Beranda Lifestyle Pendidikan Anak, Peran Keluarga & Agama

Pendidikan Anak, Peran Keluarga & Agama

57
0
BERBAGI
Mustafa Rani, wartawan tinggal di Aceh. (Foto: obyektif.com/MR)

Pengaruh kebudayaan luar dalam era globalisasi dewasa ini memberikan dampak bagi para remaja. Baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Globalisasi akan memiliki nilai manfaat dan nilai positif yang sangat berguna untuk perkembangan bangsa ini, apabila kita melakukan kontrol bersama terhadap remaja, orang tua, dan berbagai lembaga pendidikan berperan penting untuk memberikan arahan yang benar.

Nah, dampak yang terlihat menonjol akibat globalisasi terjadi pada remaja, remaja pada umumnya memiliki mental yang belum stabil dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi, hal ini dikarenakan mereka sedang memulai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Apabila mental remaja yang belum stabil ini tidak mendapat pengawasan dan pengarahan yang benar dan tepat oleh para orang tua, serta lembaga pendidik, maka akan banyak sekali dampak negatif yang akan terjadi terhadap remaja.

Melirik realita hidup remaja saat ini, memang sering membuat kita geleng kepala, seribu satu persoalan dalam aktivitas sehari-hari, banyak terjadi benturan norma dalam berbagai sisi kehidupan. Tatakrama diabaikan, anjuran menjadi larangan. Beragam kepincangan sosial dinamika kehidupan remaja mendapat beragam penafsiran, tergantung dari segi mana seseorang menberi penafsiran.

Terjadi komplikasi pedapat dalam melihat masalah remaja yang terseret arus perkisaran peradaban dan kebudayaan asing itu. Negatif positifnya seseorang menilai, yang pasti dengan realita sekarang tinggal bagai mana kita meningkatkan kualitas dan kuantitas remaja yang menjadi tulang punggung bangsa ini. Merebaknya prilaku menyimpang di kalangan remaja merupakan satu bukti kemerosotan akhlak masyarakat, kemaksiatan, seperti meluasnya penyalahgunaan narkoba dan gaya hidup bebas, adalah segelintir contoh dan bukti remaja semakin jauh dari sentuhan nilai-nilai agama.

Remaja sekarang cenderung mengikuti gaya barat dengan trend mode dan gaya hidup bebas, terjerumus ke dalam narkoba, sehingga banyak yang melanggar batas-batas tatakrama dan tatasusisla. Pakaian yang di atas semakin ke bawah, sedangkan yang di bawah semakin ke atas, aurat terjual tanpa terbeli. Banyak kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini di tunjukkan dengan gejala gejala yang muncul dalam kehidupan remaja sehari-hari.

Telekomunikasi dan internet adalah salah satu bidang yang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Telepon genggam yang dimiliki hampir setiap orang memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan internet. Melalui Hp yang memiliki fasilitas internet, remaja dapat dengan mudah megakses segala sesuatu. Misalnya, informasi, berita, komunikasi, bahan belajar, musik, video, dan lain sebagainya. Akan lebih baik apa bila remaja kita menggunakan media tersebut untuk hal yang positif seperti mendukung kegiatan belajar mengajar, menambah informasi dan pengetahuan yang berguna serta kegiatan positif lainya. Namun apa bila remaja tidak mendapatkan pengawasan dan arahan yang baik, maka dampak negatiflah yang akan terjadi.

Oleh karenanya pendidikan agama sejak dini memiliki peranan penting dalam membentuk perilaku yang baik terhadap remaja. Dengan pendikan agama akan membentuk karakter akhlakul karimah ( akhlak keagamaan ) bagi remaja sehingga mereka mampu memfilter mana prilaku dan pergaulan yang baik serta mana prilaku dan pergaulan yang tidak baik. Pendidikan agama bisa dimulai dari lingkungan keluarga, orang tua bisa membiasakannya sejak kecil. Selain keluarga, sekolah pertama bagi anak anak, pendidikan formal pun memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Khususnya terhadap anak Sekolah Dasar (SD), pendidikan agama sangat penting sebagai benteng sejak dini dari hal-hal yang tidak baik.

Materi pelajaran agama pada lembaga pendidikan hendaknya juga harus berorientansikan pada kepentingan remaja dalam mewujutkan nilai-nilai moral, sehingga siswa mampu untuk mengantisipasi pengaruh buruk dari lingkungan yang ada di sekitar mereka. Dengan demikian, sekolah bukan hanya mengembangkan potensi peserta didik yang bersifat ilmu pengetahuan dan teknologi belaka, melainkan juga harus mampu membimbing, membina dan mengarahkan peserta didik agar mempunyai moral dan akhlak yang sesuai dengan tuntutan nilai-nilai agama.

Peran pendidikan agama di era globalisasi dewasa ini mempunyai beberepa bentuk, yaitu sebagai sebagai penunjuk jalan yang benar. Tanpa adanya agama, manusia tidak mempunyai pendirian yang teguh dan tidak mempunyai aturan. Karena agama merupakan sebuah kepercayaan yang harus dianut seseorang untuk menentukan arah tujuan orang tersebut. Kemudian, peran pendidikan agama akan menciptakan budi pekerti yang luhur, dengan adanya akhlakul karimah, hubungan manusia antara satu dengan lainnya akan terjalin dengan baik, dapat memamfaatkan kekuatan teknologi sebagai mana mestinya, tetapi bila terjadi kesalahan dalam memamfaatkan teknologi maka dapat mencemarkan akhlak, agama juga sebagi filter bagi kebudayaan asing.

Menghormati dan mengakui agama lain serta menghormati perbedaan pendapat juga akan menjalin ikatan yang baik antar umat. Nah, dapat di simpulkan bahwa pendidikan agama bisa dijadikan tolak ukur untuk mengubah kesan negatif pada zaman modern yang mengobrak-abrik moral bangsa, serta menjadikan anak penerus bangsa yang berintelektual tinngi dan berakhlak mulia tanpa mencemaskan situasi dan kondisi yang memburuk. Mungkin itulah pemikiran saya, sebuah pemikiran yang tidak terlalu berlebihan bukan? (Mustafa Rani).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here