Beranda Puisiku Puisimu Sajak Garuda Luka Berluka

Sajak Garuda Luka Berluka

66
0
BERBAGI
Foto: Koleksi pribadi HSP

Hardho Sayoko Spb:

SAJAK GARUDA LUKA BERLUKA

Tak dapat menembus lapisan awan
bukan karena tak mampu berkepak
karena tergasi genggam prasangka
nyaris luluh lantak tertimbun dahak

Puluhan musim menganyam mimpi
tak pernah menghiasi dalam pigura
karena jilatan api para pendakwa
hangus sebelum menjamah cakrawala

Kedunggalar, 18 Oktober 2013

NEGERI PENYAJAK

Negeri para pejalan mengapa tak jeda dirundung keluh
padahal sejauh rentang mata tanahnya biaskan cahaya teduh
meski hanya segumpal dahak teraup telapak tangan
namun seluruh penghuninya merasa tinggal di surga
ada pejalan tapi  hanya bayang tanpa ruh dalam jiwanya

Di sini sumber madu, bukit emas dan berserak permata
palung lautnya pun menyimpan berlaksa timbunan harta
namun pemiliknya tetap merenda airmata sepanjang usia
karena segalanya telah tergadai  pada jelmaan serigala
dahulu para pemabuk memanggil setelah mereguk ludahnya

Penapak, Limbang, Sarawak, 13 Juli 2012

SEPANJANG PADANGAN  NGAWI  SUATU HARI

Berkendara kesiur angin bulan Juli
mentari tak lelah bersapa dari sela dedaunan
ketika bunga sajak di bilik jantung  meranggas
terjilat lidah tuarang dari kisi-kisi tebing ilusi
Ann adakah sipongang rindu masih teralun
tiap kokok beroga terbawa lintas silhuet
percikkan desah di permukaan telaga

Sunyi  terbentang  dalam gapai nelangsa
tertikam rindu meniti hari-hari tak lelah melintas
oi jiwa teramat lata adakah pijak buih esok beserta
jika hangatnya jemari tak pernah lagi membelai
setelah diri  jelma setelempap awan di cakrawala
terpasung deru badai usai pemberangkatan
lengking peluit terbawa albatros entah ke mana
kecuali anak embun tak ada sisa gerimis berkaca

Kedunggalar, 2 Juli 2011

DI PERON STASIUN KERETA API KEDUNGGALAR

Di jantungmu tak lagi merimbun hutan jati
tempat induk rusa mengasuh anak-anaknya
pula burung merak mengigal  terbakar berahi
kendati penggal masa lampau terberai jalinannya
usah berkisah tentang petani  memilih lembu besi
setelah kerbau tak lagi menghela bajak di sawah
biarlah upacara menjemput Dewi Sri  tiap jelang panen
lewat cakram plastik para cicit hanya terbagi hikayatnya

Terngiang sisa suara dari gerbang dusun;
Meski air bening hanya  di sekitar mataair
yakini galau tak dapat berubah jadi prahara
jika penyajak setia kendalikan bisik hatinya
karena gairah diri sejatinya  gelombang juga
rumpun bambu tak derit jika diseteru pawana
tegak ilalang bila padang khusyu dalam samadi
di kembara justru seteru sahabat paling setia
membius jiwa dalam kepapaan pusar nelangsa

Duhai  Ann mengapa  harus memilin serat ilusi
bila pejalan sangsai memanjat rahang bianglala
karena tak gapai mimpi menunggang gigir bulan
meski tak tuju tiap meniru kepiawaian Daud
sungguh dada ingin hanyutkan serpih resah
setelah puisi hanya tempat labuhkan keluh
bukan lagi jejak kembaraan di bait  tembang
tak peduli  sebelum nama bergantung dalam igau
jejak masih asing di putaran  jentera tujuh benua
sayap kembang di bahu mewakili isyaratNya

Kedunggalar, 19 / 21 April 2012

 

Hardho Sayoko SPD, penyair dari Kedunggalar, Ngawi, Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here