WAYANG KAMPUNG SEBELAH Ditulis Oleh :Mirna Wijayati, Bentara Budaya Jakarta, Pada Tanggal : 16 - 09 - 2011 | 01:50:51
 BERITA TERKAIT
Berbagai barang kerajinan rakyat maupun jenis seni yang khas bakal memeriahkan Festival Rakyat dan Pentas Wayang Kampung Sebelah. Diselenggarakan untuk merayakan HUT ke-80 Pimpinan Kompas Gramedia, Jakob Oetama. Materi untuk kegiatan pameran dan pasar seni ini, didatangkan dari berbagai daerah.
Sebutlah misalnya keramik dari Pejaten Bali, gerabah Pagerjurang Klaten Jawa Tengah dan Kasongan Yogyakarta. Sedangkan batik dari Garut, Tasikmalaya, Indramayu, dan Gresik Jawa Timur. Lukisan kaca dari Cirebon. Kelom geulis dan payung dari Tasikmalaya. Celengan Malo dari Bojonegoro. Topeng kayu dari Indramayu.
Menurut salah seorang Panitia, Mirna Wijayati, para perajin dan senimannya adalah mereka yang sudah pernah berpameran dan menggelar karyanya di Bentara Budaya Jakarta. Pada hari pertama festival kamis, 29 September 2011 pukul 19.00 bakal digelar sebuah pertunjukan yang juga bersifat merakyat, yaitu berupa pementasan wayang kulit masa kini oleh kelompok Wayang Kampung Sebelah dari Solo.
Ini genre wayang yang baru berdasar cerita rakyat di dalam kehidupan kontemporer kita sekarang ini. Boneka-boneka dibuat dari kulit, berbentuk sosok-sosok manusia modern mencerminkan tokoh-tokoh nyata di dalam kehidupan sehari-hari seperti penarik becak, bakul jamu, preman, pelacur, Pak RT, Pak lurah, sampai pejabat tinggi tingkat pemerintah kota.
Pagelaran wayang baru ini biasanya penuh dengan sindiran dan kritik yang tajam terhadap berbagai penyimpangan atau kebobrokan oleh para elit yang menyengsarakan warga. Semua itu dikemas di dalam berbagai adegan yang penuh humor sehingga suasana pertunjukan menjadi segar. Musik digarap secara baru, dirancang oleh Yayat yang juga memainkan jimbe, dengan ansambel berisi perkusi, bas, saxophone, flute, gitar, dan kendang. Naskah, sutradara, dan dalang adalah Jlitheng Suparman, yang juga seorang dalang wayang kulit.
Festival Rakyat & Pentas Wayang Kampung Sebelah
Tempat: Bentara Budaya Jakarta
Hari: Rabu, 28 September 2011 pukul 19.30 wib
Festival Kerajinan : 29 September – 2 Oktober 2011 pukul 10.00 – 19.00 wib
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
PEMUTARAN FILM JANE CAMPION
Film The Piano (1993) menghantar Jane Campion, sutradara Australia kelahiran Selandia Baru menjadi perempuan pertama di dunia yang memenangkan penghargaan Palme D’Or untuk film cerita panjang di Festival Film Cannes. Untuk film itu ia dinominasikan untuk Oscar kategori Sutradara Terbaik dan penulis screenplay orisinal terbaik, namun ia hanya memperoleh yang terakhir.
Bentara Budaya Jakarta (BBJ) akan memutar secara retrospektif enam film karya Jane Campion pada tanggal 22-23 September 2011. Jane Campion dianggap sebagai sutradara feminis yang banyak mengisahkan kehidupan perempuan dan seksualitas mereka. Jane Campion dilahirkan di Wellington, 30 April 1954. Lulus sebagai sarjana antropologi di Victoria University of Wellington tahun 1975 dan sarjana seni rupa dari Sydney College of Arts tahun 1979.
Awal 1980an ia studi lagi di Australian School of Film and Television. Film pendeknya, Peel (1982) meraih Palme D’Or di Festival Film Cannes tahun 1986. Ia masih membuat beberapa film pendek lain dan film untuk televisi yang meraih penghargaan di Australia maupun internasional.
Film cerita panjang pertama karya Campion adalah Sweetie (1989, 97 menit), mengeksplorasi kehidupan dua orang kakak adik perempuan pada usia 20an tahun, orangtua mereka, dan kegagalan keluarga. Film ini memperoleh beberapa penghargaan di Australia dan internasional. Film keduanya, An Angel at My Table (1990) juga memperoleh banyak pujian dan tujuh penghargaan di berbagai festival film internasional.
Film The Piano (1993, 121 menit) makin mengukuhkan kualitas Campion sebagai sutradara papan atas. Mengisahkan seorang perempuan bisu dan anak perempuannya dan sebuah piano dikirim ke Selandia Baru pada tahun 1850an untuk perkawinan dengan seorang tuan tanah kaya, yang berujung pada percintaan perempuan tadi dengan seorang pekerja perkebunan.
Dibintangi oleh Holly Hunter, Harvey Keitel, Anna Paquin,dan Sam Neill.Anna Paquin membuat kejutan sebagai bintang cilik karena ia memperoleh Oscar. Tiga film Jane Campion berikutnya tergolong berani dan mengeksplorasi seksualitas perempuan. Film The Portrait of a Lady (1994, 144 menit), yang dibintangi Nicole Kidman, John Malkovich, dan Barbara Hershey menampilkan perjalanan dan kehidupan seorang perempuan kaya Amerika ke Eropa.
Holy Smoke (1999, 115 menit), dibintangi oleh Kate Winslet dan Harvey Keitel, mengisahkan perjalanan pencarian diri seorang gadis muda dan cantik Australia ke India. Sedang film In the Cut (2003, 119 menit) yang dibintangi Meg Ryan, Mark Ruffalo, dan Jennifer Jason Leigh mengangkat kisah seorang guru besar sastra di New York yang menjalin kisah cinta erotik dengan seorang detektif polisi yang sedang menyelidiki pembunuhan seorang perempuan muda.
Film terakhir Jane Campion, Bright Star (2009, 119 menit), sebuah film biografi dan roman nan lembut yang menuturkan kisah cinta penyair John Keats dam Fanny Brawne yang berakhir singkat dengan kematian Keats pada usia 25 tahun. Film ini dinominasikan untuk Palme D’Or di Festival Film Cannes dan berbagai festival film lainnya. Film-film Campion akan diulas oleh pengamat perfilman Rayya Makarim.
Tempat: Bentara Budaya Jakarta
Waktu: Kamis, 22 September 201, Jam 14.30 Sweetie, Jam 16.30 The Piano, Jam 18.30 Diskusi bersama Rayya Makarim, Jam 19.30 The Portrait of a Lady. Jumat, 23 September 2011, Jam 15.00 Holy Smoke, Jam 17.00 In the Cut, Jam 19.30 Bright Star
---------------------------------------------------------------------
SHORT FILM SCREENWRITING WORKSHOP
(Bersama Edward Gunawan)
Pengen menulis skenario film pendek? Punya ide tapi tidak tahu bagaimana mengembangkannya? Baik penulis pemula ataupun veteran, mari bergabung dengan penulis dan filmmaker Edward Gunawan dalam workshop intensif ini untuk mengeksplorasi proses penulisan skenario film dan memancing inspirasi.
Selain itu juga bisa nonton bareng film-film pendek dan ngobrol tentang basic screenwriting, para peserta juga akan mengerjakan writing exercises untuk memulai proses kreatifitas sendiri. Mari kita berkarya!
Edward Gunawan adalah seorang penulis dan filmmaker. Karya-karya film pendeknya berhasil meraih sejumlah penghargaan dan distribusi internasional. Sebagai seorang penulis, dia memulai kariernya menulis naskah monolog teater di bawah bimbingan tokoh performance artist veteran Dan Kwong dan Tim Miller dan naskah drama teater.
Ditahun 2008, setelah menyelesaikan filmmaking workshop di Film Independent’s Project: Involve (Los Angeles, Amerika Serikat) dengan pemenang Academy Award Chris Tashima sebagai mentornya, ia merampungkan debut penyutradaraannya dengan “Laundromat,” sebuah film pendek berpenghargaan yang ia tulis sendiri.
"Nona Indonesia," naskah film yang ia garap dengan Lucky Kuswandi, dipilih sebagai Best Project di Feature Screenplay Development Competition pada JiFFest 2008 dan "Payung Merah," sebuah film pendek yang ia tulis dan co-direct dengan Andri Cung, baru saja meraih penghargaan Best Asian Short Film Awards di ajang Screen Singapore. www.edwardgunawan.com
Tempat: Ruang Bentara Muda (Khusus Pelajar dan Mahasiswa). Waktu: Sabtu, 17 September 2011 pukul 10.00 – 13.00 wib.
---------------------------------------------------------------
MENGGALI KREATIVITAS DALAM FOTOGRAFI
(Bersama Arbain Rambey)
Insinyur sipil lulusan ITB ini memilih fotografi sebagai jalan hidup. Menjadi wartawan harian KOMPAS sejak 1989, Arbain mendedikasikan kepiawaiannya tak hanya bagi tempatnya bekerja, melainkan juga bagi perkembangan dunia fotografi Indonesia.
Tempat: Bentara Budaya Jakarta. Waktu: Sabtu, 24 September 2011 Jam:10.00 – 13.00 wib
Info & Reservasi Kegiatan Bentara Muda :
Dini – 0898 811 3595
Diyan – 0821 220 75688
Puput – 0899 970 0249
Tiwi - 0856 88 27884
-----------------------------------------------------
|