Beranda Sastra Budaya Sulis Bambang & 80 Tahun NH Dini

Sulis Bambang & 80 Tahun NH Dini

81
0
BERBAGI

Kehidupan seni budaya di Semarang, khususnya bidang sastra tak akan mati. Padahal jauh sebelumnya dikhawatirkan, Semarang akan gersang seni. Lain dengan Kota Solo atau Yogyakarta, yang dianggap selalu bergairah dengan seni. Tapi, nanti dulu Bung. Sekarang, kalangan seniman di Kota Lunpia ini jadi optimis, seni budaya di kota ini akan berkembang pesat. Indikatornya sangat mudah. Lihatlah sepak terjang Bu Sulis Bambang yang ngedap-edapi. Wanita manis bertubuh besar ini, begitu lincah mengadakan berbagai event kesenian terus menerus. Saya pun terperangah, tidak bisa berkata apapun. Memangnya bisu, hehehe…..

Bu Sulis Bambang bersama para pendekar seni yang lain seperti sebutlah Mas Driya Widyana, Mas Artvelo Sugiarto, Mbak Fransiska Ambar Kristiani, Mas Harpa Sastra, Pak Imam Subagyo, dan nama-nama yang tidak dapat saya sebut satu persatu di sini, terus bergerak. Akhirnya, roda berkesenian di Semarang pun mulai menggelinding pelan-pelan. Ada Kumandang Sastra, ada Sedekah Budaya, dan masih banyak yang lain lagi, yang semuanya dimotori Bu Sulis Bambang. Tentu saja ada kelompok lain juga yang ikut meramaikan nafas berkesenian kota Semarang. Sebutlah Mas Teha Edy Djohar dan kawan-kawan, dengan Komunitas Kaligawe-nya. Ada Lagi Mas Wardjito Soeharso Cs, bersama Mas Heru Mugiharso dan teman-teman muda dengan Buletin Sastra Kanal. Ada Adin Hyseria, dengan gang-nya, yang juga terus main, main terus. Serta kelompok-kelompok lain yang membuat heboh seni budaya di kota ini. Istilahnya “geger genjik”, Man, hehehe……..

Hingga pada akhirnya beberapa hari lalu aku mendapatkan undangan dari Bu Sulis Bambang, untuk ikut nrambul “Pertemuan Dua Hati – 80 Tahun NH Dini”, yang direncanakan berlangsung Senin pagi ini. Tentu saja fokusnya ada pada Bu NH Dini, novelis kondang itu. Pertemuanku dengan NH Dini bukan hal baru lagi. Sekitar awal-awal tahun 2000, ketika secara rutin aku menyelenggarakan pertemuan “Silaturahmi  Sastra” di Joglo Alit di rumahku, di Semarang Indah, Bu NH Dini selalu memberikan  tausiyahnya. Aku masih ingat, jika beliau mau hadir, akan menelponku untuk menjemput di rumahnya, di Pondok Baca Perumahan Ngaliyan, dan dengan senang hati aku melaksanakan tugas itu. Pertemuan Silaturahmi Sastra itu, seperti Bu Sulis Bambang, aku selalu menjadi motornya. Biasanya dihadiri tokoh-tokoh sastra Semarang seperti Prof Dr Nurdien HK, Drs Yudiono KS, Prof Eko Budihardjo Msi, Drs Darmanto Yatman, Bolo Soetiman (ayah Pak Timur Sinar Suprabana), dan rekan-rekan sastrawan muda lainnya. Waktu itu aku masuk golongan “masih” muda, hehehe…..

Sejak itu, aku juga ikut mendampingi Bu NH Dini ketika berceramah di Gedung GOR Simpang Lima Semarang. Aku bangga, karena dimuat di Harian Kompas halaman pertama dengan foto beliau dan aku, dengan caption menyebut namaku sebagai pengarang muda. Namun seiring berjalannya waktu, tiba-tiba Bu NH Dini menghilang. Tahu-tahu sudah pindah ke sebuah kompleks perumahan di Yogya. Ketika ada kesempatan, aku pernah menjenguk beliau di Yogya, sekali, diantar adikku Nunung, karena aku tidak hafal kota Yogyakarta. Pulangnya, adikku diberikan tanaman bunga langka yang ditanam di pekarang rumahnya. Sejak itu, lama aku tidak mendengar namanya, sampai suatu hari aku dapat kabar dari teman sastrawan di Ungaran, yang mengatakan beliau sekarang tinggal di Nglerep, Ungaran. Aku memang belum pernah menengoknya, takut kalau dia pangling dan sudah melupakan aku yang hanya selintasan, hadir dalam perjalanan hidupnya di Semarang, hehehe….

Bu NH Dini dengan kesederhanaannya memang sosok yang menarik. Sejak muda sudah mengembara ke Perancis, ikut suaminya. Sejak itu dia sangat produktif dengan novel-novelnya: Pada Sebuah Kapal, La Barka, Namaku Hiroko, Tirai Menurun, Sekayu, dan lain-lain. Dia memang asli Semarang, maka ketika dia peindah dari kota Semarang, ada pepatah yang mengatakan, setinggi-tinggi bangau terbang, akan kembali ke kubangan juga. Nah, itulah NH Dini, kini sudah ada di Semarang lagi. Yang selalu kuingat dari beliau adalah rasa khawatirnya yang besar, akan usianya, takut kalau tiba-tiba harus “pergi”, padahal tugasnya menulis masih banyak. Namun, alam berkata lain. Setelah hampir 18 tahun aku tidak ketemu, tiba-tiba dapat undangan ikut mangayubagyo “80 tahun NH Dini”. Suatu kehormatan bagiku dan dalam kesempatan ini kuucapkan selamat. Semoga Bu NH Dini selalu sehat, bahagia, dan panjang usia. Amin. Terima kasih yang tak terhingga juga, kepada Bu Sulis Bambang, bagiku wanita yang sungguh luar biasa, mampu menggebrak kehidupan sastra di Semarang. Okre teman-teman, salam laos, hehehe…..(Anggoro Suprapto).

——————————-

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here