Beranda Regional Rencana Kerja Dinas P dan K Jateng Perlu Dipertajam

Rencana Kerja Dinas P dan K Jateng Perlu Dipertajam

113
0

SEMARANG, (Obyektif.com) – Rencana Kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah 2020 dinilai terlalu umum dan kurang tajam. Khusus di bidang kebudayaan, Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) mengusulkan perlunya Dinas P dan K Jateng mempertajam beberapa program dan kegiatan yang berkaitan dengan hasil-hasil Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018 dan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2019.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum DKJT Gunoto Saparie seusai mengikuti Forum Perangkat Daerah Rencana Kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah 2020 di Semarang, Kamis (14/3/2019).
Gunoto mengatakan, memang benar pembangunan di bidang kebudayaan di Jateng masih menghadapi beberapa permasalahan. Antara lain menyangkut perlunya peningkatan optimalisasi pelestarian dan pengembangan cagar budaya seta nilai-nilai budaya lokal.

“Selain itu, penetrasi budaya asing yang masuk dan berinteraksi dengan dengan kebudayaan lokal harus mampu difilter,”  ujarnya. Namun, lanjut Gunoto, pemerintah provinsi/kabupaten/kota perlu segera menerbitkan regulasi turunan dari UU No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan berupa peraturan daerah, sehingga program dan kegiatan kebudayaan di Jateng memiliki payung hukum. Selama ini kita terkesan hanya mengandalkan kebijakan kepala daerah secara individual.

“Program pengiriman delegasi Jateng dalam Pekan Kebudayaan Nasional dan Kemah Budaya Kaum Muda juga perlu dijadikan prioritas. Tentu saja ini perlu dilakukan secara berjenjang sejak tingkat kabupaten/kota. Begitu pula program Seniman Masuk Sekolah harus masuk rencana kerja Dinas P dan K Jateng,” tandasnya.

Selain itu, Gunoto mengingatkan, bagaimana banyak komunitas dan sanggar seni yang kehidupannya kembang kempis. Mereka kesulitan mengakses bantuan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah. Dinas P dan K Jateng perlu melakukan sosialisasi dan advokasi mengenai hal ini. Sementara kebanyakan perusahaan juga belum menyasar kesenian dalam filantropi mereka, sehingga insan seni menghadapi dilema karena pilihan sumber dana yang terbatas. (Aries Kunarto, MK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here