BUBARKAN SAJA DKJT Ditulis Oleh :spt, Pada Tanggal : 09 - 05 - 2011 | 06:19:25
 BERITA TERKAIT Pernyataan mengejutkan, datang dari seniman Pati, Anis Sholeh Ba’asyin. “Bubarkan saja Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), kalau ternyata tidak bermanfaat bagi para seniman di Jawa Tengah,” katanya dalam wawancara dengan wartawan Obyektif Cyber Magazine, Suprapto, di Semarang, baru-baru ini.
Dia mengatakan hal itu menanggapi hangatnya pembicaraan soal DKJT menjelang musda yang menurut rencana sudah digelar bulan April – Mei ini, dengan agenda utama, meminta pertanggungjawaban Ketua DKJT yang saat ini dijabat Dr H Bambang Sadono,SH,MH, dan sekaligus juga menyelenggarakan pemilihan pengurus baru.
Namun Sekretaris DKJT, Gunoto Sapari, yang diminta penjelasan soal musda itu mengatakan, akan segera dilaksanakan. Menurut rencana akan digelar bulan Juni mendatang ini yang akan diikuti kepengurusan sekitar 35 Dewan Kesenian Kabupaten/Kota dari berbagai Dati II di Jateng. “Tempat musda sekarang baru dicari. Sementara ini muncul gagasan, tidak lagi digelar di Semarang, tetapi, kalau tidak di Purwokerto, ya Cilacap, tambahnya. Kurang jelas, soal alasan pemilihan dua kota tersebut.
Kembali ke pernyataan seniman Anis. Dalam musda itu nanti dia mengharapkan, harus dirumuskan secara jelas soal visi dan misinya DKJT. Ia menilai selama ini, visi-misinya tidak jelas. Dia khawatir, kalau sudah buram dan tidak jelas, DKJT bisa terjebak hanya untuk mencari “proyek” saja. “Daripada begitu, lebih baik bubarkan saja DKJT, karena jelas akan tidak bermanfaat bagi para seniman di Jateng,” tambahnya.
Nama seniman Anis Sholeh Ba’asyin di Jawa Tengah sudah tidak asing lagi, bahkan sudah berkibar secara nasional dan bahkan global. Penyair dari Pati, Jawa Tengah ini, menulis sajak-sajaknya bertemakan kritik sosial yang dinamainya suluk. Menulis sejak tahun 1979 dan hasil karyanya menyebar di berbagai media massa, termasuk di Kompas.com, Suara Karya.com dan berbagai media lainnya.
Bersama komunitas seninya “Orkes Puisi Sampak Gusuran” , dia memadukan seni baca puisi, pedalangan, musik dan teater, yang kaya dengan warna etnis. Sudah dipentaskan di berbagai forum nasional dan memperoleh berbagai penghargaan. Sering juga tayang di TV-One Channel, dan menarik banyak perhatian. Baru-baru ini bersama komunitasnya, pentas keliling Eropa. Meski begitu, Anis selalu rendah hati. Dia selalu mengatakan “pelayan” di “Orkes Puisi Sampak Gusuran”, meski sesungguhnya dialah pimpinan sekaligus nahkodanya.
Sementara itu seniman Nadjib Kertapati Zuhri yang satu ndeso dengan Anis, ketika diminta tanggapannya soal DKJT menolak memberikan keterangan. “Saya sekarang seniman berwarga negara Jabodetabek, jadi maaf, tidak berani berkomentar soal Jawa Tengah,” katanya buru-buru pergi bersama seniman nyentrik berambut keperakan yang tergerai sebatas pinggang, Timur Sinar Suprabana. “Sudah, tulis saja, dia tidak berani memberi keterangan,” timpal Timur sambil menggandeng Nadjib dan mengajaknya pergi.
Handry TM yang mau diminta keterangan juga buru-buru kabur. Sedangkan Triyanto Tiwikromo mengatakan: “No comment,” tambahnya sambil sibuk menerima telepon di Hp-nya. Saat itu, seniman dari Jawa Tengah yang sudah tersebar di berbagai wilayah di Indonesia memang sedang berkumpul di “Balai Agung” Kompleks PRPP Semarang. Terlihat Mukti Sutarman SP, Setyo Yuwono Sudikan, Gufron Hasyim, Heri Bustaman, Tohar Tokasapu, dan lain-lain. (spt)
-----------------------------------
BS TIDAK MAU JADI KETUA DKJT LAGI
“Pak Bambang Sadono yang akrab dipanggil BS, sudah tidak bersedia jadi Ketua DKJT lagi. Dia mau leren (istirahat),” kata Sekretaris DKJT, Gunoto Sapari, menanggapi maraknya tanggapan dan harapan-harapan untuk DKJT dari berbagai seniman, khususnya seniman muda.
Sebelumnya, para seniman muda yang bermarkas di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), dari berbagai daerah di Jateng, khususnya wilayah Pantura menghendaki kepemimpinan di DKJT dipenggang oleh para seniman muda. Oleh karena itu, mereka mengharapkan, Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase), Marco Manardi, mau menjadi Ketua. Menanggapi hal itu, Marco menyatakan siap.
Pernyataan bernada keras, sebelumnya juga datang dari Timur Sinar Suprabama yang secara terang-terangan meminta agar BS tidak menjadi ketua lagi. Demikian juga para pengurus yang sudah sepuh (tua) agar secara legowo, tidak mencalonkan lagi sebagai pengurus periode mendatang. Kekhawatiran Timur, kalau dipegang BS lagi sebagai Ketuanya, dicurigai untuk kepentingan politik partai tertentu.
Eko Tunas juga menegaskan, agar dalam pemilihan Ketua DKJT tidak main politik uang (money politic). Dia berjanji akan mengawasi dan mengawal musda para seniman itu nanti dengan ketat. “Tidak boleh ada politik uang,” tegasnya. Dia juga meminta agar BS tidak menjadi Ketua DKJT lagi, agar tidak dicurigai membawa para seniman di bawah panji-panji partai dan tidak idependen lagi.
Memang menjelang Musda, beberapa nama muncul untuk dicalonkan sebagai Ketua DKJT yang baru, di antaranya Marco Manardi, Timur Sinar Suprabama, Beno Siang Pamungkas, dan Handry TM. Keempat nama itu yang paling banyak disebut. Terakhir muncul juga nama Eko Tunas, seniman dari Tegal yang kini bermukim di Semarang.
Menanggapi kehebohan itu, BS ketika dikonfirmasi beberapa saat lalu, malah santai. “Menjadi Ketua DKJT adalah pengabdian dan harus siap memberi. Oleh karena itu kalau ada teman-teman yang bersedia menjadi Ketua, silahkan saja, saya tidak keberatan,” tuturnya. Namun baru-baru ini keluar pernyataan dari Sekretaris DKJT, Gunoto Sapari, kalau BS malah sudah tidak mau menjadi Ketua lagi. (spt)
---------------------------------------
PRIHATIN MARAKNYA BAHASA ASING
DKJT sangat prihatin dengan maraknya penggunaan bahasa asing di ruang publik. Nama kompleks perumahan, iklan, nama gedung atau bangunan, nama kegiatan, petunjuk penggunaan barang, merek dagang, dan lain-lain sering memakai bahasa asing, terutama Inggris. “Rasanya kita seperti hidup bukan di Indonesia saja, tetapi di Singapura, Amerika, atau Inggris”, kata Sekretaris DKJT Gunoto Sapari.
Masalah ini, nantinya bisa dibahas dalam Musda DKJT, dan sebagai bahan masukan bagus. Dia mengingatkan pada bangsa, bahwa globalisasi tidak berarti kehilangan keindonesiaannya. Mengapa kita tidak meniru Jepang atau Korea, misalnya. "Di Jepang dan Korea saya tidak menemukan pemakaian bahasa Inggris di ruang publik. Mereka sangat kuat mempertahankan jati diri,” tandas penyair ini.
Gunoto mengakui, dalam era globalisasi ini memang sangat penting untuk menguasai paling tidak bahasa Inggris ataupun bahasa asing lainnya. Tetapi negara-negara seperti Jerman, Perancis, Jepang, Korea, Cina, sebagian besar masyarakatnya lebih bangga menggunakan bahasanya sendiri. Mereka berpendapat, bangsa yang memiliki identitas adalah bangsa yang menggunakan bahasa mereka sendiri.
"Oleh karena itu, banggalah berbahasa Indonesia dan berbanggalah juga menjadi orang Indonesia", tambahnya. Sudah waktunya dilakukan penertiban penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Pada masa Orde Baru langkah seperti itu pernah dilakukan dan tak ada salahnya kita lanjutkan. Dulu banyak nama hotel dan pasar swalayan berbau asing diubah menjadi bahasa Indonesia.
“Namun kini penggunaan bahasa asing di ruang publik justru marak lagi. Pemkot Sermarang, misalnya, baru saja mengadakan kegiatan dengan nama asing yaitu Semarang Night Carnival. Pemerintah seharusnya memberi contoh yang baik”, ujarnya.
Gunoto menyadari, dalam perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia kini telah terjadi berbagai perubahan. Terutama yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, khususnya teknologi informasi. Semua itu sarat dengan tuntutan dan tantangan globalisasi. Kondisi itu telah menempatkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, pada posisi strategis yang memungkinkan bahasa itu memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa dan memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia.
“Kita tidak menolak perubahan itu. Namun kita harus menyadari secara filosofis bahasa Indonesia menjadi lambang jati diri bangsa kita. Selain berperan dalam mencerdaskan bangsa, bahasa Indonesia adalah bahasa negara dan bahasa persatuan bangsa”, katanya. (spt)
----------------- |