Beranda Sastra Budaya Pembinaan Kesenian Tradisional Terkesan Amatiran

Pembinaan Kesenian Tradisional Terkesan Amatiran

50
0

SEMARANG, (Obyektif. com) – Jawa Tengah memiliki kekayaan berbagai kesenian tradisional. Kemungkinan ada ratusan jenis kesenian tradisional, meskipun sebagian besar dalam kondisi “hidup segan mati tak mau”. Namun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terkesan kurang serius dalam melakukan pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional.

Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Gunoto Saparie mengatakan, pemetaan kesenian tradisional di wilayah ini belum pernah dilakukan secara sungguh-sungguh dan profesional. Inventarisasi dan dokumentasi kesenian masih terkesan amatiran. Apalagi sejak era otonomi daerah tidak ada lagi penilik kebudayaan.

“Pembuatan database kesenian tradisional mutlak diperlukan. Begitu pula penerbitan dan penyebarluasan hasil dokumentasi kesenianan tradisional,” ujarnya.

Menurut Gunoto, selama ini kita sering berkata tentang kesenian tradisional adiluhung, namun ternyata lebih banyak berhenti hanya pada kata-kata. Kesenian tradisional membutuhkan revitalisasi. Namun, selain peran masyarakat, negara harus hadir dalam pengembangan dan pembinaannya.

“Dulu hampir setiap desa memiliki jenis kesenian tradisional. Namun kini hanya tinggal cerita. Regenerasi seniman tradisional berhenti. Mungkin Pemprov perlu memberikan beasiswa pendidikan bagi generasi muda di program studi kesenian perguruan tinggi,” tandas penyair ini seraya menambahkan tentang perlunya menciptakan ruang publik untuk pelatihan kesenian tradisional.

Gunoto berpendapat, pelibatan swasta dalam pengembangan dan pembinaan kesenian pun perlu dilakukan. Sayangnya regulasi yang mengatur tanggung jawab sosial perusahaan tidak mengatur secara eksplisit bantuan untuk upaya pengembangan dan pembinaan kesenian.
Karena itu, tambah dia, pembentukan peraturan daerah tentang pengembangan dan pembinaan kesenian daerah perlu didorong. Baik di tingkat provinsi maupun kabuapaten dan kota.

“Selain itu, selama ini ada beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat, namun seringkali memiliki masalah di dalam pendanaan. Alangkah baiknya kegiatan-kegiatan tersebut dijadikan kegiatan Pemprov. Sedangkan teknis pelaksanaannya tetap oleh lembaga yang selama ini sudah melaksnakan,” ujarnya. (Aries Kunarto, MK)

Foto ilustrasi: http://www.kabarbee.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here