Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
Seni-Budaya1 Komentar  |  897 Pembaca

HAMPIR PUNAH, KELOM & PAYUNG GEULIS
Ditulis Oleh :mirna wijayati, Pada Tanggal : 01 - 04 - 2011 | 23:01:14

Di kawasan Jawa Tengah dan sekitar Yogya, kelom disebut teklek. Di kawasan Pasundan dinamakan kelom. Bahannya sama, sekeping kayu sebagai alas kaki dan selembar karet kecil, yang biasanya terbuat dari bahan bekas ban sepeda, melintang sebagai penahan kaki.

Rupa dan bentuk teklek natural, polos, tidak keren, sederhana karena orang lebih memilih segi fungsionalnya ketimbang penampilannya. Nah, kalau kelom geulis, bentuknya lebih aksi, dihiasi beragam corak gambar yang bermotif flora seperti sulur-suluran, bunga, daun, dengan tampilan yang cantik, dalam bahasa Sunda geulis.

Sebetulnya. asal mula nama kelom, dikutip dari bahasa Belanda, klom, jamaknya klompen, bahannya juga dari kayu berbentuk sepatu dan banyak dicat warna kuning dengan hiasan ornamentik. Di Indonesia, kelom geulis merupakan kerajinan rakyat yang berkembang di Tasikmalaya, menyebar di beberapa desa seperti Desa Setiamulya, Mulyasari, Kersanegara, Sukahurip, Sumelap, Linggarjaya, Mangkubumi dan Gobras. Omsetnya lumayan kecil dibanding kerajinan lain yang tumbuh subur yaitu kerajinan bordir.

Payung Geulis

Nasib payung geulis lebih mengkhawatirkan ketimbang eksistensi kelom. Hanya tersisa 37 orang pekerja payung jenis ini dengan omset hanya ratusan ribu per tahun. Payung geulis nyaris punah dari peradaban. Untuk itulah Bentara Budaya Jakarta memilih menampilkan dua seni kerajinan ini,untuk dipamerkan kepada masyarakat luas, mengingat status dan nasib masa depannya yang mulai diabaikan, tanpa pesanan, tiada pasar akhirnya bakal punah.

Riwayat kelom dan payung geulis adalah sejarah kita bersama dan pameran ini bertujuan mengangkat kembali harkat dan eksistensinya di tengah perubahan zaman yang menggilas kehidupan seni kerakyatan yang kian termarjinalkan. (mirna wijayati)

                                          -------------------------

PAMERAN"KELOM & PAYUNG" GEULIS OLEH BENTARA BUDAYA JAKARTA

Pameran akan diresmikan oleh Dr. Dewi Motik Pramono, M.Si. 

Selasa, 5 April 2011, pukul 19.30 – Di: Bentara Budaya, Jakarta

Pameran untuk umum : 6 – 10 April 2011 pukul 10.00 – 18.00 wib 
                                        ------------------------

Workshop Melukis di atas Payung Geulis Sabtu, 9 April 2011

pukul 10.00 – 12.00 wib (sesi 1) dan pukul 14.00 –16.00 (sesi 2)

Biaya  : Rp.120.000,-  (Payung, snack, peralatan melukis dan instruktur)

                                       ----------------------------


KOMENTAR

1 Komentar

bachtiar
Tanggal 04 - 03 - 2012
wah, sayang sekali eventnya sdh lama lewat, sering-seringlah diselenggarakan, suatu warisan budaya bernilai seni indah yg harus dilestarikan, jgn sampai punah. mhn diinfokan ya, jika ada event ini lg...thx.

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter