Benarkah tanggung jawab menjadi sastrawan, penyair, lebih-lebih kaitannya dengan dunia kesusastraan, menjadi semata-mata tugas individu? Benarkah para “calon” sastrawan atau penyair harus mengurus dirinya sendiri, berikut karyanya tanpa peduli pada konteks kultural, apa ia tumbuh, dan sistem apa yang melingkupinya?
Pertanyaan-pertanyaan di ataslah yang mendominasi dalam berbagai diskusi yang digelar pada
Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) mendesak Gubernur Jateng Bibit Waluyo, untuk memberikan asuransi kesehatan bagi para seniman di wilayahnya. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah perlu memberi asuransi kesehatan kepada para seniman yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Jateng. Pemberian jaminan kesehatan tersebut manfaatnya sangat besar dirasakan oleh seniman.
“Pasalnya, dalam
Pesta perkawinan dengan menampilkan corak adat Jawa sudah biasa. Bahkan hampir semua resepsi nikah memang begitu. Namun kalau walimatul ursy memakai adat nusantara, pastilah luar biasa. Lebih-lebih, salah satu pengantinnya adalah wong londo. Dan justru adat Belanda sama sekali tak ada, alias”bebas Barat”.
Perhelatan unik disebut Pernikahan Kultural ini digelar oleh
Cinta, sungguh nikmat dan perlu. Juga penuh liku-liku. “Percayalah, cinta tidak akan membunuhmu, hanya bisa sedikit melukaimu,” tutur Bunda Theresa di India sekian puluh tahun yang lalu. Saran itu ada benarnya juga. Seperti cinta yang tercermin dalam novel terbarunya Faradina Izdhihary, seorang wanita dari Malang, Jawa Timur: “Seputih Cinta Hawna”.
Novel
Bayi itu masih berusia 2,5 bulan. Namun, tanpa ragu-ragu, orang tuanya disaksikan kerabatnya, melarung (menghanyutkan) bayi tersebut, di air sendang (danau kecil) yang dingin. Meski bayi itu sudah dilengkapi pelampung, agar tidak tenggelam, namun semua yang menyaksikan, jadi khawatir juga. Pelan-pelan, bayi yang mengambang di air yang jernih itupun terhanyut,
Kekhawatiran para seniman muda di Jateng, terutama di Semarang, terjawab sudah. Sebelumnya mereka khawatir kalau dalam Musda Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) mendatang ini, Dr H.Bambang Sadono,SH,MH (BS) akan terpilih lagi. Jauh sebelumnya mereka meminta agar BS tidak menjabat lagi sebagai ketua DKJT, dan meminta menyerahkannya pada para seniman muda.
Pernyataan mengejutkan, datang dari seniman Pati, Anis Sholeh Ba’asyin. “Bubarkan saja Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), kalau ternyata tidak bermanfaat bagi para seniman di Jawa Tengah,” katanya dalam wawancara dengan wartawan Obyektif Cyber Magazine, Suprapto, di Semarang, baru-baru ini.
Dia mengatakan hal itu menanggapi hangatnya pembicaraan soal DKJT menjelang musda yang
PERJALANAN
Sajak bagi: Anggi
Katamu, perjalanan panjang mesti dilanjutkan
Hadapi medan luas tanpa tepi tanpa hamparan
“Inilah kasunyatan,” gumammu memantulkan wening
Pancarkan bening semburatkan hening
Lalu, kesesiapakah jejak mesti
Pemilihan kepengurusan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), termasuk Ketuanya, yang diperkirakan akan berlangsung pada bulan April-Mei mendatang ini, diminta tidak ada yang main money politic (politik uang). Disamping itu juga jangan sampai ada usaha untuk menempatkan DKJT sebagai underbouw (di bawah) panji-panji partai politik tertentu.
Penegasan itu dikatakan oleh seniman senior
“Saya siap berhenti kapan saja,” tutur Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) DR H. Bambang Sadono,SH,MH ketika diwawancara wartawan Obyektif Cyber Magazine Kunarto, di rumahnya baru-baru ini. Hal itu menanggapi hebohnya pembicaraan tentang sejumlah seniman yang menghendaki pergantian di kepengurusan DKJT, akhir-akhir ini. BS, demikian panggilan akrabnya, terlihat santai di