Beranda Hot News Pembangunan Tol Semarang – Batang Didemo Petani

Pembangunan Tol Semarang – Batang Didemo Petani

308
0

Petani pun ikut unjuk rasa. Buktinya, rencana pembangunan jalan tol Semarang – Batang mendapat protes dari para petani di Kabupaten Kendal, baru-baru ini. Mereka berdemo dengan membawa spanduk-spanduk besar dan menggelar unjuk rasa di depan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kendal dengan teriakan menolak ganti rugi.

Rakyat yang mengaku sebagai kaum tani itu juga membawa keranda dan poster, bertuliskan uneg-uneg hati mereka. Puluhan petani dari Desa Wungurejo, dan Desa Tejorejo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal  mendatangi kantor BPN Kendal di jalan Pantura Kota Kendal. Puluhan petani ini menuntut keadilan terakit pembebasan lahan petani, yang akan dijadikan jalan tol Semarang-Batang.

“Kami meminta pemerintah memberikan ganti untung, bukan ganti rugi karena lahan yang akan dilalui proyek tol ini adalah lahan produktif,” tutur Jumadi (49) salah seorang pengunjuk rasa dengan lantang. Petani juga menolak harga ganti rugi yang diajukan pemerintah sebesar Rp 220 ribu  per meternya dan meminta pemerintah tidak melakukan proses konyinasi melalui PN Kendal.

Mas Arif dalam orasinya, yang menyatakan petani menolak ganti rugi yang ditawarkan pemerintah dan meminta kejelasan serta transparasi proses pembebasan tanah. “Kita meminta usut tuntas aparatur pemerintah yang melakukan intimidasi terhadap warga untuk menerima pembayaran ganti rugi proyek jalan tol Semarang-Batang,” teriaknya lewat pengeras suara tangan, yang langsung disambut tepukan riuh, suit-suitan, dan spanduk yang diobat-abitkan ratusan pendemo.

Menurut Samsudin, perwakilan petani yang diwawancara Wartawan Obyektif.com mengatakan, pemerintah harus memperhatikan dan memikirkan dampak masyarakat yang lahannya terkena proyek ini. Menurutnya, permintaan ganti rugi yang wajar adalah lima kali lipat dari harga pasaran tanah sekarang. Jika pemerintah hanya memberikan patokan harga Rp 220 ribu  permeter warga sepakat menolak ganti rugi tersebut. “Kita  juga meminta pemerintah untuk menunda pembebasan lahan sampai tahun 2017 karena saat ini petani sedang menjalankan program Presiden Jokowi terakiat penanaman padi jagung dan kedelai,” jelas Samsudin.

Sementara itu, Kepala BPN Kendal, Usman mengatakan, pihaknya tidak bisa berbuat banyak terakit patokan harga pembebasan tol Semarang-Batang. “Harga sudah diajukan dari tim independen, dan pihak BPN Kendal bertugas mensosialisasikan dan melakukan pendekatan ke warga,” kilahnya. Menurut dia, ada 27 desa di Kabupaten Kendal bakal terkena proyek pembangunan jalan tol Semarang – Batang. Dari puluhan desa tersebut, baru dua yang sudah dilakukan penaksiran harga ganti rugi tanah. Ditambahkan, dari 27 desa itu, berada di tujuh kecamatan.

Ditambahkan, perkiraan desa-desa yang dilintasi tol itu, berdasarkan pada rencana awal pembangunan, yakni panjang jalan sejauh 37 kilometer. Maka wilayah yang akan dilalui proyek tol ini berada di Kecamatan Weleri, Ringinarum, Gemuh, Pegandon, Ngampel, Brangsong dan Kaliwungu Selatan. Namun, dari 27 desa yang akan dilewati pembangunan jalan tol, saat ini baru dua desa yang sudah dilakukan penaksiran harga ganti rugi tanah, yaitu Desa Tegorejo dan Wungurejo, Kecamatan Ringinarum. Menurut para petani, seharusnya pihak Tim Penaksir harga tanah, mendengarkan keluhan mereka. (Rabun Jisman).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here