira, Kendal memiliki prasyarat yang dibutuhkan. Potensi daerah ini cukup bagus, terutama potensi batik dan pemimpin yang memiliki visi," katanya.

Sedangkan Sekda Jateng Hadi Prabowo mengatakan, momen hari pers diharapkan bisa membawa perubahan yang baik bagi insan pers di Indonesia, khususnya Jawa Tengah.

Menurut dia, ada empat krisis yang sedang terjadi di dalam bangsa ini. Krisis harga diri, krisis kepercayaan, krisis karakter, dan krisis kebangsaan. Oleh sebab itu, ia mengharapkan, dengan peringatan hari pers, insan pers bisa menyikapi dengan baik dan bisa memberi perubahan ke arah kebaikan.

Puncak acara, dimeriahkan tampilnya Gup musik Kyai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Nadjib. Dalam kesempatan itu, disuguhkan beberapa musik religi, yang bisa memukau ratusan penonton yang hadir pada acara tersebut, sehingga setia tidak meninggalkan tempat, sampai acara usai. (arieska)
 

 


KOMENTAR

1 Komentar

Subagyo - Cilacap
Tanggal 16 - 04 - 2011
PWI memang seharusnya pro-rakyat. Berilah penghargaan kepada para pejuang rakyat, seperti misalnya tokoh-tokoh LSM yang kritis, Aktivis pelestari tanaman bakau, dan lain-lain. Banyak contohnya. Eee, kok malah walikota, bupati, pejabat...Pripun niki?

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter