PERJALANAN MENGADU NASIB DI HONGKONG Ditulis Oleh :Aries Kunarto MK, Pada Tanggal : 15 - 02 - 2012 | 10:33:15
 BERITA TERKAIT Kenalkan, nama saya Fariyanti (22), penduduk Polaman Rt.03/Rw.01, Kelurahan Polaman, Mijen, Semarang, Jawa Tengah. Awalnya, saya ingin sekali bekerja ke luar negeri untuk mengadu nasib. Saya ingin merubah hidup saya supaya lebih baik. Saya ingin membantu suami saya dalam menambah penghasilan, dengan harapan dapat lebih membahagiakan keluarga.
Mungkin saja saya sering rerasan mengenai hal itu dengan teman, sehingga keinginan saya untuk bekerja ke luar negeri itupun menyebar. Maklum saya hidup di kampung yang merupakan daerah “gudang” nya Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Pada suatu saat, saya pun didatangai Petugas Lapangan (PL) yaitu para sponsor dari Perusahaan Jasa Pengerah Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang sekarang lebih dikenal dengan nama Perusahaan Pengiriman Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PTKIS). Para PL ini memang tinggal di kampung-kampung yang merupakan kantong Tenaga Kerja Wanita (TKW). Dengan demikian kehadiarannya cukup dikenal dan seperti karyawan dari PTKIS yang bersangkutan.
PL yang mendatangi kami bernama Muhzi. Dia menemui suami saya dan berkata kepada suamiku, bisa menghubungkan saya dengan pihak PTKIS. “Nanti saya bawa ke PT supaya bisa berangkat ke luar negeri,” katanya. Terus terang, awalnya saya ragu kepada Muhzi. Tetapi PL ini membujuk suami saya, sampai akhirnya saya mau mengikuti kemauannya. Dengan sangat meyakinkan, Muhzi menjamin tidak akan menelantarkan saya. Karena janji-janji manisnya, kami akhirnya mau ikut sama dia.
Pada tanggal 2 November 2011, saya diajak Muhzi ke PT “Dewi Pengayom Bangsa” untuk diproses berangkat ke luar negeri. Saat itu, saya diberi uang saku sebesar Rp. 2 juta. Akhirnya saya pun ditampung di PT tersebut, sambil menunggu proses pemberangkatan. Selama saya tinggal di PT tersebut, diperlakukan dengan baik. Saya diajarkan Bahasa Inggris oleh PT tersebut. Juga diberikan makan 3X sehari. Meski kadang menu makanan tidak cocok dan kadang diprotes oleh calon TKW yang lain.
Namun pada suatu saat, saya jatuh sakit. Saya telepon ke rumah, meminta PL agar menjemput saya. Namun PL mengatakan tidak bisa menjemput, karena dia sendiri juga sedang sakit dan menurut pengakuannya sudah dua bulan tidak dapat jalan. Memang selama saya ditampung di PT , PL saya si Muhzi ini tidak pernah menengok TKW-nya. Setiap saya minta tolong pada PL yang lain, untuk disampaikan ke dia, agar mau menyambangi saya, dia selalu beralasan macem-macem yang intinya tidak bisa datang. Sehingga saya menduga, dia itu bohong belaka. Tingkahnya itu tidak sesuai dengan janjinya dulu pada suami saya, yang katanya mau melindungi dan membantu saya, kalau ada kesulitan.
Saya tinggal di PT Dewi Pengayom Bangsa selama dua bulan. Setelah itu, pada tanggal 20 Januari 2011, saya diterbangkan oleh PT tersebut melalui Bandara Surabaya. Pada waktu itu, ketika mau berangkat ke Hongkong, saya mengatakan pada PT, bahwa saya belum siap berangkat, karena kemampuan bahasa Inggris saya masih kurang. Namun dari pihak PT selalu bilang, soal bahasa gampang, nanti di sana bisa belajar sedikit-sedikit. Menurut PT, yang penting ketamprilan kerjanya.
Setelah diterbangkan dari Surabaya, saya sampai di Hongkong dan ditampung di Agen selama lima hari. Di Agen saya diperlakukan baik dan diberi makan 2X sehari. Pada tanggal 26 Januari, saya dijemput oleh majikan saya. Sesampai di rumah majikan, saya disuruh makan, tetapi saya tidak mau makan, karena pada waktu itu perut saya sakit dan maag saya kambuh. Akhirnya secara resmi, mulai hari itu, tinggalah saya di rumah majikan saya. Pasangan suami isteri majikan saya sangat baik pada saya. Namun ada Nenek-nya yang ikut di rumah itu, dan entah bagaimana, perlakuannya pada saya selalu kasar.
Keseharian dengan Nenek, saya jarang dikasih makan. Diberi makan, menunggu majikan saya pulang dari kerja. Saya bekerja di majikan saya, Chan whai Chi. Ketika sudah bekerja dan memsuki hari kesepuluh, saya melakukan kesalahan. Ceriteranya begini. Pagi itu saya mencuci “lap mangkok” kecampur dengan “lap kaki”. Mengetahui hal itu, Nenek sangat marah dengan saya. Dia mengambil mangkok yang buat makan saya. Kemudian lap yang saya cuci itu, diusap-usapkan ke lantai. Lalu lap diperas di mangkok saya, dan saya dipaksa meminum air perasan tersebut. Saya menolak, akhirnya air dalam mangkok itu disiramkan ke muka saya. Mangkoknya dilempar ke depan saya. Dengan kejadian itu, saya sangat takut sekali.
Keesokan harinya, saya tidak diberi makan sama sekali. Dan saat saya menjemur pakaian, si Nenek masih mengomel-ngomel terus. Ketika saya sedang menjemur pakaian lewat jendela, dia sengaja menutup jendela dengan keras. Tangan saya terjepit jendela tersebut, jari tangan saya pun terluka dan darah mengucur. Sore harinya ketika majikan saya datang dari kerja, saya bilang kalau si Nenek marah-marah terus. Saya bilang lapar, karena seharian belum diberi makan. Saya terus terang, kalau bekerja ada Nenek, saya jadi tertekan. Saya jadi tidak betah, tidak kerasan, dan minta dipulangkan saja ke Indonesia.
Kemudian majikan saya menelpon Agen saya. Saya pun dipulangkan ke Agen. Akhirnya saya ditampung di Agen selama empat hari. Agen pun telepon ke PT yang memberangkatkan saya. Dari pihak PT telepon ke saya, saya diminta meminta maaf pada majikan saya, sehingga saya dapat bekerja kembali. Tetapi saya tetap tidak mau dan mengatakan agar dipulangkan saja ke Indonesia. Karena saya takut dan trauma dengan perlakuan Nenek majikan saya, pada diriku.
PT menyuruh Agen agar mencarikan saya majikan baru. Namun keputusan saya sudah tetap, saya tidak mau bekerja lagi dan ingin pulang. Karena saya benar-benar takut, sangat trauma, dan merasa tertekan mental saya dengan adanya kejadian seperti itu. Saya berpikir, kenapa ada orang yang sekejam itu terhadap sesamanya. Merasa punya uang dan bisa memperbudak orang lain dengan seenaknya. Cukup sekian surat yang saya buat, dan akhirul kata, kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda semua.
(Ditulis kembali sesuai aslinya oleh: Aries Kunarto MK).
-----------------------------------------------------------------------------
|