Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
Seni-Budaya4 Komentar  |  732 Pembaca

HEBOH DKJT, BS SANTAI
Ditulis Oleh :kunarto, Pada Tanggal : 10 - 04 - 2011 | 09:41:12

“Saya siap berhenti kapan saja,” tutur Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) DR H. Bambang Sadono,SH,MH ketika diwawancara wartawan Obyektif Cyber Magazine Kunarto, di rumahnya baru-baru ini. Hal itu menanggapi hebohnya pembicaraan tentang sejumlah seniman yang menghendaki pergantian di kepengurusan DKJT, akhir-akhir ini. BS, demikian panggilan akrabnya, terlihat santai di tempat tinggalnya yang teduh di Perumahan Graha Padma, Semarang.

Menurut rencana, pertengahan bulan April – Mei mendatang ini akan dilaksanakan Musda DKJT yang akan dihadiri kepengurusan Dewan Kesenian Kota/Kabupaten se-Jateng. Dalam kegiatan itu, salah satu agendanya, tentu saja, meminta pertanggungjawaban kepengurusan lama dan memilih kepengurusan baru untuk periode berikutnya.

Oleh karena itu ada harapan-harapan, usulan-usulan, ide, gagasan dari para seniman agar ke depannya DKJT bisa lebih baik lagi. Misalnya Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Marco Manardi, kepada Obyektif mengatakan, harus ada penyegaran di kepengurusan DKJT. “Sebaiknya menggunakan seniman-seniman muda, yang tahu organisasi, energik, dan penuh semangat. Kalau yang angkatan tua kan sudah loyo dan kendur,,hehehe….,” katanya di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang yang menjadi markasnya.

Dekase pimpinan Marco, beranggotakan sekitar 40 seniman. Lebih lanjut ia menuturkan, pergantian kepengurusan idealnya memang melalui Musda. Setiap daerah mengirimkan wakilnya dan punya hak suara dan system pemilihannya secara langsung. Menanggapi adanya para seniman muda yang menghendaki Marco menjadi ketua, menggantikan BS, dia menjawab: “Prinsipnya saya tidak mencalonkan diri. Tetapi kalau desakan dari teman-teman menghendaki, saya siap,” tegasnya.

Beberapa saat lalu, para seniman muda dari Pantura Selatan dan beberapa daerah lain, mendatangi TBRS dan meminta kesediaan Marco untuk menjadi ketua DKJT. Di depan para seniman tersebut, dirinya mengatakan siap, bila memang itulah aspirasi mereka. Sementara itu, para seniman yang tergabung dalam Dekase, juga menyuarakan hal yang sama. Rata-rata menginginkan Marco tampil menjadi orang nomor satu di DKJT.

Rumor, kasak-kusuk, heboh pergantian Ketua DKJT memang sudah mengemuka, menjelang Musda beberapa bulan mendatang ini. Namun, menanggapi semua itu, BS yang kini juga menjabat Wakil Ketua DPRD Jateng, santai saja menanggapinya.

“Saya siap berhenti kapan saja,” katanya. “Di kesenian, orang harus siap memberi, jangan pamrih. Kalau ada teman-teman yang siap mengabdi di DKJT, silahkan, akan saya berikan,” tambahnya mengakhiri pembicaraan. (kunarto)  

                             -------------------------------

 BERTANGAN  DINGIN

Di jagad kesenian, nama BS, bukan orang yang baru kemarin sore. Boleh dikatakan jam terbangnya cukup tinggi. Lelaki kelahiran Blora, Jawa Tengah, 55 tahun lalu ini, sudah lama malang melintang di dunia kesenian Jateng. Dia yang lebih senang disebut “Pekerja Keras dari Blora” ini, bermula meniti kariernya sebagai pegawai Dinas Pekerjaan Umum (DPU) di Tegal, selepas lulus SMA.

Namun menjadi pegawai negeri bukan cita-citanya. Hanya sekedar numpang lewat, dia pun lebih senang berkecimpung dalam dunia kesenian, khususnya sastra. Menulis puisi, cerpen, dan artikel mulai dijalankan. Dari situ bakatnya mulai menonjol. Tidak hanya dalam bahasa Indonesia, dia juga ikut dalam komunitas sastrawan Jawa. Dari dunia seni sastra ini, mengantarkannya menjadi wartawan Suara Merdeka Semarang. Ia pun pindah dari Tegal ke Semarang.

BS termasuk orang cerdas dan pandai bergaul. Disamping itu, bakat kepemimpinannya juga menonjol. Tak heran, di Suara Merdeka pun, secara perlahan tetapi pasti, bisa menduduki orang nomor satu di kerekdasian sebagai Pemimpin Redaksi. Di kesenian dia bersama teman-temannya, Setyo Yuwono Sudikan, Mukti Sutarman Sp, Pamudji MS (almarhum), Handry TM, Anggoro Suprapto, dan lain-lain, pada era tahun 80 - 90’an, mendirikan Keluarga Penulis Semarang (KPS) dan dia menjadi ketuanya, yang melahirkan banyak sastrawan pada waktu itu.

Di dunia kepenulisan, namanya terus berkibar, karena dipercaya mengasuh rubrik sastra budaya Minggu Ini-nya Suara Merdeka, dan sebagai ajang kreativitas para sastrawan. Lalu menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng, Ketua Ikatan Penulis KB (IPKB) Jateng dan kemudian ketua di tingkat pusat. Hasil karyanya berupa kumpulan puisi, cerpen dan esai banyak diterbitkan.

Namun setelah sukses di dunia sastra-budaya, dia melakukan lompatan karier, terjun di dunia politik. Dimulai sebagai Ketua Golkar Jateng, anggota DPR-RI, Ketua IPKB Pusat, Sekjen PWI pusat, dan pernah mencalonkan Gubernur Jateng, namun tidak berhasil. Sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Jateng dan Ketua DKJT.

Hidup mapan di Semarang, beristrikan Restu Lanjari, dosen Unes, dengan putra-putri serta cucunya. BS memang terkenal bertangan dingin saat menangani organisasi kesenian dan wartawan. Meraih kesuksesan demi kesuksesan, dan masyarakat memang mengakuinya. Cita-citanya sangat sederhana. Ingin pensiun, punya rumah di yang di belakangnya ada sawahnya yang luas, dan ingin hidup tenang sebagai petani. Tidak terlalu berlebih-lebihan bukan? (kunarto)

                             -------------------------

SAYEMBARA NOVEL DKJT

DKJT akan mengadakan Sayembara Penulisan Novel 2011. Sayembara ini merupakan program Komite Sastra DKJT tahun ini dan diharapkan bisa menjadi rangsangan bagi kreativitas pengarang Jawa Tengah dalam penulisan novel. Ketua Komite Sastra DKJT, Mukti Sutarman mengatakan, melalui lomba ini DKJT berharap agar novel-novel terbaik lahir dari para pengarang Jateng, baik yang telah punya nama maupun pemula.

"Adapun syaratnya antara lain, peserta warga negara Indonesia yang tinggal di Jateng dan dibuktikan dengan foto kopi KTP. Selain itu naskah belum pernah dipublikasikan dan tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa," kata Mukti yang juga Ketua Panitia Pelaksana.

Mukti mengatakan, naskah agar ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik. Karya asli, bukan saduran, bukan pula jiplakan. Panjang naskah minimal 100 halaman kuarto, 1,5 spasi, times new roman 12 point.  "Sedangkan tema bebas, namun diharapkan yang berkaitan dengan pendidikan karakter bangsa," tambahnya.

Peserta, lanjut Mukti, diharapkan menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah. Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim kepada Panitia Sayembara Menulis Novel DKJT 2011, PKJT, Kompleks Puri Maerakaca, Tawang Mas, Semarang.

"Batas akhir pengiriman naskah 5 Mei 2011 (cap pos atau diantar langsung)," katanya seraya menambahkan, untuk sayembara ini disediakan hadiah Rp 7,5 juta untuk pemenang pertama, Rp 5 juta untuk pemenang kedua, dan Rp 2,5 juta untuk pemenang ketiga. Sedangkan untuk tiga pemenang harapan masing-masing mendapatkan Rp 1,5 juta.

"Naskah lomba akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Yudiono KS, Triyanto Triwikromo, dan S Prasetyo Utomo. Sayembara ini tertutup bagi pengurus DKJT," tandasnya. (Gunoto Sapari, Sekretaris DKJT)

 

 

 

 

 


KOMENTAR

4 Komentar

Eko Tunas
Tanggal 11 - 04 - 2011
Kesalahan DKJT Bambang Sadono (BS) telah menghapus satu ketentuan "ketua/pengurus dkjt tidak boleh dari parpol", ini tindakan non-institusional. pada kenyataannya kepengurusan DKJT-BS dipenuhi orang2 Golkar, sehingga secara institusi DKJT 'underbow'
M. Enthieh Mudakir
Tanggal 22 - 04 - 2011
Kenyataan di era sekarang, orang-orang seperti Bambang Sadono (BS), hendaknya legowo utk menyerahkan jabatan DKJT. Dia, sudah tidak lagi layak menyandang seniman, apalagi interesan thd kesenian juga semakin menghilang sejak BS menjadi orang penting s
wahyu H.
Tanggal 02 - 06 - 2011
Waku juga yang akan menguji semuanya....Kita lihat saja
Putut
Tanggal 11 - 01 - 2012
mohon dikasih alamat lengkap kantor DKJT, kalau ada.

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter