ORDE BARU LEBIH BAIK Ditulis Oleh :arieska, Pada Tanggal : 17 - 05 - 2011 | 11:18:04
 BERITA TERKAIT Jangan kaget, dibandingkan Orde Lama dan Orde Reformasi, Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, dinilai lebih baik. Hal itu terungkap dalam survei nasional “Indo Barometer” tentang "Evaluasi 13 Tahun Reformasi dan 18 Bulan Pemerintahan SBY-Boediono".
Dalam survey itu disebutkan, 40,9 persen responden mempersepsikan bahwa Orde Baru lebih baik dibandingkan dengan Orde Lama dan Orde Reformasi. Hanya setengahnya, atau 22,8 persen responden yang mengatakan bahwa Orde Reformasi lebih baik dibandingkan dengan periode lainnya.
Direktur Eksekutif “Indo Barometer”, M Qodari, membeberkan hal itu kepada wartawan di Jakarta, baru-baru ini. Ia mengatakan, hasil survey ini merupakan pukulan bagi semua pihak yang menganggap reformasi sebagai momentum perubahan.
"Ini ironi yang menunjukkan bagaimana rezim (Orba) yang ingin dikoreksi justru dipandang lebih baik," katanya di depan para wartawan.
Hasil survei memperlihatkan, publik mempersepsikan Orba lebih baik di bidang politik, ekonomi, sosial, dan keamanan. Orde Reformasi hanya unggul di bidang penegakan hukum. Di bidang politik, 33,3 persen responden mempersepsikan Orba lebih baik. Sementara itu, hanya 29,6 persen responden yang mempersepsikan Orde Reformasi lebih baik. Di bidang ekonomi, 56,3 persen responden mempersepsikan Orba lebih baik. Sementara itu, hanya 20,3 persen responden yang mempersepsikan bahwa Orde Reformasi lebih baik.
Di bidang keamanan, sebanyak 53,7 persen responden mengatakan, Orba lebih baik. Hanya 20,6 persen responden yang menganggap Orde Reformasi lebih baik. Sementara itu, di bidang hukum, 27,6 persen menganggap Orba lebih baik. Sementara 34,3 persen responden menganggap Orde Reformasi lebih baik.
Hasil survei yang melibatkan 1.200 responden secara nasional dan dilakukan tanggal 25 April-4 Mei 2011 lalu menunjukkan, masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih banyak yang mempersepsikan bahwa Orba lebih baik dibandingkan dengan periode kepemimpinan lainnya, yaitu sebanyak 47,7 persen. Angka ini lebih tinggi 12 persen jika dibandingkan dengan persentase masyarakat pedesaan yang mempersepsikan Orba lebih baik, yaitu 35,7 persen.
Dari tingkat pendidikan, seluruh jenjang pendidikan menyatakan bahwa Orba lebih baik. Namun, secara persentase, semakin tinggi tingkat pendidikan responden, tingkat kepuasan terhadap Orba semakin rendah.
Menanggapi survei ini, salah seorang aktivis reformasi di Jakarta, Ray Rangkuti seperti dilansir Kompas.com mengatakan, ada banyak cita-cita reformasi yang belum tercapai. "Ini kritik bagi Orde Reformasi yang belum mampu memenuhi cita-cita di bidang penegakan hukum dan HAM, pemberantasan KKN, dan lainnya. Jika tidak ada perubahan, masa lalu yang kelam tetap menjadi impian setiap orang," katanya.
Penanggap lainnya, ekonom Faizal Basri, menyoroti tingginya angka masyarakat pedesaan yang mempersepsikan Orba lebih baik dibandingkan dengan Orde Reformasi. Ada banyak penyebab mengapa hal itu terjadi. "Penurunan angka kemiskinan lebih lambat di desa dibandingkan dengan di kota. Sejak era reformasi, sektor pertanian semakin amburadul, karena harga pangan tak lagi ditopang. Bulog semakin tak berperan, sementara mekanisme pasar semakin berjalan. Produk impor semakin membanjiri Tanah Air sehingga produk lokal tak dapat bersaing," katanya.
Tak hanya itu, sejak era reformasi, menurut dia, tak ada penambahan bendungan. Banyak saluran irigasi yang rusak, tetapi tak diperbaiki. Era reformasi, kata Faisal, lebih banyak fokus pada pembangunan jalan tol dan bandara.
"Presiden juga jarang turun ke desa-desa. Presiden hanya rapat dari istana ke istana. Atau paling tidak (rapat) di bandara. Sekali turun ke desa, persepsinya malah salah. Ada sebuah foto di Setneg di mana Presiden menggulung celana panjangnya hingga ke lutut ketika hendak panen bersama. Beliau tidak tahu kalau padi itu tanaman yang membutuhkan air. Presiden juga menanam padi segepok-segepok. Seharunya menanam padi itu harus satu per satu. Padahal, beliau doktor dari IPB," kata Faisal.
Menurut Sumarsono, seorang mahasiswa Undip di Semarang, Orba unggul juga karena semua kebijaksanaannya terprogram dengan baik. Ada rencana pembangunan lima tahun (repelita), dua lima tahun dan sebagainya. Juga di bidang kemasyarakatan, ada program KB mandiri, posyandu, pemberantasan buta huruf, dan lain-lain. Semua terarah, terprogram dan terukur. Evaluasi dilakukan terus menerus.
“Kalau ada aparat pelaksananya yang menyimpang langsung di-seblak (dipukul), sehingga tidak ada yang main-main. Kelihatannya memang melanggar HAM, tetapi akhirnya semua bisa berjalan dengan benar dan rakyatlah yang diuntungkan. Kalau sekarang, pelaksanaan dalam berbagai bidang, Anda bisa lihat sendiri,” katanya sedikit mengritik.
Nah, bagi kaum reformis, inilah kritikan untuk Anda, setelah berjalan 13 tahun reformasi berjalan. Rakyat kecil akan selalu bertanya: Apa artinya demokrasi dan reformasi, bila tidak bermanfaat bagi rakyat? Apalagi kalau membuat hidup jadi susah? Patut direnungkan juga. (arieska) |