WAYANG GUS DUR Ditulis Oleh :Dwi NR, Pada Tanggal : 01 - 09 - 2011 | 09:39:33
 BERITA TERKAIT Sosok Abdurachman Wachid, yang juga mantan Presiden RI, merupakan tokoh yang sangat dihormati dan disegani di tanah air. Meski sudah tiada, tetapi figur dan namanya tetap abadi “tertanam” di hati generasi muda. Gus Dur, demikian panggilan akrabnya, tetap diidolakan bahkan dijadikan wayang, dan juga dimainkan di layar pakeliran.
Memang wayang seringkali dianggap sesuatu yang membosankan dan kuno. Namun sesungguhnya, wayang sarat filosofi, dan dapat dikembangkan menjadi media yang efektif. Dalam perjalanannya, wayang yang tadinya dibuat dari kulit sapi, di kota-kota besar, dikembangkan lagi dengan bahan yang lebih sederhana, dan mudah didapat. Misalnya wayang dari bahan kardus bekas.
Bertolak dari pemikiran seperti itulah, seroang pemuda dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, bernama Agus Koplak, membuat wayang kardus Gus Dur. Tidak hanya membuat saja, tetapi ia juga bertindak sebagai dalangnya. Wayang nyleneh dan dinilai masyarakat agak aneh ini, dipentaskan dalam Diskusi Malam Pitulasan di Desa Babadan, Patebon, Kendal baru-baru ini. Kegiatan diselenggarakan oleh Komunitas Gus Durian bekerja sama dengan Komunitas Kantung-kantung Budaya Kabupaten Kendal (K3BK).
Ternyata sambutan masyarakat cukup meriah. Apalagi nama Gus Dur sudah sangat dikenal oleh kalangan masyarakat, baik tua mupun muda. Bahkan anak-anak SD saja sudah tahu siapa Gus Dur. Wayang memang dimainkan cukup apik oleh Ki Dalang Agus Koplak. Diselingi dialog serius maupun banyolan. Gamelan pengiringnya, bukan gamelan pengiring wayang pada umumnya, tetapi sudah diganti dengan iringan musik rebana. Penonton kadang senyum, tertawa, atau bertepuk tangan mengikuti adegan wayang Gus Dur.
Seusai pentas, Agus Koplak kepada wartawan mengatakan, wayang Gus Dur adalah wayang kontemporer yang melibatkan banyak pihak, terutama para peserta diskusi. “Oleh karena itu, cerita yang saya sampaikan, harus terkait dengan thema diskusi yang sedang berlangsung. Jadi saya harus belajar dan banyak membaca, sebelum pentas,” katanya berterus terang.
Hari itu, wayang Gus Dur terlibat dalam diskusi yang mengambil thema, Hilangkan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) sekolah. Menghadirkan nara sumber Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Kendal, Budiyono, dan diikuti oleh puluhan remaja perwakilan beberapa komunitas. Karena themanya memang sedang aktual, pentas wayang dan sekaligus diskusi itupun jadi gayeng.
Sementara itu, menurut Ketua Komunitas Gus Durian, Atfal, “diskusi pitulasan” digelar sebulan sekali. Thema yang diambil adalah persoalan-persoalan yang lagi ramai dibicarakan oleh masyarakat seperti kasus SPI, dan lain-lain. “Pokoknya, topik diskusi membahas hal-hal yang sedang aktual dan hangat dibicarakan di masyarakat, sehingga bisa diperoleh masukan-masukan dari semua peserta diskusi dan kemudian bisa ditarik kesimpulan. Hasil dari diskusi, akan dirangkum dan diberikan kepada Bupati, Ketua DPRD, dinas terkait dan pers, untuk ditindaklanjuti,” kata Atfal menutup pembicaraan. (Dwi NR)
------------------------------------------------
|