Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
Seni-Budaya8 Komentar  |  3628 Pembaca

SAJAK-SAJAK: ANGGORO SUPRAPTO
Ditulis Oleh :ars, Pada Tanggal : 28 - 04 - 2011 | 16:25:37

PERJALANAN

                                                         Sajak bagi: Anggi

Katamu, perjalanan panjang mesti dilanjutkan

Hadapi medan luas tanpa tepi tanpa hamparan

“Inilah kasunyatan,” gumammu memantulkan wening

Pancarkan bening semburatkan hening

Lalu, kesesiapakah jejak mesti ditinggalkan?

Kulihat mripatmu berkaca-kaca

Jalanan begitu ngelangut, sunyi. Sepo sepah sepi.

Namun

Serumit apapun janganlah berhenti, gumammu

Bukankah sudah  berjuta jejak terengah tlah kita lalui?

 

Baiklah, kita trus melangkah  gapai  tujuan

O, hidup ini milik siapakah?

Semua berbaur menghambur berserakan

Seperti semasih awal-awal meniti kehidupan

Seperti  semasih api menyala di dalam dada

Semasih semangat muda membara trus nyala

 

Kini, usiaku tidak muda lagi. Dan kau, tetap tersenyum

Bisikan kata-kata di telingaku. Lanjutkan,desahmu pelan

Ya, aku mesti  bergegas. Kumpulkan sisa-sisa kekuatan

Satukan semangat trus melangkah gapai semua impian

Tidak ada kata lelah tidak ada kata menyerah

Bukankah kau dan aku satu tujuan?

 

Katamu, perjalanan panjang mesti dilanjutkan

Samar, samun, berujung kabut memudar berpendaran

Kota demi kota terbaring lelah mencacat jejak kita

Dengan gagah kumelangkah. Sesekali teriak lantang

 Gusti, menangkan aku dalam pertarungan kehidupan

 

                                                             Semarang, 2009

                        -------------------------

 

SUDAH LAMA KITA TERJAGA

 

Sudah lama kita terjaga

Sejak orang-orang asing meletakkan senjata

Di depan anak-anak dan sesepuh kita

Sudah lama kita tertidur panjang

Lelap dalam mimpi indah berkepanjangan

Lupa mengisi kemerdekaan negeri

Saling cakar saling sikut saling sibuk mengais rejeki

Lalu, negeri ini milik siapakah?

 

Hari ini

Ketika ratusan juta mulut lapar menganga

Ratusan juta tangan terkepal mencakar udara

Sesak nafas sesak dada sesak harapan rakyat

Memendam berjuta makna

O, Sang Ratu Adil yang tersebut Satria Piningit

Sudah terlalu lama sembunyi  lelap bertapa

Bangunlah

Rakyat negeri Nusantara butuhkan dirimu

Butuhkan pemimpin yang senyap dalam karya

Berpihak pada rakyat tanpa kompromi tapi nyata

 

Ingatlah,sudah lama kita terjaga

Sejak puluhan tahun silam lelahkan raga

Sudah terlalu lama ketika harapan nyaris sirna

Segera mangejowantah-lah di negeri tercinta

 

                                                        Semarang, 2009

                         ---------------------------

 

SIAPAKAH SELALU MENYEBUT ASMAMU?

 

Begitulah

Ketika mendengar gema Allahuakbar

Aku jatuh tersungkur

Denyut nadi terhenti detak jam di dinding mati

Siapakah yang selalu menyebut-nyebut asmaMu?

Membuat gemetar jiwaku gemeretak gigiku

Kubisikkan berkali-kali  ya Rahman ya Rahim

Aku mencair dalam pusaran waktu

Tenggelam dalam genggaman indahnya zatMu

 

Begitulah

Sang waktu pun terus berjalan

Menggerambyang menggumamkan zikir berkepanjangan

Siapakah selarut malam masih mengalunkan wiridan?

Bercucuran air mata kumandangkan rintihan jiwa

Bersujud di atas sajadah tenggelamkan diri

Komat-kamit sebut  asmaMu berkali-kali

Gusti Allah, desismu, Engkaulah Sang Maha Abadi

Ketika  jiwaku galau bolehkah berteduh di bayangMu?   

 

                                                                Semarang, 2010

                               -------------------------

 

 

 

 

 


KOMENTAR

8 Komentar

Daniswari
Tanggal 28 - 04 - 2011
Waduh, Bos-e mulai nulis puisi lagi. Hayo, biasanya, orang yang mulai nulis puisi, sedang jatuh cinta loh...xixixixi...
mukti sutarman espe
Tanggal 30 - 04 - 2011
Pak Ang, puisinya kok masih seperti sekian puluh yang lalu ya. Apakah memang begitulah gaya ucap penjenengan. Maju tak gentar, pak.
Sigid Pramono, Yogya
Tanggal 20 - 05 - 2011
Puisinya bagus Pak. Sudah lama saya tidak membaca puisi Anda, di media massa. Ternyata masih setia menulis puisi ya? Salam untuk Mas Timur, Handry, dan lain-lain di Semarang. Kapan teman-teman Semarang baca puisi di Yogya?
Sumarni Suseno
Tanggal 28 - 05 - 2011
Saya senang, Obyektif menampilkan puisi. Saya seorang guru sastra SMA di Palembang, apakah boleh mengirim puisi? Caranya bagaimana? Bisa dimuat fotonya jugakah? Kalau para siswa SMA juga mengirim puisi, apa bisa? Maaf, banyak pertanyaan pada Redaksi. Jawaban saya tunggu di email saya. Terima kasih.
Suprabuningsih, Surabaya
Tanggal 06 - 06 - 2011
Ketika jiwaku galau, bolehkah berteduh di bayangMu? ....Kalimat terakhir sajak di atas, menyentuh aku Pak.Memang kalau risau dalam hidup, paling tentram, pasrah pada Allah SAW. Itulah yang selalu kulakukan. Salam.
Bandriyo Hade, Semarang
Tanggal 07 - 07 - 2011
Ang, setelah kita semua jadi semakin tua, aku baru sadar, ada kegelisahan tersendiri. Hal itu mengemuka setelah membaca sajakmu: Perjalanan. Ketika tubuh melemah karena digerogoti usia, kecerdasan menurun, saya akui membimbing anak-anak agar jadi "orang" memang merisaukan. Seperti tersirat dari sajakmu itu. Salam untuk keluarga.
Muh Sunarso, Sisemut-Ungaran
Tanggal 04 - 08 - 2011
Usul, kalau bisa sajak-sajak penyair lain juga bisa dimuat.....
Bambang Suprayitno, Cah Solo
Tanggal 04 - 08 - 2011
Menarik untuk dikaji. Mau tanya, apakah ada komunitas sastra yang rutin mengadakan kegiatan? Khususnya diskusi sastra secara rutin.Aku mau gabung.

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter