SKENARIO BESAR DIBALIK NII Ditulis Oleh :HS, Pada Tanggal : 02 - 05 - 2011 | 00:03:57
 BERITA TERKAIT Negara Islam Indonesia (NII) seperti antara ada dan tiada. Isu lama itu jelas meresahkan. Pemerintah tidak cukup melihat rakyat resah, tapi harus bertindak dan memberi penjelasan. NII, sebenarnya isu lama yang ada di negeri ini, namun selalu tertutup misteri. Tidak pernah ada orang yang diproses hukum terkait NII.
Mantan pejabat intelijen di Badan Koordinasi Intelijen (Bakin), Suripto, menduga ada grand desain (desain besar) di balik NII. "Saya kira ada skenario besar yang nuansanya politis, ini perlu pendalaman," ujarnya, seperti dilansir Harian Semarang, baru-baru ini.
Dia belum tahu apa tujuan skenario besar itu. Dia berharap pemerintah serius mendalami hal itu, untuk tahu siapa dalangnya, apakah murni orang dalam negeri atau titipan asing. "Kalau tahu ada yang mau makar tapi didiamkan, jelas jadi pertanyaan besar," imbuhnya.
Isu NII, menurutnya, bisa jadi liar jika tidak ada penjelasan dari pemerintah. Masyarakat kurang mendapat informasi keberadaan NII, di sisi lain ada fakta orang-orang yang mengaku menjadi korban cuci otak NII.
Mungkinkah intelijen di balik NII seperti kabar yang beredar? "Dulu memang ada Operasi Khusus (Opsus)-nya Ali Moertopo. Apa sekarang ada Moertopo jilid II? Ini harus didalami pemerintah. Pemerintah yang harus menjawab," tegasnya.
Ditanya kemungkinan pemerintah sengaja memunculkan dan memelihara NII KW 9 sebagai propaganda agar NII yang asli -- yang mencitakan daulah Islamiyah -- tidak mampu berdiri, Suripto berpendapat, jika itu benar, jelas itu kebijakan yang sangat picik.
Suripto yakin, orang-orang yang akan membangkitkan NII adalah orang yang putus asa. Dia percaya, separuh umat Islam di negeri ini akan menolak jika diajak mendirikan negara Islam.
Dia tidak tahu pasti apakah benar-benar ada gerakan NII tanpa rekayasa di negeri ini. Yang dia tahu, orang-orang sempalan DI/TII ada yang masih eksis. Mereka ada yang membuat sekolah atau berbisnis. Dia tak yakin mereka tengah membangun kekuatan untuk mendirikan negara sendiri di atas tanah Indonesia. (HS)
----------------------------------
DEKAT MILITER DAN INTEL
NII selalu dikaitkan dengan tokoh Panji Gumilang, pimpinan pesantren Al Zaytun, meski dalam setiap kesempatan wawancara dengan wartawan, dia selalu menolak tuduhan itu. Oleh karena itu, mantan Wakil Ketua MPR, AM Fatwa, menilai Panji Gumilang yang juga pimpinan Pesantren AL Zaytun, dekat dengan militer. Panji yang kerap dituduh identik sebagai pemimpin NII itu, menurut Fatwa, dekat dengan TNI sejak era Soeharto.
"Memang unik ya, pemimpin NII, Panji Gumilang, yang juga pemimpin Tentara Islam Indonesia (TII), dia mendapat bantuan dari militer era Soeharto, dan luar biasa asetnya itu," ujar Fatwa, kepada wartawan, di Gedung DPR, Jakarta baru-baru ini.
Fatwa menuturkan, Panji Gumilang sengaja dirangkul militer untuk bersama-sama mengamankan negara. Kala itu Panji juga dikenal Fatwa dekat dengan intelijen. "Memang ada hubungan emosional antara Panji dengan TNI dan intelijen. Panji ini orang lama," tuturnya.
Kinerja intelijen zaman dulu, menurut Fatwa, memang memungkinkan masuk dalam organisasi yang dianggap berbahaya. Namun dia tak berspekulasi mengenai cara kerja intel saat ini.
"Kalau kinerja intel zaman dulu bisa. Waktu zaman-nya TII, ada intel namanya Najamudin. Dia disisipkan di TII untuk memprovokasi, tapi akhirnya ketahuan dan dibunuh," tuturnya.
Sementara itu, pengurus Pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jabar, menyangkal lembaganya terkait NII. "Al Zaytun ini pusat pendidikan, pengembangan budaya toleransi, bukan yang lainnya. Dan Al Zaytun berdiri legal formal di bawah Yayasan Pesantren Indonesia," kata Sekretaris Pesantren Al Zaytun, Abdul Halim kepada para wartawan. (HS)
----------------------------------
PRABOWO MENEPIS
Dilain pihak, mantan Pangkostrad, Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto, ketika dihubungi wartawan, menepis tudingan sejumlah pihak bahwa NII KW 9 merupakaan bentukan atau binaan intelijen. "Enggaklah, kita kan tahu sejarahnya," kata Prabowo, usai syukuran ulang tahun HKTI, di Jakarta belum lama ini.
Seperti diberitakan, sejumlah kalangan menuding NII KW 9 merupakan counter dari “NII yang Asli”, yang bercita-cita mendirikan daulah Islamiyah yang diperkenalkan lelaki yang bergelar Sekartaji Maridjan Kartosoewirjo. Namun belakangan, NII yang tersisa disebut “NII Gadungan”, lebih bermotif uang.
Prabowo yang kini menjabat Dewan Pembina Partai Gerindra, menjelaskan, paham ekstrem memang sulit dihapus total. Selalu ada orang-orang yang bermimpi menghidupkan kembali ajaran itu. "Saya prihatin, ada pihak yang mencuci otak anak muda kita dengan pemahaman yang keliru," katanya.
Prabowo mengatakan, pihak-pihak itu ingin anak muda meninggalkan budaya Indonesia yang saling menghormati. "Akar budaya kita adalah hidup rukun dan menghindari kekerasan. Ini yang mau diubah menjadi ekslusivisme dan fanatisme yang sempit," katanya.
Menurutnya, hal paling penting untuk membendung paham-paham negatif adalah melalui pendidikan. Menurutnya, guru agama harus diberi pemahaman, bahwa budaya Indonesia heterogen dan majemuk. "Jalan keluarnya ada di pendidikan," katanya. (HS)
-------------------------------
SEOLAH DIBACKING
Pada bagian lain, Ketua Majelis Umat Islam (MUI), Amidhan, menyatakan, NII merupakan isu lama. “Sudah dari dulu, seolah ada backing, sehingga susah diungkap. Pemerintah harus bertindak," ujarnya.
Karena seolah ada backing, air mata warga yang ketakutan karena ingin keluar dari NII seperti tak diperhatikan. Bahkan saat kasus cuci otak merebak, seolah juga tak terungkap. "Ini kan sudah diketahui aparat negara, diketahui BIN, mereka sudah bisa bertindak, tapi kenyataannya diam saja, " imbuhnya.
Menurut Amidhan, tanpa ada laporan, seharusnya intelijen bisa tahu ada kasus ini, apalagi ada laporan. Dia meminta pemerintah menangani masalah ini secara serius, agar tak terkesan ada pembiaran. Dia juga berharap pemerintah menindak backing NII.
"Harus ditindak tuntas. Yang dirugikan umat Islam, karena mereka menggunakan nama agama, dan merugikan bangsa ini," ucapnya.
Dia juga meminta masyarakat waspada, terutama orangtua, tidak putus hubungan dengan anak yang menginjak remaja. Jika ada perubahan sikap anaknya, orangtua harus mencari tahu. Hal ini sebagai antisipasi dini si anak menjadi korban perekrutan NII. (HS)
---------------------------------
BIN: JANGAN MENDUGA-DUGA
Menko Polhukam, Djoko Suyanto belum yakin, NII KW9 bakal mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun dia tetap minta masyarakat waspada dan percaya pada pihak keamanan. “Untuk mengancam kehidupan negara dan bangsa, saya belum melihat potensi sebesar itu,” katanya seperti dilansir Harian Semarang, belum lama ini.
Djoko menegaskan, pemerintah tidak diam saja, pengawasan tetap dilakukan terhadap setiap upaya-upaya untuk keluar dari NKRI. “Itu musuh kita bersama, tindakannya harus kita cegah oleh kita semua,” tegasnya.
Menurut dia, yang pasti, di kepolisian maupun kementerian, tidak ada organisasi NII KW9. Tetapi bukan berarti pemerintah tidak waspada, dan keliru bila orang mengatakan pemerintah diam saja dan tidak khawatir. “Bahwa kita harus waspada, iya. Tetapi apakah gerakan ini membahayakan negara, saya kira kita bisa melihat, keadaan negara kita seperti apa. Kalau ada gerakan seperti itu, kita semua akan melawan,” tambahnya.
Sementara itu Kepala BIN, Sutanto meminta, masyarakat tidak menduga-duga gerakan NII KW9 dilindungi intelejen. “Harus ada bukti hukum yang kuat,” tegasnya. Ia mengingatkan, jangan berpikir masa lalu, sekarang semuanya transparan. Masyarakat bisa melihat apa yang kita lakukan.Oleh karenanya jangan menduga-duga,” tambahnya. Sutanto mengatakan hal itu sebelum Musrenbangnas 2011 di Jakarta. Menurut dia, pihaknya sudah mendapatkan informasi cukup tentang NII KW9 itu. Pihaknya masih mengumpulkan bukti hukum untuk bertindak.
Polri sendiri belum akan menindak NII KW9. Apalagi melakukan langkah hukum. Polri akan bergerak setelah ada bukti pidana. “Semua berangkat dari proses penyelidikan. Kami akan bertindak tegas yang berhubungan dengan pelanggaran hukum,” kata Kapolri Timur Pradopo, dalam pernyataannya belum lama ini.(HS)
-----------------------------------
PENELITIAN MUI
Sebelumnya, pihak MUI telah melakukan penelitian di Al Zaytun pada 2002, dan menengarai ada kaitan dengan NII KW 9. MUI juga telah memberi rekomendasi yang diserahkan kepada Kemenag.
"Kami sudah memberikan laporan dan rekomendasi. Kami harap pemerintah menindaklanjuti. Kemenag katanya juga memiliki penelitian tentang Al Zaytun, hasilnya apa, tanyakan pada Balitbang Kemenag," sambungnya.
Yang diteliti MUI adalah soal pemahaman, dan hasilnya ditemukan ada paham yang menyimpang dari Islam yang dianut MUI. Misalnya soal zakat dan soal nabi. Sedangkan hal-hal yang terkait kriminal tidak diteliti. MUI mengindikasi ditemukan kaitan kepemimpinan antara Al Zaytun dengan NII KW 9, yaitu Panji Gumilang.
Meski sudah jelas keberadaan NII yang isu dan keberadaannya terus diteropong oleh berbagai pihak, tetapi pemerintah santai-santai saja menanggapi semua itu. Padahal merebaknya isu NII ini, apalagi bila dikaitkan dengan perekrutan anggota NII, lewat generasi muda dengan metode “cuci otak”, sudah memprihatinkan. Membuat para orang tua di Indonesia jadi resah dan gelisah, terutama yang putra-putrinya menghilang.
Mereka mengharapkan, pemerintah bertindak tegas dan cepat guna melindungi warga negaranya. Isu harus dilawan isu. Ideologi dilawan ideologi. Gerakan dilawan gerakan. Dengan cara seperti itu, tidak ada kelompok atau group apapun di masyarakat yang coba-coba mengacaukan keadaan. Inilah PR pemerintah selama ini. Sebuah harapan yang tidak terlalu berlebih-lebihan bukan? (HS)
----------------------------------- |