Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
JATENG GUIDE0 Komentar  |  756 Pembaca

BU LURAH ROGOWANAN: DANA NEKAT
Ditulis Oleh :Totok Magdiana, Pada Tanggal : 30 - 07 - 2011 | 16:52:08

Bu Zahroh, demikianlah panggilan sehari-harinya. Masyarakat sekitar lereng gunung Merbabu sangat mengenalnya. Dialah Lurah (Kepala Desa) wanita satu-satunya di wilayah itu. Nama lengkapnya Khuriyatusz Zahroh (32), menjabat sebagai Lurah Desa Rogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Meski menjadi orang pertama di desanya, tetapi dia akrab dengan penduduk dan tidak membeda-bedakan siapa saja dalam pergaulan.

Wanita sederhana tetapi ramah ini berusaha menghidupkan pembangunan di desanya yang memang jauh dari kota besar. Kepada wartawan Obyektif Cyber Magazine Biro Magelang, Totok Magdiana, dia mengatakan, meski dana minim, namun dia mencoba membangun infra struktur di daerahnya. Misalnya jembatan, pasar rakyat, pasar sayuran dan lain-lain. Sasarannya, semua yang bisa bermanfaat bagi masyarakat. Secara kebetulan daerahnya termasuk kawasan wisata. Banyak peninggalan sejarah di daerah ini, misalnya Candi Tlatar.

Ketika ditanya dananya dari mana? Dengan tegas dia mengatakan: Dana nekat! Meski begitu, dia memang mencoba membuat proposal untuk minta bantuan dana terutama lewat Pemkab Magelang. Prinsipnya, dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Jadi kalau dana bantuan juga belum datang, tekad untuk membangun mesti terus digencarkan. Masyarakat harus didorong untuk maju.

“Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Maju dan terus maju, sambil berdoa, insyaallah, semua bisa lancar,” tambahnya. Memang di desanya banyak kegiatan yang produktif dan berbagai kerajinan tangan banyak dihasilkan. Khusus hasil sayuran, ada bermacam-macam jenisnya. Disamping dikonsumsi sendiri, sebagian besar hasilnya dijual ke kota-kota besar di Jawa Tengah.

Seni budaya di desa yang dipimpinnya juga berkembang bagus. Ada Tari Soreng, reog, wayang kulit dan juga kesenian rakyat ketoprak. Berbagai paguyuban kesenian juga tumbuh subur. Setiap hari, Bu Lurah selalu memantau daerahnya, sehingga tahu kekurangannya dan mencoba memperbaikinya. Tidak mudah memang. Seperti hari itu, sebagaimana hari-hari sebalumnya. Angin di Desa Rogowanan bertiup semilir. Seorang wanita paro baya berdiri tegak memandangi wilayahnya. Ingin memajukan daerahnya, dan waktulah nanti yang akan membuktikannya. (Totok Magdiana)

                                         ----------------------------------------------

MEMINDAHKAN CANDI TLATAR

 Candi Tlatar di Dusun Sengi, Desa Rogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, akan diselamatkan dari ancaman banjir lahar dingin dari Gunung Merapi, yang dimungkinkan masih akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Satu-satunya penyelamatan adalah pemindahan, dan itu sudah dilakukan studi, bukan hanya dari kalangan arkeolog namun juga melibatkan berbagai ahli dari berbagai disiplin.

Drs Tri Hatmadji, Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, di Kalasan, seperti dilansir Kompas.com baru-baru ini  mengatakan, persiapan pemindahan itu telah dikaji oleh tim dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM), Fakultas Geografi dan Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu budaya UGM, serta tim dari BP3 Jawa Tengah. Kesimpulannya diusulkan pemindahan sementara.

"Kalau memang lahar dingin dipastikan tidak akan mengancam keberadaan candi, bisa dikembalikan lagi ke tempatnya," ujarnya.

Ancaman lahar dingin pada Candi Tlatar ini, menurut Gutomo, Kepala Seksi Pelestari dan Pemanfaatan dari kantor BP3, terjadi setelah cekdam Tlatar jebol oleh bajir lahar dingin. Jebolnya dam Tringsing yang menyusul kemudian, juga berakibat makin parahnya penggerogosan areal candi. "Kalau ini terbiarkan lama-kelamaan lahan lingkungan candi akan terus tergerogos, dan candi dikhawatirkan bisa roboh," katanya.

Baik Tri Hatmaji maupun Gotomo menyatakan, meskipun sekeliling wilayah candi sudah di talut, namun pengalaman menunjukkan talut itu selalu jebol jika terjadi banjir lahar dingin di Kali Pabelan. "Bahkan kalau terjadi banjir lahar dingin sekali lagi dalam volume besar dimungkinkan candi akan terbawa hanyut oleh arus," kata Gutomo.

Pemindahan bangunan kuno terlebih candi, menurut Gutomo, bukan pekerjaan gampang, karena struktur candi harus dibuat seperti keadaan semula. Di samping itu, membutuhkan tenaga-tenaga ahli penyetel batu yang sudah terlatih. Pengalaman pemindahan candi pernah dilakukan pada Candi Selogriyo juga di Magelang karena ancaman longsor. Pemindahan candi ini juga membutuhkan waktu cukup lama.

Candi Tlatar, yang memiliki luas 8 x 8 meter, menurut Gutomo, memiliki catatan penting dalam sejarah dunia arkeologi. Candi Hindu yang dibuat seputar abad IX ini meskipun kecil diduga merupakan karya Raja Balitung, tokoh terkenal dalam khazanah sejarah Mataram Kuno.

Dugaan candi itu karya Balitung, dengan ditemukannya prasasti di situs itu. Isi prasasti menyebutkan bahwa tanah Tlatar mendapatkan anugerah Sima (wilayah bebas pajak). Prasasti ditandatangani oleh Raja Balitung. "Biasanya, pembebasan tanah menjadi tanah perdikan atau tanah bebas pajak, disertai dengan pembangunan tempat persembahyangan. Makanya diduga candi itu karya Raja Balitung," ungkapnya.

Di wilayah dataran tinggi Magelang, khususnya di wilayah seputaran Gunung Merapi yang relatif saling berdekatan dan relatif memiliki kesamaan bangunan satu sama lain. Selain Candi Tlatar, di seputaran itu juga ada Candi Asu, Candi Ngawen, Candi Lumbung, dan Candi Pawon. Apakah semua candi itu buatan Raja Balitung, hanya prasasti di Candi Tlatar yang menyebut nama Raja Balitung. (Totok)

                                         --------------------------------------------------

 


 

 

 


KOMENTAR

Tidak Ada Komentar

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter