Beranda Bisnis Online Tarif Bawah Tarif Atas Taksi Online Ditiadakan

Tarif Bawah Tarif Atas Taksi Online Ditiadakan

11
0
BERBAGI

SEMARANG, (Obyektif.com) – Akhirnya Mahkamah Konstitusi (MA) mengabulkan gugatan taksi online yang memberatkan mereka, perihal penetapan tarif bawah oleh kementerian perhubungan, di bawah tekanan Organda. Secara sederhana, peraturan ini terkesan dipaksakan. Mengapa? Karena moda transportasi online diwajibkan untuk mengikuti tarif bawah yang digunakan oleh moda transportasi umum. Buat apa tetapkan tarif bawah? Sebenarnya ini adalah potensi kebangkitan ekonomi kerakyatan. Simak ulasan selengkapnya.

Kementerian Perhubungan sudah mendapatkan salinan putusan Mahkamah Agung (MA) Indonesia dengan nomor 37P/HUM/2017 tentang Uji Materi terhadap Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: PM 26 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek. Kementerian perhubungan akan taat pada azas dalam melakukan respons atas putusan MA tersebut.

“Menetapkan. Menyatakan. Mengabulkan permohonan penarikan kembali permohonan para Pemohon,” tegas Ketua MA Arief Hidayat mengucapkan ketetapan dengan didampingi tujuh orang hakim konstitusi lainnya, baru-baru ini.

Dalam putusan tersebut, pengaturan tarif taksi online tidak digunakan lagi. Pasal yang mengatur batas bawah dan batas atas untuk taksi online secara sah dianulir oleh MA. Maka dengan demikian, tidak ada lagi peraturan mengenai tarif bawah. Jika melihat dari hal ini, maka pihak yang paling diuntungkan adalah para pengguna moda transportasi online ini. Kok bisa?

Sebelumnya kita tahu bahwa peraturan mengenai tarif bawah ini terjadi karena Organda, yakni organisasi pengusaha angkutan darat melakukan protes kepada Kemenhub karena persaingan yang dianggap tidak sehat.

Moda transportasi umum seperti taksi, mikrolet, bajaj, merasa dirugikan dengan keberadaan tarif murah angkutan umum online seperti Go-Jek, Uber, dan Grab. Ketiga perusahaan besar tersebut memiliki tarif yang jauh di bawah tarif angkutan umum konvensional, dengan kualitas yang juga jauh berada di atas angkutan umum yang dikelola atau yang berada di bawah naungan Organda, seperti Mikrolet, Taksi Konvensional, dan lain-lainnya

Bahkan sempat ada demonstrasi para supir taksi konvensional yang berujung kepada anarkisme, karena mereka merasa tersaingi oleh moda transportasi online yang jauh lebih murah, dengan kualitas yang lebih baik. Siapa warga yang tidak ingin murah dan berkualitas?

Sayangnya, para mafia di balik moda transportasi konvensional ini tidak bersaing secara sehat, melainkan malah menggerakkan massa untuk berdemo. Alhasil beberapa supir ojek maupun mobil dengan moda transportasi online, menjadi sasaran amukan para supir dengan moda transportasi konvensional.

Peperangan dua raksasa ini sepertinya tidak imbang. Kita tahu bahwa selama ini masyarakat diresahkan dengan kasus-kasus yang terjadi di angkutan umum konvensional, jauh lebih banyak dibandingkan yang terjadi di angkutan umum online. Mengapa demikian?

Setidaknya ada beberapa alasan mengapa pelanggan lebih cocok dengan moda transportasi online, ketimbang umum, di luar biaya yang murah.

Pertama, informasi mengenai supir diberikan dengan jelas oleh pengelola moda transportasi online. Para pelangganpun otomatis akan lebih memercayai supir-supir yang berbaiat kepada moda transportasi online, dibandingkan moda transportasi umum.

Kedua, berbicara tentang kepemilikan, tentu kita tahu bahwa rata-rata mitra moda transportasi online memiliki kendaraan mereka sendiri, atau setidaknya mereka pinjam dari saudara atau rental kepada perusahaan penyewaan kendaraan pribadi. Intinya, kendaraan yang digunakan adalah kendaraan pribadi. Tentu dengan demikian, perawatan dan maintenance kendaraan mereka jauh melampaui kendaraan umum.

Ketiga, para penyedia jasa layanan online memiliki database mengenai supir-supir nakal yang merugikan perusahaan. Operator sangat baik di dalam kerjasama dengan para pelanggan, khususnya untuk melayani keluhan-keluhan.

Keempat, metode pembayaran yang sangat mudah, membuat sebuah terobosan baru bagi kebudayaan warga. Mengapa? Karena pembayaran yang disediakan sangat mudah. Mereka dilayani dengan dua pilihan, cash ataupun cashless. Para pelanggan dimanjakan dengan sistem pembayaran non-tunai.

Bahkan Uber sampai berani menggunakan fitur kartu kredit. Hal ini sangat jarang ditemukan di moda transportasi konvensional. Hanya Blue Bird yang menyediakan layanan ini, dengan lebih repot, yakni menyediakan mesin EDC di armada Blue Bird mereka. Keempat alasan ini rasanya menjadi alasan utama bagi para pelanggan untuk memilih dan jatuh hati kepada jasa transportasi online.

Lantas dengan demikian, alasan keamanan, kepemilikan kendaraan, keluhan yang dijalani, dan metode pembayaran yang mudah, membuat para pelanggan lebih memilih moda transportasi online, ketimbang moda transportasi umum. Saya rasa, hanya TransJakarta yang dapat menyaingi moda transportasi online di bagian kenyamanan yang ada.

Maka dengan pencabutan tarif bawah dan tarif atas untuk moda transportasi online, tentu yang diuntungkan adalah rakyat dan pelanggan. Ekonomi kerakyatan sudah waktunya untuk muncul saat ini. Tidak ada orang-orang yang sebenarnya dirugikan, hanya saja beberapa mafia di balik moda transportasi umum yang merasa ditekan, karena mereka tidak dapat bersaing dengan sehat.

(https://seword.com/author/hans-sebastian/), Gambar: www.bintang.com

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here