Beranda Lifestyle Nganten Londo

Nganten Londo

299
0
BERBAGI

Pesta perkawinan dengan menampilkan corak adat Jawa sudah biasa. Bahkan hampir semua resepsi nikah memang begitu. Namun kalau walimatul ursy memakai adat nusantara, pastilah luar biasa. Lebih-lebih, salah satu pengantinnya adalah wong londo. Dan justru adat Belanda sama sekali tak ada, alias ”bebas Barat”.

Perhelatan unik disebut Pernikahan Kultural ini digelar oleh sekolah Nasima, di kampus SMP-SMA Nasima di Jl Trilomba Juang Nomor 1 Mugas Semarang, Jawa Tengah, baru-baru ini. Tak lain pendiri Nasima, H Yusuf Nafi, menikahkan dua anaknya secara bersamaan.

Putra pertama bernama Imam Nasima menikahi gadis Belanda bernama Hilde Hoekstra. Dan putri kedua bernama Dewi Nasima yang asli Jawa dipersunting Adhi Nugroho asal Kutai Timur Kalimantan Timur. Adhi sendiri berdarah Jawa dari ayah dan dan Bugis dari ibunya yang asal Tana Toraja.

Para among tamu heboh dengan aneka corak busana adat Indonesia. Wakil ketua Yayasan Pendidikan Islam Nasima yang juga Pemred Harsem Ragil Wiratno memakai pakaian suku Bugis. Yaitu celana dan baju hitam berselempang sarung dan memakai kopyah putih menjulang berujung lancip di depan. Khas para pelaut Sulawesi Selatan yang terkenal.

Tuan rumah sendiri, H Yusuf Nafi dan istrinya memakai baju adat Betawi, tapi dipadu peci batik berkilau benang emas. Sementara, dua pasang pengantin memakai setelan serba ungu dengan si pria model Betawi, dan wanita pakai kebaya Jawa. Sempat berganti corak adat Semarangan, Kalimantan, dan Banyuwangi Jawa Timur.

Sementara itu kedua pembawa acara mengenakan adat berbeda, yakni Bali dan Betawi. Suasana ini dipercantik dengan tampilnya tari Golek Manis sebagai penyambut acara dan tari kreasi Nusantara Menari. Nusantara Menari disajikan secara medley dengan menampilkan ragam gerak dan estetika busana Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Papua. Semua tari tersebut dipersembahkan oleh anak didik Nasima secara kolaboratif.

Lagu ”wajib”  Nasima yakni Gebyar-Gebyar ciptaan Gombloh mengalun dari suara siswi Nasima yang ikut memeriahkan pernikahan ini. Grup band ”tradisional akustik” yang tampil juga disengaja menyuguhkan lagu-lagu daerah yang ada di seluruh nusantara.

Tak ketinggalan para juru parkir dan tukang tambal ban di sepanjang Jalan Tri Lomba Juang dilibatkan menjadi panitia dengan seragam khas Nasima, yaitu kaos warna merah putih.

Stand-stand hidangan, tentu saja berisi aneka masakan nusantara. Setidaknya 25 menu terhidang. Ada pempek Palembang, sop kongkro Makasar, rujak cingur Surabaya, nasi Jimbaran Bali sampai nasi liwet khas Solo.

Menunya tak hanya disajikan untuk diambil sendiri, melainkan juga ditunggui peladen (pelayan)  yang memakai gaun adat menu tersebut. Seperti bebek Bebek Bali yang dijaga seorang perempuan berbaju adat Bali. Sate Madura dijaka lelaki berkostum ”Cak Sakera”. Beskap dan blangkon, tentu saja juga mewarnai.

Ribuan tamu undangan datang mengalir menghadiri tasyakuran ini. Tempat perhelatan sengaja di Sekolah Nasima, bukan di gedung pertemuan atau hotel mewah. Keluarga Nasima yang konsen pada dunia pendidikan bertujuan mengaitkan acara pernikahan itu dengan nilai-nilai pendidikan. Kesan eksklusif dan kemewahan dijauhkan karena acara itu dihadiri oleh tamu dari berbagai kalangan, utamanya dari dunia pendidikan. Yakni para guru, wali murid dan para kolega.

“Kami membuat acara yang unik dan khas Nasima. Karena sekolah Nasima adalah sekolah Merah Putih dan semua nama kelasnya menggunakan nama adat nusantara, perkawinan putra putri pendirinya pun memakai pola budaya Indonesia ini,” tutur Drs H Ragil Wiratno MH, panitia pengarah acara.

Lebih lanjut Ragil mengatakan, pendiri Nasima Yusuf Nafi konsisten mengusung nilai-nilai nasionalisme dan keagamaan. Rasa kebangsaan ini selalu terimplementasikan dalam setiap langkah dan geraknya. Dan itu telah dijiwai seluruh kelaurga besar Nasima.

”Pak Yusuf Nafi meneguhkan acara ini sebagai perwujudan semangat kebangsaan Nasima yang mencintai keanekaragaman budaya bangsa. ini sekaligus perkawinan yang mengajarkan Bhinneka Tunggal Ika.

Sebelumnya, kata Ragil, akad nikah dilangsungkan di kediaman Yusuf Nafi di kompleks perumahan Grand Marina Semarang. Akad nikah dipimpin KH Sahal Mahfudh dengan doa yang dilantunkan lima kiai besar, yaitu KH Zikron Abdullah, KH Zuhri Ikhsan, KH Abdul Muin, dan KH Nurkholis Ali. Sementara sebagai saksi dari unsur umaroh Sekda Kota Semarang Akhmad Zaenuri dan unsur ulama diwakili Ketua PWNU Jateng H Muhammad Adnan. Kutbah nikah disampaikan oleh Prof Dr H Amin Syukur MA, ketua pembina YPI Nasima.

Akad nikah disaksikan sekitar 20 janda, ratusan anak yatim piatu, dan sejumlah penyapu jalan. Mereka menyatu dengan para tamu undangan lainnya mulai pejabat pemerintah, swasta, ulama maupun masyarakat biasa, yang mengayubagyo tasyakuran tersebut. Tampak pula beberapa sesepuh seperti KH Ahmad, mantan wakil gubernur Jateng dan H Soetrisno Soeharto, mantan walikota Semarang. (Harsem/Wisnu Dewabrata).

———————————–

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here