Beranda Sastra Budaya Pentas Seni Slamet Unggul, Tetap Unggul

Pentas Seni Slamet Unggul, Tetap Unggul

174
0
BERBAGI

SEMARANG, (Obyektif.com) – Yes, pentas seni Slamet Unggul, tetap unggul. Dalam balutan malam, dengan label “Mbohlah” yang digeber di Oudetrap Theatre, kawasan Kota Lama, Semarang, belum lama ini (8/5), membuat penonton berdecak kagum, dan bahkan beberapa kali bertepuk tangan gemuruh. Audience yang memadati arena pentas terdiri dari seniman, aktivis seni, dan masyarakat umum, dibuat terkesima.

Pertunjukan puisi Slamet Unggul “Mbohlah” itu, di luar dugaan, mampu menyuguhkan pentas puisi yang dipuji banyak penonton. “Pertunjukan ini tidak kalah dibanding pentas-pentas puisi yang sudah pernah digelar para penyair besar di Indonesia,” ujar Teha Edy Djohar, Ketua Komunitas Kaligawe (Kowe) Semarang, yang juga penyair senior, di atas pentas ketika diminta pendapat di muka umum oleh Lukni Maulana, guna memberikan suport.

Itulah yang menjadi penting, karena Slamet Unggul, 54, bukanlah siapa-siapa. Bekerja sebagai penjahit, bapak dua anak ini, dalam dunia kepenyairan baru tergolong sebagai bocah kemarin sore. Meski masa remajanya, dia sudah aktif mengamati puisi-puisi para penyair Semarang kala itu.

Maka secara isi, puisi-puisi Unggul memang masih belum apa-apa. Walaupun dalam beberapa hal, terlihat pada karyanya ada juga yang memiliki daya kejut. Ini tak terlepas dari beberapa fase hidupnya yang tak jarang harus menelan pil pahit. “Pengalaman pahit itulah yang membuat Slamet Unggul berpuisi, karena kepahitan adalah puisi,” ungkap Eko Tunas, penyair senior yang juga turut hadir menyaksikan.

Diawali dengan membaca di balik layar, ditingkahi potongan musik-musik orchestra, suara lantang dengan logat dan lafal khas Slamet Unggul, cukup memberi kejutan. Sambil bergerak setengah menari, keluar dari tirai, ia terus bacakan puisi-puisinya. Saat itu, musik pengiringnya berganti live, dengan irama-irama pentatonik yang cukup padu dan memukau.

Menggunakan Kecapi, Seruling, Gitar, dan Kendang, Gus Tinung, Ujang, dan Aan Nawi terlihat kompak memainkannya dengan mengalun, ritmis dan harmonis. Faktor yang sangat menunjang, tentu saja. Ditambah Agung Wibowo yang tak kalah menarik aksinya dalam ekspresi mimik, gerak, tari, dalam membacakan puisi Slamet Unggul, menambah kelengkapan pentas tersebut.

Maka, sukses pertunjukan tersebut memang bukan oleh Slamet Unggul seorang diri. Ada nama lain yang turut mengatur, menata dan memberikan ruh pertunjukan hingga terwujud repertoar yang membangun situasi.

Termasuk adanya sesi intermezo interaktif di tengah-tengah pentas,  yang tetap terjaga dan tidak melejit dari nyawa temanya, tergolong hal baru dalam pentas puisi. Mereka yang membantu memberikan sentuhan itu, adalah Lukni Maulana, Bayu Aji Anwari dan Didiek WS, dan lain-lain, yang sudah labih dulu memiliki pengalaman.

“Manajemen pertunjukan yang efektif, efisien, mampu menjadikan pertunjukan menarik, meski beberapa kali gangguan soundsystem, penonton tetap betah,” komentar Sulis Bambang, penggiat seni dan sastra, pemimpin dan pendiri Bengkel Sastra Taman Maluku di Semarang.

Sehingga jadilah peristiwa penting dalam kesenian sastra panggung di Semarang tersebut, layak mendapatkan apresiasi. Karena pentas itu sekaligus membuktikan, pertunjukan puisi bukanlah monopoli para penyair yang telah mapan dalam kepenyairannya.

Meski begitu, “Mbohlah”, yang tidak hanya bermakna lepas peduli, pasrah, apalagi menyerah, masih tetap harus terus membuktikannya lagi. Dengan terus berkarya yang lebih baik lagi, tentu saja. Sejujurnya harus diakui, Slamet Unggul, memang selalu Unggul, hehe… (Didiek WS)

Foto: Slamet Unggul, dan kawan-kawan. (Foto: Obyektif.com/DWS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here