Beranda Sastra Budaya Surat Sastra Buat Denny JA

Surat Sastra Buat Denny JA

42
0

JAKARTA, (Obyektif.com ) – Denny JA yang baik. Apa kabar? Semoga Anda baik-baik saja dan rahmat Allah selalu terlimpah kepada Anda. Perkenalan kita memang belum lama. Perjumpaan kita secara langsung, setelah sebelumnya lebih banyak berkomunikasi melalui media sosial, terjadi baru bulan Februari 2018, di Hotel Sultan, Jakarta. Kebetulan saat itu Tim Editor 34 Buku Puisi Esai — yang memuat kurang lebih 170 puisi esai karya 170 penyair dari 34 provinsi di Indonesia —  mengadakan rapat dan Anda memberikan pengarahan. Ketika itu kita hanya sempat berbasa-basi sebentar dan bergambar bersama.

Inikah tokoh sastra kontroversial yang menghebohkan itu? Saya hanya membatin. Mendengarkan Anda berbicara. Menatap paras dan postur tubuh Anda. Sebuah perpaduan kecendekiaan dan ketampanan. Saya menangkap semangat Anda untuk memperjuangkan puisi esai ini menjadi salah satu genre dalam kesusastraan Indonesia. Saya beruntung bertemu Anda lagi sebulan kemudian di Ubud, Bali, dan saya masih menangkap kesan yang sama: wajah petarung yang makin bersemangat untuk memperkenalkan puisi esai ke publik.

Sesungguhnya Anda bukan nama baru di kalangan intelektual Indonesia. Bukankah Anda pakar survei dan konsultan politik terkemuka sekaligus ilmuwan dan kolumnis yang telah menerbitkan banyak buku? Kebetulan di Jawa Tengah ada seorang teman yang mencalonkan diri  sebagai gubernur namun gagal. Ketika itu teman saya sempat menyebut nama Anda dan Saiful Mujani ketika berbicara tentang survei tentang pemilihan kepala daerah. Namun, beberapa tahun sebelumnya, saya sudah sering membaca tulisan-tulisan Anda di media massa.

Akan tetapi, nama Anda menggebrak publik sastra Indonesia pada awal tahun 2014 ketika dinobatkan sebagai salah seorang dari 33 tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh. Penobatan ini ditetapkan oleh komunitas sastra yang tergabung dalam Tim 8 bersama Yayasan H. B. Jassin melalui sebuah buku. Puisi esai yang Anda bidani kelahirannya telah mengantarkan Anda pada penobatan tersebut.

Akan tetapi, Denny, apakah sesungguhnya puisi esai itu? Sebuah pertanyaan yang membuat saya tertegun. Betapa tidak? Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu puisi dan esai. Tetapi sejak kurang lebih lima tahun lalu, harus diakui, puisi esai menjadi topik perbincangan dan perdebatan cukup menghebohkan di dunia sastra Indonesia.
Puisi merupakan salah satu genre sastra yang berisi ungkapan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif, diungkapkan dengan pilihan kata yang cermat dan tepat dengan mengerahkan semua kekuatan bahasa.

Karya sastra ini terikat oleh rima, ritma, atau pun jumlah baris, serta ditandai oleh bahasa yang padat. Ia  merupakan pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan. Entah itu H. B. Jassin, Matheew Arnold,  John Dryen, Thomas Chalye,  atau William Wordsworth kurang lebih berpendapat senada.

Sedangkan esai adalah karangan  atau karya tulis yang membahas suatu masalah secara sepintas dari sudut pandang pribadi penulisnya secara subjektif. Esai sebagai bentuk karangan dapat bersifat informal dan formal. Esai, menurut Arief Budiman, adalah karangan yang sedang panjangnya, yang membahas persoalan secara mudah dan sepintas lalu dalam bentuk prosa.

Kalau begitu, apakah puisi esai? Apakah ia puisi yang bercita rasa esai? Atau esai tentang isu sosial yang puitik, yang disampaikan secara puitis? Anda menunjukkan bahwa puisi esai bukan puisi yang lazim karena ada catatan kaki tentang data, panjang dan berbabak. Ia juga bukan esai yang lazim karena dituliskan dengan larik, puitik, dan lebih mengeksplor sisi batin.

Saya kira tahun 2012 merupakan tahun kelahiran puisi esai di Indonesia. Saya ingat bagaimana Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ignas Kleden memberikan ulasan penting pada sebuah buku kumpulan puisi esai Atas Nama Cinta karya Anda.  Buku kumpulan puisi tersebut bukanlah buku kumpulan biasa. Pada sampul depan buku tersebut ditonjolkan pula semacam stempel “Genre Baru Sastra Indonesia”.

Saya mengakui, Denny, bahwa puisi esai merupakan salah satu fenomena penting dalam sastra Indonesia hari ini. Hal ini terlihat dari adanya sambutan penuh antusias dari berbagai kalangan. Sejak Anda menggemakannya di paro pertama tahun 2012, harus diakui gagasan puisi esai mendapat tanggapan dan sambutan relatif luas, baik di ranah karya kreatif maupun di ranah kritik dan pemikiran sastra. Di ranah kreatif, gagasan puisi esai mendorong banyak orang, baik penyair maupun intelektual, untuk menulis puisi esai.

Bahkan terakhir, tahun 2018, kurang lebih 170 orang dari 34 provinsi di Indonesia menulis puisi esai. Mereka bukan hanya penyair, tetapi juga dosen, guru, wartawan, mahasiswa, pengacara, pegawai negeri, karyawan swasta, pengusaha, dan lain-lain. Mereka mencoba memotret suara batin dan persoalan aktual masing-masing wilayah mereka.

Di ranah pemikiran dan kritik sastra, sambutan antusias terlihat dari cukup maraknya peserta diskusi tentang puisi esai, termasuk debat pro-kontra puisi esai di Yayasan Budaya Guntur Jakarta. Acep Zamzam Noor pun menulis pengantar untuk buku puisi kategori pemenang hiburan Lomba Menulis Puisi Esai (2013).

Acep juga menjadi editor buku Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia (2013).
Buku ini menghimpun sejumlah pembicaraan tentang puisi esai. Buku ini selain membuat kita mengenal lebih jauh berbagai aspek puisi esai, baik teoretis maupun praktis, juga memperkaya pemahaman kita atas kemungkinan-kemungkinan baru dalam sastra maupun dalam mengolah persoalan-persoalan sosial di Indonesia. Gagasan puisi esai memang telah menggerakkan apresiasi, kritik,  dan pemikiran sastra Indonesia dewasa ini.

Selain itu, ada 34 akademisi dan kritikus dari masing-masing provinsi memberikan kata pengantar untuk buku Seri Puisi Esai Indonesia yang sebentar lagi terbit. Sebelumnya puluhan ulasan maupun resensi mengenai puisi esai bertebaran di sejumlah media massa. Memang, puisi esai telah menjadi konsep yang ramai dibicarakan di mana-mana, baik dengan antusias maupun skeptis.  Berangkat dari ketidakpahaman publik terhadap pesan yang disampaikan banyak puisi belakangan ini, konon menggelitik Anda untuk bereaksi. Bukankah puisi seharusnya bisa dinikmati masyarakat luas dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.

Anda pun melakukan riset terhadap dua sumber, yaitu pakar puisi dan masyarakat luas dengan menggunakan sampel. Dua sumber itu sampai pada kesimpulan dan harapan yang sama. Mereka merindukan puisi yang lebih peduli kepada publik luas, di luar dunia para penyair itu sendiri. Mereka juga rindu dengan bahasa puisi yang lebih mudah dipahami.

Untuk menjawab kesimpulan dan harapan masyarakat sebagai hasil riset yang Anda lakukan, Anda pun memperkenalkan genre baru, yaitu puisi esai. Puisi esai merupakan sebuah puisi yang sangat panjang, berbabak, dengan catatan kaki, serta bahasa yang mudah mengerti. Puisi esai mengangkat isu sosial. Puisi esai ditulis sebagai reaksi atas puisi dengan bahasa rumit, yang membuat puisi semakin terisolasi dari publik luas.

Puisi esai merupakan penggabungan antara fakta dan fiksi. Fakta itu berupa permasalahan yang berisi peristiwa-peristiwa sosial, sementara puisi merupakan sarana pengucapan fakta tesebut yang diramu sedemikian rupa untuk menyentuh hati nurani pembaca. Apa yang dikemukakan dalam puisi tersebut bukan sekadar fiksi, tetapi fakta yang didukung oleh catatan kaki. Catatan kaki menjadi sentral dalam puisi esai. Fiksi tersebut berangkat dari fakta sosial. Dalam catatan kaki itulah bisa terlihat realitas sosial secara rinci yang dieksplor ke dalam puisi esai.

Orang boleh bilang bahwa upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Ungkapan-ungkapan lugas dan tidak rumit juga dilakukan oleh Rendra dan Taufiq Ismail. Begitu membaca atau mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap.

Demikian pula apa yang disebut puisi esai. Namun, berbeda dengan puisi-puisi sosial sebelumnya, puisi esai memiliki catatan kaki. Catatan kaki inilah yang membuat puisi esai gagasan Anda layak disebut genre baru dalam sastra Indonesia. Denny, saya kira surat ini harus diakhiri sampai di sini. Malam sudah larut. Sampai jumpa lagi. Salam puisi esai. (Gunoto Saparie)

*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT)

.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here