CAFE BAMBU LESEHAN, PEKO-PEKO Ditulis Oleh :anggoro.s, Pada Tanggal : 12 - 02 - 2012 | 16:23:29
 http://www.metronews.com BERITA TERKAIT Jikalau Anda kebetulan mau rekreasi ke Magelang, Jawa Tengah, khususnya ke Candi Borobudur, jangan lewatkan ini: mampir ke café “Peko-Peko”. Apa sih istimewanya café ini? Pertama-tama, konsep yang diusung adalah café lesehan, yaitu duduk di tikar yang digelar, sambil santai ngobrol dan pesan menu makanan. Kedua, café ini terbuat serba bambu dengan penataan lingkungan yang mendukung dan artistik sekali.
“Mampir Kang,” begitu selalu sapa Yehana SR, seniman, mantan Ketua Semarang Kartunis Club (Secac) yang mengelola café ini bersama Putranya, Yona, kepada Obyektif Cyber Magazine, baru-baru ini. Dia selalu memanggil kawan-kawannya dengan sebutan akrab “Kang” yang artinya Kangmas, yaitu menyebut Kakak, atau Kakanda.
Dalam budaya Jawa, memanggil orang yang dihormati, tidak perduli lebih muda dari usianya, selalu memakai Mas atau Kangmas. Bukan berarti menuakan, tetapi sebaliknya, malah menghormati. Kalau perempuan akan dipanggil Mbak, atau Mbakyu, Mbak yang ayu atau cantik, begitukah cara orang Jawa menghargai sesamanya. Dan itulah trade-mark Mas Yeha, begitu kami selalu memanggil Yehana SR. Dia memang terkenal ramah, tanpa basa-basi dan selalu tersenyum.
Meski sekarang keluarga Yehana SR membuka cafe, sesungguhnya mereka adalah keluarga seniman. Yona puteranya, vokalis band dan bersama Yeha ayahnya, sebelumnya banyak menulis dan memproduksi buku-buku humor. Prestasi sang ayah yang tidak pernah dilupakan di kalangan seniman, terutama para seniman Semarang, karena dialah penggagas Lomba Kartun Internasional yang pertamakalinya di Asia Tenggara. Lomba yang berlebel: Candalaga Mancanegara itupun berjalan sukses dan diikuti sekitar 31 negara.
Disamping itu, Yeha juga membuat "Jaya Suprana Show" yang tampil di beberapa TV swasta nasional. Saat itu semua berjalan lancar dengan bintangnya Jaya Suprana. Dia juga pernah membuat beberapa sinetron dan film iklan. Yeha pada waktu itu mondar-mandir Semarang - Jakarta, untuk berkiprah sebagai seniman. Seperti roda kehidupan yang terus berputar, dia pun ikut berpusar di dalamnya.
Hidup memang harus selalu semangat dan optimis. Mungkin itulah yang sekarang ini dilakoni Yehana SR. Lama tidak terdengar kabarnya, tahu-tahu sudah pindah rumah persis di samping Candi Borobudur yang terkenal. Padahal jarak rumahnya di Semarang sampai ke Candi ada sekitar 100 Km-an, masuk wilayah Kabupaten Magelang. Mungkin dia tetap ingin menjaga jiwa kesenimananya, dekat dengan pusat budaya Jawa, seperti Sutanto Mendut. Terus terang membuat kami iri, tidak berani 100% hidup sebagai seniman.
Pernah kami menengok rumahnya dan disambut dengan akrab. Ketika lapar pun dibuatkan Indomie rebus. Saat itu kami ditemui dengan isterinya. Dia ceritera kalau rumahnya sering untuk ampiran teman-temannya yang seniman. Banyak juga seniman terkenal Jakarta, kalau kebetulan ke Candi Borobudur, selalu menyempatkan diri mampir ke rumahnya. “Kang saya dan isteri jualan tanaman dan berbagai perlengkapannya seperti pupuk dan lain-lain,” katanya.
Memang di rumahnya penuh dengan berbagai macam tanaman hias. Juga botol-botol pupuk cair. Di garasinya ada mobil besar keluaran tahun lama. “Kami sering mondar-mandir ke Semarang untuk kulakan tanaman dengan ini,” komentarnya ketika kami melirik mobilnya. “Juga untuk mengangkut keluarga, kemana saja,” tambahnya. Setelah itu, lama kami tidak mendengar kabarnya Kang Yeha.
Sampai suatu sore dia meng-SMS ku. “Kang, nanti kalau sempat mampir ke Ruko Ngaliyan ya. Yona anakku buka gerai bakso dan setiap malam ada pentas bandnya. Teman-teman selalu ke sini, terutama Item De,” katanya dalam SMS. Daerah Ngaliyan adalah daerah pengembangan Kota Semarang ke Barat-selatan, jurusan Boja. Batinku, loh dari Borobudur kok ke Semarang lagi. Namun aku tidak berkomentar apapun. Juga belum sempat menengok, karena kesibukanku siang malam mengelola sebuah surat kabar harian baru, tak sekalipun aku sempat niliki.
Tahu-tahu dia mengabarkan kalau gerai baksonya tutup dan membuat rumah makan baru di Magelang. Tentu saja bersama Yona, puteranya. Namun ada kegembiraan tersendiri dariku mendengar kabarnya. Dia terus berjuang untuk kehidupan dan demi keluarganya. Sama seperti diriku. Dunia seni atau kuliner, hanyalah “alat” untuk tetap bertahan hidup dari hantaman badai dan taufan kehidupan yang senyatanya. “Kang Yeha, sebagai sahabatmu, aku selalu mendukungmu, apapun yang terjadi,” begitu batinku.
Kini berdiri Café Peko-Peko. Cafenya bersih dan bagus, tempat yang santai dan nyaman bagi para keluarga yang sedang rekreasi. Dengan gaya rumah bambu, mereka menyajikan “Menu Semarangan”. Teridiri dari nasi goreng iso babat, iso babat gongso, soto, mie kopyok, bakso, lunpia, tahu petis, dan lain-lain makanan khas Semarangan. “Rasanya mantap dan mak nyus,” tutur Yahmi salah seorang seniman tari yang tinggal dekat Borobudur ketika selesai menikmati makanan di café ini.
Café yang indah tersebut, juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang menarik. Bisa untuk pertemuan, ulang tahun, dan kegiatan lain, dengan kapasitas 50 orang. Lokasinya juga strategis, dengan tempat parkir yang luas. Mungkin suatu saat juga ada ide pementasan teater, pemutaran film, nonton bal-balan, atau temu seniman & sastrawan di café Peko-Peko. Mungkin juga dilengkapi dengan siteran. Sambil santai makan, dihibur siteran, musik khas Jawa. Asyik juga. Adanya berbagai fasilitas, tujuannya, supaya ramai pengunjung dan laku keras. Selamat Kang Yeha, semoga selalu sukses. Salam untuk Mas Yona dan keluarga. (anggoro.s).
--------------------------------------
Alamat Café Bambu Lesehan "Peko-Peko" :
Depan Vihara Barepan, Wanurejo, sekitar 800M dari Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Pengelola YEHANA SR danYONA.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
|