DKJT JANGAN MONEY POLITIC Ditulis Oleh :ars, Pada Tanggal : 21 - 04 - 2011 | 22:41:41
 BERITA TERKAIT Pemilihan kepengurusan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), termasuk Ketuanya, yang diperkirakan akan berlangsung pada bulan April-Mei mendatang ini, diminta tidak ada yang main money politic (politik uang). Disamping itu juga jangan sampai ada usaha untuk menempatkan DKJT sebagai underbouw (di bawah) panji-panji partai politik tertentu.
Penegasan itu dikatakan oleh seniman senior serba bisa Eko Tunas, kepada Obyektif Cyber Magazine, baru-baru ini di Semarang. Wanti-wanti Eko Tunas itu bukan tanpa alasan. Sebelumnya, di periode yang lalu, Eko mensinyalir ada “dua hal” itu ketika berlangsung pemilihan kepengurusan DKJT. Money politik dan menempatkan DKJT di bawah bendera partai politik tertentu.
“Oleh sebab itu saya ingatkan, hal seperti itu jangan sampai terjadi di pemilihan ini nanti. Saya akan mengamati, dan bila terjadi, saya akan protes keras,” tuturnya penuh semangat. Ketika ditanya, siapa yang pantas jadi ketua DKJT, dia tidak mau menyebutkan nama. Namun ada beberapa nama yang potensial bisa menjadi ketua. Ketika ditanya apakah dia juga siap bila dicalonkan ketua? Dengan tersenyum menjawab: “Kalau memang para seniman memilih saya, ya apa boleh buat,” tuturnya.
Seperti diberitakan, diperkirakan pada bulan April-Mei mendatang ini berlangsung Musda DKJT yang dihadiri para pengurus di seluruh Jawa Tengah. Agendanya, disamping meminta pertanggungjawaban ketua, juga melakukan pemilihan kepengurusan baru. Di kalangan seniman muda sudah beredar nama calon ketua yang dijagokan masing-masing Marco Manardi, Timur Sinar Suprabama, Handry TM dan Beno Siang Pamungkas. Ada info baru, nama Eko Tunas belakangan juga disebut-sebut.
Siapa Eko Tunas?
Di jagad kesenian Jawa Tengah, nama Eko Tunas sudah tidak asing lagi. Eko Tunas (54) lahir di Tegal, Jawa Tengah, 18 Juli 1956, termasuk seorang sastrawan Indonesia. Seniman serbabisa, ini menulis, melukis, dan berteater sejak masih duduk di bangku SMA. Saat ini tinggal dan menetap di Kota Semarang.
Ratusan tulisan berupa puisi, cerpen, novel, dan esai tersebar di berbagai media massa di Indonesia, antara lain; Pelopor Yogya, Masa Kini, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Bahari, Dharma, Surabaya Pos, Jawa Pos, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Pelita, Republika, Kompas, Horison, dan lain-lain.
Di kalangan masyarakat Tegal, Eko Tunas juga dikenal sebagai pelopor penggunaan istilah John dan Jack, sebuah cara menyebut sesama rekan sejawat. Tahun 1976 ia masuk Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis, dan bergabung di Sanggarbambu. Selama di Yogya, ia bergaul akrab dengan Emha Ainun Nadjib, Ebiet G Ade, dan EH Kartanegara.
Beberapa kali mengikuti pameran besar Sanggar Bambu, dan pameran Tiga Muda di Tegal, tahun 1978 bersama Wowok Legowo dan Dadang Christanto. Tahun 1981 masuk IKIP Semarang jurusan Seni Rupa, dan mengikuti pameran mahasiswa di Semarang dan Jakarta.
Novelnya, Wayang Kertas, memenangkan Sayembara Cipta Cerita Bersambung Suara Merdeka, tahun 1990. Beberapa cerpennya diterbitkan bersama oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam buku Bidadari Sigarasa, tahun 2002, dan dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Kumpulan puisi yang pernah diterbitkan antara lain; Puisi-puisi Dolanan (1978), dan Yang Terhormat Rakyat (2000).
Tahun 1978, bersama Yono Daryono dan YY Haryoguritno mendirikan Teater RSPD Tegal dan Studi Grup Sastra Tegal (SGST). Naskah pertama yang dipentaskan adalah Martoloyo Martopuro, sebagai penulis, sutradara, dan sekaligus pemeran utama. Hijrah ke Semarang pada tahun 1981 masih menulis naskah drama untuk Teater RSPD yang disutradarai oleh Yono Daryono, juga untuk Teater Lingkar Semarang.
Bergabung di Teater Dhome (1980) dan Teater Balling Semarang (2000). Mendirikan Teater Pedalangan Semarang, tahun (1990). Kini acapkali mementaskan monolog di beberapa kota di Indonesia. Menulis syair lagu untuk kelompok musik terapi jiwa Jayagatra Ungaran pada tahun 2000 sampai sekarang. Sering kali diundang sebagai juri atau pembicara dalam kompetisi dan diskusi-diskusi sastra, teater, maupun seni rupa.
Naskah drama yang dihasilkannya antara lain, Martoloyo Martopuro, Ronggeng Keramat, Menunggu Tuyul, Gerbong, Sang Koruptor, Langit Berkarat, Rumah Tak Berpintu, Palu Waktu, Surat dari Tanah Kelahiran, Meniti Buih, dan lain-lain.(ars)
|